Februari 2019Terobosan

Ilmuwan Kembangkan “Lensa Kontak” untuk Obati Penyakit Mata

Ilmuwan Nanyang Technological University (NTU), Singapura, telah mengembangkan lensa kontak untuk mata dengan jarum-jarum berukuran mikro (microneedles). Lensa kontak tersebut diklaim dapat memberikan alternatif pengobatan mata yang tidak menyakitkan dan efisien dibandingkan metode pengobatan penyakit mata seperti glaukoma (kehilangan penglihatan) dan degenerasi makula (penurunan penglihatan pusat).

Glaukoma dan degenerasi makula adalah penyakit penurunan kemapuan penglihatan yang umumnya terjadi pada orang berusia di atas 50 tahun, meski beberapa kasus terjadi pada usia yang lebih muda. Kedua penyakit tersebut tidak diketahui persis penyebabnya dan hingga saat ini tidak bisa disembuhkan secara total. Pengobatan yang ada saat ini hanya membantu menekan laju kerusakan penglihatan menjadi lebih parah yang bisa menyebabkan kebutaan.

Selama ini, seperti dikutip dari warstek.com, metode perawatan yang digunakan untuk penyakit tersebut seperti obat oral, tetes mata, dan salep yang dalam penggunaanya seringkali terkendala oleh pertahanan alami mata seperti berkedip dan mata berair. Sementara, metode pengobatan lain seperti suntikan mata bisa sangat menyakitkan bagi pasien dan justru berisiko menyebabkan infeksi dan kerusakan mata. Beberapa pasien bahkan tidak dapat mengikuti prosedur pengobatan tersebut untuk mata mereka, sebagian lainnya membutuhkan perawatan jangka panjang.

Lensa kontak yang dapat digunakan pada mata itu telah berhasil diuji pada tikus, dipasang dengan microneedles biodegradable yang mengantarkan obat ke mata secara terkontrol. Setelah menekan ke permukaan mata secara singkat dan lembut seperti memakai lensa kontak. Jarum-jarum pada lensa kontak mengandung obat yang akan terserap ke dalam mata dan akan larut setelah beberapa waktu. Hal tersebut dikarenakan lensa kontak tersebut bersifat biodegradable alias dapat terdegradasi.

Ketika diuji pada tikus dengan vaskularisasi kornea atau mata memerah, penerapan tunggal dari lensa kontak tersebut 90% lebih efektif dapat mengurangi kondisi mata merah daripada menggunakan satu tetes mata dengan 10 kali lebih banyak kandungan obat. Hasil penelitian dengan pendekatan baru yang dikembangkan oleh tim yang dipimpin Profesor NTU Singapura ,Chen Peng, dari The School of Chemical and Biomedical Engineering (SCBE) dengan bantuan dari Associate Professor, Gemmy Cheung, dari Singapore National Eye Centre’s ini telah dipublikasikan di Nature Communications pada 6 November 2018.

Profesor Chen Peng, ahli bioteknologi yang terlibat dalam penelitian itu mengatakan, pendekatan itu dapat mewujudkan kebutuhan medis yang belum terpenuhi untuk pengiriman obat mata yang terlokalisasi, tahan lama, dan efisien dengan kepatuhan pasien yang baik. “Microneedles terbuat dari zat yang ditemukan secara alami di tubuh dan kami telah membuktikan dalam tes laboratorium pada tikus bahwa alat itu tidak menimbulkan rasa sakit dan meminimalkan risiko. Jika kita berhasil meniru hasil yang sama dalam uji coba manusia, lensa kontak tersebut bisa menjadi pilihan yang baik untuk penyakit mata yang memerlukan perawatan jangka panjang di rumah, seperti glaukoma dan retinopati diabetik (komplikasi diabetes yang menyerang mata),” papar Chen Peng.

Dia melanjutkan, pasien yang merasa sulit untuk mengikuti prosedur pengobatan berulang kali dengan metode tetes mata dan salep juga akan sangat terbantu dengan metode ini. Itu karena mereka memiliki potensi untuk mendapatkan efek terapi yang sama dengan dosis yang lebih kecil dan tidak terlalu sering.

Ia menambahkan, penerapan keping itu ke mata dapat membantu mengatasi beban penyakit yang meningkat dari kondisi mata. Sebuah studi pada tahun 2018 memproyeksikan bahwa pasien dengan penyakit mata di Singapura akan meningkat secara signifikan pada tahun 2040, di antaranya glaukoma, retinopati diabetic, dan kasus degenerasi makula dan berpotensi 2 kali lipat pada mereka yang berusia di atas 50 tahun.

1 2Laman berikutnya

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button