Januari 2019Ruang Jiwa

4 Karakter Wajib Dimiliki di Era Milenial

Kehidupan senantiasa terus berjalan, waktu seolah berubah dengan cepat seiring pesatnya perkembangan teknologi. Berbagai akses informasi yang dulunya sulit diterima atau tidak semua orang bisa mengetahuinya, kini hal tersebut tampak lumrah saja saat banyak orang mengetahuinya bahkan jadi pembahasan dalam obrolan sehari-hari.

Meski semakin ketat persaingan yang terjadi bukan berarti diri menjadi pengikut arus laksana air sungai yang senantiasa mengalir dari hulu ke hilir. Namun sebagai makhluk yang dibekali akal dan pikiran serta hati, maka manusia juga perlu membekali diri untuk merespon atas perkembangan zaman.

Setidaknya keempat karakter diri di bawah ini yang sudah sepatutnya dimiliki oleh setiap manusia dalam mengarungi kehidupan di era millennial. Karakter tersebut, selain dapat menjadi benteng diri dalam menghadapi berbagai tantangan juga untuk pengembangan diri sehingga menjadi manusia yang dapat memberikan manfaat kepada sesama dan juga alam semesta.

Berpikir positif

Senantiasa berpikir positif merupakan karakter pertama yang harus dibangun oleh setiap manusia di tengah arus informasi yang begitu cepat dan juga persaingan global yang ketat. Bagaimana pun juga mencoba untuk senantiasa berpikir positif atas segala kejadian yang terjadi menjadi benteng pertahanan diri dari kejatuhan ke arah yang tidak baik.

Berpikir positif sama halnya dengan kita harus berprasangka baik atas segala ketetapan yang sudah digariskan oleh Sang Khalik. Sehingga atas takdir yang kita dapatkan maka jangan pernah kemudian terlontar sebuah kata-kata yang menghujat bahkan mencoba untuk menafikan keberadaan Tuhan dengan mengatakan kejam, tidak adil dan sebagainya hanya karena ada sesuatu yang tidak sesuai dengan kemauan kita.

Menerima takdir dan meyakini bahwa hal ini adalah terbaik yang diberikan oleh Tuhan akan membuat diri menjadi lebih kuat dalam menghadapi problematika hidup. Karena sejatinya berpikiran positif atas takdir yang telah terjadi juga memupuk optimisme akan masa depan yang lebih baik, sesungguhnya skenario Pemilik Alam Semesta lebih indah daripada bayangan makhluk-Nya yang memiliki keterbatasan.

Tafakur

Melakukan kajian analisis sesuai dengan bidangnya masing-masing merenung atas upaya perbaikan yang perlu dilakukan untuk dapat berbuat yang lebih baik lagi, inilah karakter diri kedua yang perlu dimiliki.

Kebiasaan bertafakur sama halnya dengan berpikir analisis terhadap situasi perkembangan strategis yang terjadi dimana kondisi yang ada memang tidak pernah sama. Era milenial ini dikenal dengan era unpredictable hidup dengan complexitiy yang begitu dahsyat, dan percepatan yang diluar kemampuan akal manusia sehingga seolah-olah teknologi lebih hebat dari akal manusia.

Sehingga rutinitas untuk bertafakur laksana melatih akal yang telah diberikan Tuhan untuk dipakai melakukan analisis dengan cermat terhadap situasi yang selalu berubah. Dengan bertafakur diharap tidak keluar langkah yang tergesa-gesa namun langkah yang sudah mempertimbangkan berbagai aspek sehingga keputusan yang dibuat menjadi tepat.

Meningkatkan kebiasaan membaca

Karakter ketiga dari relevansi kehidupan ini yang perlu dipunyai oleh setiap manusia adalah menanamkan kecintaan untuk membaca. Kemajuan teknologi yang begitu cepat jika tidak diimbangi dengan kemauan untuk membaca guna mencari informasi maka akan menyebabkan kita tertinggal. Tertinggal dari informasi, tertinggal dari perkembangan zaman hinggga tertinggal untuk maju mengapai masa depan. Maka, mari kita galakan kembali semangat literasi.

Merujuk pada informasi yang valid

Selalu berpedoman pada rujukan yang valid bukan yang hoax menjadi hal wajib. Derasnya arus informasi yang bertebaran saat ini tentu harus dibentengi dengan pengetahuan yang kokoh dari sumber terpercaya.

Kemajuan teknologi memang tidak bisa kita hindari namun tidak juga untuk menafikan nilai-nilai kebenarnan yang disampaikan dalam kitab suci. Einstein memberikan ke sinergian, ilmu tanpa agama itu akan sesat, karena dia akan liar dan tidak bisa terkendali tapi agama tanpa ilmu itu akan jadi lumpuh, karena dia tidak memiliki daya ungkit bagaimana melakukan dakwah tanpa alat bantu yang ada sekarang ini karena kemajuan teknologi. Kesinergian antara ilmu dan agama adalah keniscayaan yang tidak bisa kita hilangkan

*Sumber tulisan berasal dari ceramah DR.dr. Fidiansjah, Sp.KJ, MPH pada acara Maulid Nabi Muhammad di Kantor Kementerian Kesehatan.

Editor : Prima Restri

dr. Fidiansjah, Sp.KJ, MPH

Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Masalah Kesehatan Jiwa dan NAPZA

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Juga
Close
Back to top button