April 2019Terobosan

Comel, Eliminasi TBC MDR Berbasis Jejaring

Penyakit TBC (Tuberculosis) saat ini masih menjadi momok di Indonesia. Global TB Report 2018 mencatat Indonesia menduduki peringkat ke-3 untuk insiden TBC dari 5 negara, peringkat ke-7 untuk beban TBC RO (Resisten Obat) dari 8 negara, dan peringkat ke-7 untuk beban TBC HIV dari 8 negara.

Oleh sebab itu, pengendalian penyakit TBC saat ini terus menjadi perhatian pemerintah. Salah satu upaya yang dilakukan pemerintah untuk menurunkan angka penderita TBC adalah dengan menyediakan fasilitas kesehatan layanan khusus TBC.

Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Dr. Soetomo Surabaya merupakan salah satu fasilitas kesehatan yang memberikan layanan bagi penderita TBC. Bahkan untuk menurunkan angka penderita TBC, khususnya penderita TBC RO/TBC MDR (Multi Drug Resistant) di Kota Surabaya dan sekitarnya, pada tahun 2013 rumah sakit yang menjadi rujukan di Provinsi Jawa Timur ini membuat inovasi yang disebut dengan COMEL, kependekan dari Community Comprehensive Linkage.

Kepada Mediakom, Kepala Ruangan Poli Paru/TBC MDR RSUD Dr. Soetomo, Nur Endartini, menjelaskan nama COMEL memiliki dua arti, yang pertama sesuai dengan kepanjangannya yaitu mengeliminasi TBC dengan membentuk jejaring. Sedangkan arti yang kedua, secara harafiah comel berarti cerewet. “Maksudnya cerewet di sini adalah cerewet untuk mengedukasi kepada pasien jangan sampai dia DO (drop out/putus obat),” jelasnya.

Penemuan Penderita TBC Meningkat

Endar mengungkapkan, pelaksanaan pengawasan pengobatan terhadap pasien TBC, khususnya TBC MDR berbasis jejaring sebenarnya sudah dilakukan sejak November tahun 2009. Namun, pada saat itu jejaring yang dimiliki masih sebatas antara Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur, RSUD Dr. Soetomo dan Dinas Kesehatan Kota Surabaya saja.

Sejak dibentuk jejaring pada tahun 2009, angka penemuan penderita TBC MDR semakin meningkat dari tahun ke tahun. Data yang dihimpun Poli Paru/TBC MDR Dr. Soetomo mencatat pada tahun 2009 ditemukan sebanyak 59 suspek; 5 orang positif, dan 1 orang DO, tahun 2010 ditemukan sebanyak 206 suspek; 44 orang positif, dan 9 orang DO; tahun 2011 ditemukan sebanyak 315 suspek; 66 orang positif, dan 22 orang DO, kemudian tahun 2012 ditemukan sebanyak 349 suspek; 90 orang positif, dan 27 orang DO dan pada tahun 2013 ditemukan sebanyak 567 suspek; 143 orang positif, dan 42 orang DO.

Naiknya angka penemuan pasien TBC MDR seperti dua sisi mata uang. Di satu sisi, hal tersebut menunjukkan masih banyaknya penderita TBC MDR di Kota Surabaya dan sekitarnya. Akan tetapi, di sisi lain naiknya angka penderita TBC MDR dapat menjadi indikator keberhasilan bahwa upaya tenaga kesehatan untuk menjaring penderita TBC MDR berhasil. Karena dengan ditemukannya kasus TBC MDR kesempatan untuk mengendalikan angka TBC MDR dengan mengedukasi dan mengobati penderita semakin terbuka lebar.

Selain penemuan TBC MDR, angka DO pun juga mengalami peningkatan. Beberapa alasan melatarbelakangi pasien TBC MDR mengalami DO antara lain dipengaruhi oleh efek samping obat seperti mual, pusing dan berhalusinasi; masalah ekonomi, karena efek samping obat membuat tidak bisa bekerja; dan stigma masyarakat. Selain itu, tidak adanya dukungan dari keluarga dan lingkungan sekitar juga membuat pasien TBC MDR menjadi putus obat.

Dukungan Pasien TBC yang Sembuh

“Ada yang karena dia merasa kurang diperhatikan, yang keluarga sudah memperhatikan tapi mungkin juga takut ketularan. Dan akhirnya dia merasa ngga ada support dari keluarganya terus akhirnya jadi putus obat”, beber Endar.

Dari tingginya angka DO TBC MDR di tahun 2013, muncul ide untuk mengembangkan jejaring yang sudah ada dengan melibatkan pasien TBC yang sudah sembuh, karena pada saat itu sudah ada beberapa pasien yang sudah dinyatakan sembuh dari TBC MDR. Pasien yang sudah sembuh diharapkan bisa memberikan motivasi kepada pasien yang masih dalam proses pengobatan.

1 2Laman berikutnya

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *