DaerahMaret 2019

Tantangan Pencegahan DBD di Metro Lampung

Untuk mencegah munculnya demam berdarah dengue (DBD), pemerintah memiliki program nasional 1 rumah 1 jumantik. Namun hal ini ternyata belum berkelanjutan dan belum teralisasi di Metro, Lampung Tengah. Setelah sebelumnya pernah manjadi lokasi penelitian DBD dari Balai Litbangkes Baturaja, tahun 2018, perilaku pencegahan DBD menjadi kendor lagi. Hal ini menurut Santoso, SKM, M.Sc, Ahli Peneliti Madya Balai Litbangkes Baturaja karena sulitnya mengubah perilaku masyarakat untuk hidup sehat, terutama pemberantasan sarang nyamuk (PSN).

“Kendala utama merubah perilaku masyarakat ini karena kesibukan masyarakat Kota Metro, dagang ke pasar, berjualan dan kegiatan kerja kantoran,’’ kata Santoso di Baturaja awal Maret 2019 lalu. Sementara orang kaya, agak sulit ditembus untuk berkomunikasi. Mereka sangat tertutup, karena merasa tak membutuhkan orang lain, karena merasa sudah mampu memenuhi kehidupannya secara mandiri.

Bahkan, fakta di lapangan ada juga rumah bedeng atau pasar yang cepat mobilisasi pergantian penghuninyasehingga mempersulit pembinaan. ‘’Ketika kami survei rumah bedeng, mereka sudah ganti penghuni dalam waktu kurang 1 bulan, termasuk rumah orang kaya disekitarnya, mereka tertutup sulit berkomunikasi dengan tetangga. Kami dapat berkomunikasi setelah mendatangi rumahnya dengan mengajak, lurah Camat setempat”, kata Santoso.

Untuk itu, dalam upaya membuat lingkungan bersih, melakukan PSN, kata Sanatoso, seluruh anggota masyarakat harus kompak, kerjasama melakukan PSN. ‘’Kalau anggota masyarakat individualis, maka akan sulit melakukan PSN. Sebab itu, perangkat pemerintah dan masyarakat harus digerakkan secara bersama melakukan PSN,’’ tegasnya.

Kendala Uang Transport Untuk Survei Jentik

Untuk melihat tingkat endemis DBD suatu daerah, harus dilakukan survei jentik dahulu, berapa persen rumah yang ada jentiknya. Santoso memaparkan, setelah itu dipasang perangkap nyamuk pada Rumah Tangga (RT)terpilih. RT yang terpilih seluruh rumahmya dipasang perangkap. Selanjutnya menugaskan setiap 1 kader untuk mengevaluasi 10 KK. Kader juga harus melatih 1 rumah tangga 1 jumantik. Kemudian para jumantik ini bekerja membersihkan sarang nyamuk. “Kenyataanya, pekan lalu masih ada jentik nyamuk, pekan berikutnya masih ada jentik nyamuknya juga, walau ada sebagian yang sudah tak berjentik nyamuk lagi”, kata Santoso.

Harapanya, setiap pekan kader mengevaluasi setiap jumatik atas pekerjaan jumatik melakukan PSN di rumahnya masing-masing. Setiap kader mengawasi selama 3 bulang, setiap bulan 4 kali berkunjung ke rumah masyarakat melihat apakah masih ada ditemukan jentik di rumah penduduk. Setelah 12 kali, harapanya mereka sudah terbiasa mengevaluasi, tanpa pendampingan dan tanpa uang transport.

“Sayang, setelah penelitian selesai, semua selesai. Mereka tidak lagi melakukan PSN, termasuk menggerakkan jumantik untuk melakukan PSN. Alasanya, karena tak mendapat transport lagi. Walau judulnya sukarela, tapi sudah tak rela lagi”, ujar Santoso sambil tertawa.

Jadi, karena tak ada transport kader, maka kader tak mengontrol jumantik, akhirnya jumatik juga tak bekerja, perilaku juga belum berubah. Sebenarnya dari hasil penelitian, setelah 3 bulan melakukan intervensi, telah terjadi penurunan indeks larva di desa tersebut. “Maka, kami rekomendasikan agar kegiatan ini tetap diteruskan dengan transport bisa berasal dari Pemerintah Daerah”, kata Santoso.

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *