Januari 2019Media Utama

Waspadai Timbulnya Wabah DBD!

Taiching: Seiring intensitas hujan yang meningkat karena masuknya musim hujan, ancaman berbagai penyakit salah satunya Demam Berdarah Dengue (DBD) mulai meruak. Penyakit yang disebabkan oleh nyamuk Aedes aegypti ini tidak dapat dipandang sebelah mata, sebab bila tidak tertangani dengan baik, DBD dapat menjadi wabah dan menyebabkan banyak kematian.

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI) melalui Sekretaris Jenderal Kemenkes, Oscar Primadi, mengingatkan potensi eskalasi penyebaran DBD yang dapat berujung pada munculnya status Kejadian Luar Biasa (KLB) DBD bahkan wabah DBD. Oleh karena itu, Oscar meminta semua pihak terus mewaspadai dan mengantisipasi kasus DBD agar tidak menjadi semakin banyak dan menyebar.

Sesjen berharap dengan kecepatan melakukan antisipasi dan tindakan pencegahan, kasus DBD dapat tertangani dengan baik, sehingga tidak meluas ke berbagai tempat dan menjadi KLB. “Saya minta semua pihak melakukan koordinasi untuk mengantisipasi timbulnya wabah demam berdarah yang merupakan endemi di Indonesia,” ujar Oscar ini disampaikan pada acara morning briefing di hadapan pejabat struktural di lingkungan Sekretariat Jenderal Kemenkes, di Jakarta (29/1).

Sejak akhir Desember 2018, Kemenkes sudah menerima laporan kasus DBD dari 22 provinsi yang mengalami peningkatan kasus . Dari 22 provinsi, ada beberapa wilayah yang menyatakan sudah masuk kategori KLB, yakni Kabupaten Kapuas (Kalimantan Tengah), Kota Manado (Sulawesi Utara), dan Kabupaten Manggarai Barat (Nusa Tenggara Timur).

Berdasarkan data yang dilaporkan ke Kemenkes, sampai 29 Januari 2019, kasus DBD di Indonesia mencapai 13.638 kasus dari 34 provinsi, dengan 132 kasus meninggal dunia. Angka ini lebih tinggi dibandingkan Januari tahun 2018 lalu yang tercatat sebanyak 6.167 kasus dengan 43 kasus meninggal dunia.

Menteri Kesehatan (Menkes) Nila F. Moeloek, pada kesempatan sebelumnya, meminta masyarakat mewaspadai DBD yang juga dapat menyerang di musim kemarau, terutama di tempat-tempat genangan air atau barang bekas. “DBD pun rentan menyerang manusia di musim kemarau kalau ada tempat genangan air seperti di barang bekas di gudang rumah atau bak mandi yang jarang dikuras,” kata Menkes, di Jakarta (14/11).

Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tular Vektor dan Zoonotik Kemenkes, Siti Nadia Tarmizi, mengatakan KLB yang terjadi di beberapa wilayah sudah ditanggulangi oleh tim gerak cepat Kemenkes bersama dinas kesehatan provinsi setempat. “Kemenkes juga sudah melakukan penyelidikan sumber penularan DBD dan sudah dilakukan langkah stop penularan DBD agar KLB tidak meluas,” kata Nadia, dikutip dari jpp.go.id.

Pada November 2018, Kemenkes telah mengirimkan surat edaran kewaspadaan peningkatan kasus DBD kepada para gubernur. Kemenkes juga melakukan tindakan pencegahan dengan Pemberantas Sarang Nyamuk (PSN) dan 3M+, yakni, menutup semua tampungan air atau sumber air, menguras bak mandi, mendaur ulang barang bekas, menaburkan bubuk larvasida pada tempat penampungan air yang sulit dibersihkan, menggunakan obat nyamuk atau anti nyamuk, menggunakan kelambu saat tidur, memelihara ikan pemangsa jentik nyamuk, menanam tanaman pengusir nyamuk, mengatur cahaya dan ventilasi dalam rumah, serta menghindari kebiasaan menggantung pakaian di dalam rumah yang bisa menjadi tempat istirahat nyamuk.

Menurut Nadia, masyarakat secara mandiri sudah melalukan pencegahan melalui 3M+. Apalagi memasuki awal tahun 2019, di mana intensitas hujan lebih tinggi dan menimbulkan genangan air yang dapat menjadi sarang nyamuk Aedes aegypti. “Barang bekas semisal ban bekas, jika ada genangan air, bisa menjadi tempat perkembangbiakan jentik nyamuk. Seharusnya, barang bekas itu bisa didaur ulang menjadi barang bernilai untuk mencegah perkembangbiakan nyamuk Aedes aegypti,” ujarnya.

1 2Laman berikutnya

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *