DaerahMaret 2019

Wisata Ilmiah, Cara Baru Cegah DBD

“Anak-anak, penyakit demam berdarah disebabkan oleh apa…?, Nyamuk…!, begitu jawab anak-anak SD menjawab pertanyaan Irvan yang menjadi pemandu wisata ilmiah hari itu. Anak-anak SD kelas 4 dan 5 tersebut sedang mengikuti kegiatan wisata ilmiah yang diselenggarakan oleh Balai Litbang Kesehatan Kota Baturaja, Sumatera Selatan pada 5 Maret 2019 yang lalu.

Kemudian, Irvan menjelaskan bahwa demam berdarah disebabkan oleh virus dengue yang ditularkan oleh nyamuk aedes aegypti. Jadi, kalau begitu, penyakit demam berdarah disebabkan oleh apa ?, tanya Irvan. Virus dengue…! jawab anak-anak kompak. Kemudian Irvan bertanya lagi, kira-kira yang menggigit itu nyamuk betina atau jantan…? Jantan…jawab anak-anak kompak. Rupanya, mereka belum tahu jenis nyamuk yang menggigit manusia. Selanjutnya, Irvan menjelaskan, bahwa yang menggigit itu nyamuk betina, karena untuk mematangkan telornya sebelum menetas menjadi larva. Sedangkan nyamuk jantan tidak menggigit.

Pada kesempatan wisata ilmiah ke 5 ini, diikuti oleh SD 17, SD 18, SD 19, SD 20 dan SD 21. Masing-masing SD mengirim perwakilannya 5-6 siswa, beserta guru pendamping sebanyak 1-2 guru, yang berjumlah 25 orang. Mereka tampak antusias dan bergembira mengikuti wisata ilmiah ini, mulai dari penjelasan di kelas, melihat laboratorium entomologi (nyamuk), mengunjungi tanaman obat pengusir nyamuk, melihat ikan pemakan jentik nyamuk dan mengikuti simulasi pengendalian jentik nyamuk.

Menurut Abdurahman, guru pendamping SD 17, dengan mengajak anak mengenalkan jenis penyakit deman berdarah, melihat penyebab dan cara preventifnya secara langsung akan memudahkan anak-anak merekam dalam otaknya, apalagi melihat langsung dan simulasi. “ Menjadi cerita tersendiri yang mengesankan. Bahkan Ia merekomendasikan setiap enam bulan sekali untuk sekolahnya bisa diundang wisata ilmiah”, kata Abdurahman.

Sedangkan menurut Dazua, guru SD 18 mengatakan, bahwa belajar model wisata ilmiah ini lebih mudah dipahami oleh murid karena melihat langsung untuk kemudian nanti diterapkan di lingkungan sekolah. Sementara, Riski siswa SD 18 yang mengikuti wisata ilmiah mengatakan senang dan gembira mengikuti wisata ilmiah ini. Bisa langsung melihat nyamuknya, jenis-jenis ikan pemakan jentik. “ada ikan timah, cupang, guppy, padang dan nila”, kata Riski.

Mengapa wisata ilmiah kesehatan ?

Hasil survei indek larva sekolah, ditemukan jentik aides 67% di wilayah Kota Baturaja. Angka tersebut tergolong tinggi. Apabila tidak segera dilakukan intervensi, maka akan mendorong potensi terjadinya wabah demam berdarah di lingkungan sekolah. Sebab itu, muncul gagasan untuk melibatkan peran sekolah, guru dan murid untuk partisipasi mengendalikan penyakit deman berdarah. Hal ini disampaikan Kepala Seksi Program dan Kerjasama Badan Litbang Kesehatan Baturaja, Anif Budiyanto, SKM, M.Epid, kepada Mediakompada 5 Maret 2019 di Baturaja.

Menurutnya, melalui kerjasama guru, murid, Dinas Pendidikan dan Badan Litbang Kesehatan Baturaja dalam penanggulangan penyakit demam berdarah akan lebih efektif. Apalagi dengan memerankan jemantik cilik dari para murid SD, pasti secara langsung akan melibatkan orangtua mereka di rumah, bersama-sama melakukan pemberantasan sarang nyamuk.

Dalam kerjasama tersebut, Dinas Kesehatan memberikan 18 kg abate untuk digunakan oleh 65 Sekolah Dasar selama 1 tahun. Melalui jumantik cilik yang ada pada setiap SD, maka diharapkan program pemberantasan sarang nyamuk (PSN) di sekolah dapat berjalan dengan baik. “ Setelah kegiatan wisata ilmiah, setiap peserta mendapat hadiah abate 40 gram dan 1 ikan pemakan jentik nyamuk. “Harapannya, dengan mengikuti wisata ilmiah kesehatan ini, setiap anak dapat mengembangkan potensinya dan menjadi terbiasa melaksanakan PSN di lingkungan sekolah maupun di rumah masing-masing”, ujar Anif.

Kegiatan wisata ilmiah kesehatan yang diluncurkan pada November 2018 oleh Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten OKU ini telah mendapat respon positif dari sekolah dasar di Kota Baturaja. Bahkan untuk masa mendatang sudah ada permintaan dari tingkat SLTP yang ingin menjadi peserta wisata ilmiah kesehatan ini.

“Dalam jangka menengah akan dikembangkan desa atau kelurahan binaan. Desa binaan ini akan mendapat pemeriksaan entomologi bekerjasama dengan siswa politeknik kesehatan. Dengan pola ini akan lebih luas lagi cakupan pemberantasan sarang nyamuknya”, ujar Anif.

Editor : Prima Restri

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *