April 2019Resensi

Potret Masyarakat Ubud Dalam Sebuah Buku

Judul : Jangan Sisakan Nasi dalam Piring
ISBN : 9786020618715
Pengarang : Kembangmanggis (Baby Ahnan)
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama
Cetakan : I, tahun 2018
Tebal buku : 224 halaman

Adakah yang belum tahu Ubud ? Ubud adalah salah satu tempat indah di Bali, tepatnya berada di kabupaten Gianyar. Ubud sangat terkenal bukan hanya akan keindahan alamnya, termasuk hutan dan sawahnya, tetapi juga sebagai pusat seni serta budaya Bali.

Keindahan Ubud dan kehidupan sehari-hari masyarakatnya inilah yang dilukiskan oleh kembangmanggis dalam bukunya yang berjudul “Jangan Sisakan Nasi dalam Piring”.

Buku ini terdiri dari 23 kisah yang sangat menarik dan saling terkait satu sama lain. Bercerita tentang kesederhanaan, kerja keras, kebaikan dan kemurahan hati serta kebiasaan-kebiasaan masyarakat Ubud.

Bercerita tentang makanan-makanannya yang enak, tentang jalanan Ubud yang turun naik, tentang sawah, tentang bebek, tentang panen, tentang Pak Purna, tentang Pak Jumu, tentang Bapak Nangka, bu Klengis, tentang Pak Edi, dan juga tentang lainnya. Semua kisah disampaikan dengan ringan dengan gaya bahasa yang sederhana dan mudah dipahami.

Kisah tentang panen misalnya, erat kaitannya dengan nasehat orang tua yang sangat sering kita dengar saat masih kecil yaitu “jangan sisakan nasi dalam piring”. Mungkin dulu kita pernah bertanya pada orang tua, kenapa tidak boleh ? Jawaban orang tua beragam, misalnya “kasihan nasi yang ditinggal di piring karena teman-temannya sudah masuk dalam perut”, atau “Dewi Sri nanti menangis kalau nasinya disisakan”.

Dan anak-anak akan menerima saja jawaban orang tua tapi sebetulnya tak pernah paham kenapa tidak boleh menyisakan nasi dalam piring. Melalui buku kembangmanggis ini, pembaca akan mendapatkan jawabannya, mengapa tidak boleh menyisakan nasi dalam piring.

Selain menceritakan semua kebaikan dan keindahan Ubud, dengan santai dan halus kembangmanggis juga menyisipkan pertanyaan-pertanyan kritis atau pesan sosial yang merupakan refleksi atas tiap sketsa. Setiap kisah memiliki pesannya sendiri yang dapat diartikan berbeda-beda tergantung persepsi masing-masing pembaca.

Kisah petani tua dan bebeknya yang dijadikan kisah pembuka dalam buku ini misalnya, memaparkan dua keadaan yang berbeda. Petani tua dengan bambu panjang di tangannya sedang menggiring bebek-bebeknya di sawah adalah salah satu obyek pemandangan yang sangat khas Ubud, sangat terkenal bahkan sampai ke mancanegara, dan sangat banyak direkam oleh para seniman.

Obyek tersebut nanti akan dikomersialkan dalam bentuk karya-karya seni seperti lukisan, patung, fotografi, keramik, dan lain sebagainya. Obyek seni yang sangat indah dan dijual mahal sehingga bisa menguntungkan para seniman, pemilik galeri atau toko-toko cinderamata. Tetapi apakah serta merta si petani bebek yang menjadi obyek seni ikut makmur hidupnya ? Ataukah si petani tetap dalam kesehariannya menggiring bebek di pematang sawah, menjalani hidupnya dengan sederhana ?

Tagline yang tertera pada bagian belakang buku ini yaitu “lezat dibaca dan perlu”, benar adanya. Ubud dan kesehariannya terpotret indah lewat kisah-kisah dalam buku ini. Ubud dengan bentangan sawahnya, udara segarnya, langit birunya, bebek-bebek dan burung-burungnya, petani-petaninya serta kebaikan dan keramahan penduduknya. Buku ini benar-benar enak dibaca dan ajaibnya mampu membawa pembaca seolah-olah sedang berada di Ubud. Menikmati Ubud walaupun tidak berada di Ubud. Selamat Membaca !

Editor : Prima Restri

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button