April 2019Daerah

Inovasi Puskesmas Jadi Ujung Tombak Pembangunan Kesehatan Palembang

Berbagai upaya dilakukan Palembang untuk meyehatkan masyarakat. Salah satunya melakukan inovasi pada puskemas, layanan kesehatan pertama yang menjangkau masyarakat.

Palembang yang menjadi kota kedua terbesar di Sumatera setelah Medan, memiliki tantangan di bidang kesehatan masyarakat yang tak kalah pelik dibandingkan kota-kota besar lainnya di Indonesia.

“Masalah yang dihadapi triple burden, penyakit menular serta penyakit infeksi masih ada dan penyakit tidak menular (PTM) bertambah,” kata Kepala Dinas Kesehatan Kota Palembang dr. Letizia, M.Kes. kepada Mediakom.

Tiga beban penyakit tadi, dinilainya terjadi merata di seluruh pelosok negeri serta negara-negara berkembang. Solusi yang dapat diambil pun cukup mudah, yakni menciptakan gaya hidup sehat di tengah kehidupan masyarakat sehari-hari.

Akreditasi Puskesmas

Untuk mendorong pelayanan kesehatan kepada masyarakat, salah satu langkah yang diambil adalah melalui akreditasi puskesmas. Pada 2019 semua Puskesmas di Kota Palembang diharapkan telah terakreditasi sehingga standar pelayanan yang diberikan kepada masyarakat baik dan efisien.

“Hingga 2018 lalu, sudah 37 puskesmas yang terakreditasi, untuk tahun ini empat Puskesmas lagi yang akan mendapatkan akreditasi karena sudah memenuhi standar peralatan puskesmas,” kata Letizia.

Keyakinan akan kemampuan pelayanan kesehatan prima di kota berjulukan Bumi Sriwijaya ini kian tinggi karena tenaga medis di Puskesmas sudah cukup efisien dengan memiliki beberapa dokter, bidan, perawat serta petugas kesehatan lingkungan dan gizi.

“Standarnya minimal satu Puskesmas punya dua dokter, sementara di Kota Palembang tiap Puskesmas punya rata-rata 2-4 orang dokter, sehingga dinilai sudah sangat efisien,” jelasnya.

Fokus pengembangan Puskesmas juga dilihat dari cakupan luas layanan di setiap kecamatan dan juga mempertimbangkan jumlah pasien yang menjadi anggota jaminan kesehatan nasional. Pemerintah daerah mengucurkan dana operasional sebesar Rp600 juta per tahun bagi Puskesmas.

Puskemas Menjadi BLUD

Hal lain yang dilakukan juga adalah dengan mendorong pusat layanan kesehatan masyarakat itu menjadi bagian dari Badan Layanan Umum Daerah (BLUD) sehingga tenaga kesehatan di wilayah itu memiliki kesempatan untuk berkompetisi dan berkreasi dengan tantangan tersebut.

Dari sisi peningkatan kualitas gizi dilakukan bagi 1.000 posyandu dengan dana mencapai Rp600 juta per tahun sehingga bayi, balita bahkan hingga lansia dapat dipantau dan tercukupi kelayakan gizinya.

“Kami juga ingatkan kepada kepala Puskesmas agar tetap memperhatikan pertanggungjawaban kesehatan masyarakat yang ada di wilayahnya. Selain itu, masyarakat juga harus menjaga pola asupan gizinya, agar tak terkena dan jangan sampai ada yang mengidap gizi buruk,” paparnya.

Langkah-langkah yang dilakukan oleh Dinkes Kota Palembang tersebut berbuah manis. Beberapa inovasi Puskesmas masuk dalam Inovasi Pelayanan Publik (Sinovik) Kemenpan RB. Di antaranya Puskesmas Sako yang membantu pemahaman ASI eksklusif melalui permainan Fun for Mom serta Model Pelayanan Kesehatan Tradisional Integrasi (PKTI) milik Puskesmas Kampus.

“Sejak tahun 2014, inovasi Puskesmas ditingkatkan karena makin banyak uang dikelola lewat kapitasi dan BLUD. Kami motivasi mereka melalui pertemuan rutin bulanan setiap akhir bulan untuk bahas program puskesmas beserta narasumber dari IDI (IkatanDokter Indonesia),” kata Letizialagi.

Sejumlah inovasi yang muncul dari permasalahan akar rumput tadi diharapkan menjadi solusi paripurna bagi peningkatan derajat kesehatan masyarakat. Sehingga program Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (Germas) bukan sekadar jargon semata, namun terlaksana nyata.

Editor : Prima Restri

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *