DaerahMei 2019

Inovasi Berbasis Teknologi Untuk Menjawab Tantangan Kesehatan Warga Jakarta

Permasalahan kesehatan yang kompleks di Jakarta mendorong Dinas Kesehatan DKI Jakarta melakukan beberapa inovasi. DBD, kesehatan jiwa dan HIV/AIDS menjadi perhatian utama dan 3 buah inovasi dilahirkan untuk mengatasi ketiga tantangan kesehatan ini.

DKI Jakarta sebagai kota metropolitan sekaligus Ibukota negara Indonesia memiliki masalah kesehatan yang tidak sedikit. Kondisi masyarakat perkotaan yang saat ini mengedepankan teknoogi dalam berinteraksi dianggap dapat salah satu celah yang dapat dimanfaatkan untuk mengatasi persoalan kesehatan yang ada dengan mengembangkan layanan kesehatan berbasis teknologi.

Untuk itu pada 30 Januari 2019, Gubernur DKI Jakarta meluncurkan tiga inovasi layanan kesehatan untuk warga Jakara dengan berbasis teknologi yakni DBD Klim, E-Jiwa dan Jak-Track. Anies mengatakan 3 layanan kesehatan ini merupakan pendekatan baru untuk mengatasi persoalan kesehatan di Ibukota yang kompleks.

“Kehadiran ini mencerminkan komitmen kami bahwa kesehatan yang menjadi prioritas utama penuh dengan terobosan terbaru. Masalah yang kita hadapi banyak sekali, dan kita harus melakukan inovasi menyelesaikan masalah yang sebelumnya tidak terbayangkan. Dengan teknologi, kita melakukan pendekatan baru yang berbeda,” ujar Anies, sebagaimana dikutip dari Sindo.

Cegah DBD dengan DBD Klim

Ditemui Mediakom, Kepala Dinas Kesehatan DKI Jakarta, Widyastuti, menjelaskan 3 layanan inovasi kesehatan yang dapat diakses oleh para warga Jakarta. Berangkat dari kondisi bahwa wilaya DKI Jakarta termasuk daerah endemis demam dengue sehingga membuat jajaran harus senantiasa waspada sepanjang tahun maka muncul gagasan untuk membuat terobosan yang dapat meminimalisir angka kejadian DBD di masyarakat.

“Jadi kombinasi antara data kita (Dinkes DKI) dengan BMKG dengan permodelan yang dibuat dari ITB muncul early warning system kemudian intervensi yang harus dikerjakan oleh Puskesmas kira-kira seperti apa,” sebut Widy.

Dijelaskan oleh Widy, sistem DBD Klim merupakan perpaduan data surveilans tentang DBD yang dimiliki oleh DInkes DKI dengan data tentang curah hujan dan kelembapan milik BKMG. Kemudian data tersebut dikombinasikan oleh ahli dari Institut Teknologi Bandung sehingga dapat memunculkan gradasi yang menggambarkan kondisi kelembapan tinggi, sedang dan rendah dalam bentuk warna hijau, kuning dan merah.

“Semakin tinggi kelembapan udara semakin tinggi jumlah vektor nyamuk karena nyamuk sukanya ditempat yang lembap. Kalau vektornya banyak maka resiko digigitnya lebih tinggi sehingga akibatnya kita harus wasapada. Paling bagus adalah hijau saat kelembapannya bagus jadi vektornya tidak banyak,” terang Widy.

 DBD Klim juga menampikan prediksi angka kejadian kasus berdasarkan incident rate yang juga dikelompokan berdasarkan warna hijau, kuning, merah dan akan di tampilkan setiap bulan. Untuk wilayah yang aman akan diberi warna hijau sementara daerah yang rawan angka kejadian DBD angka diberi warna merah serta upaya yang harus dilakukan.

“Contoh kota Jakarta Timur prediksi untuk bulan depan merah, ini harus melakukan apa, berarti PSN dikuatkan, edukasinya dikuatkan, larvasidasinya harus dikuatkan,” urai Widy.

Menelusuri Kesehatan Jiwa Warga Jakarta Lewat E-Jiwa

Inovasi layanan kesehatan berikutnya adalah E-Jiwa, layanan ini mulanya diinisiasi oleh Puskesmas Cilandak yang  betolak dari hasil Riskesdas dimana untuk DKI  Jakarta i ada 1,7 per mil yang mengaami gangguan jiwa berat dan ada 6 per mil yang mengalami gangguan jiwa atau masalah kejiwaan. Selanjutnya, Puskesmas Cilandak membuat permodelan E-Jiwa dengan memakai SR-Q 29 dengan mengintegrasikannya ke dalam sistem aplikasi adroid.

Petugas yang tengah melakukan kunjungan ke masyarakat akan melakukan screening dengan meminta masyarakat mengikuti petunjuk yang ada di aplikasi E-Jiwa. Masyarakat diharuskan untuk menjawab 1-20 pertanyaan yang cukup dijawab dengan Ya atau tidak.

“Dari hasil tanya jawab tadi akan muncul beberapa kriteria. Kalau dia hijau dia aman, Puskesmas tinggal memberikan edukasi sedikit, kalau kuning berarti ada masalah kesehatan jiwa Puskesmas akan melakukan pendampingan dan memberikan konseling nah dari kegiatan ini yang tadinya kuning ternyata bisa selesai di Puskesmas atau kalau dia merah artinya perlu rujukan atau dicoba diselesaikan di Puseksmas kalau tidak selesai di Puskesmas akan di rujuk ke rumah sakit tipe D kita yang sudah ada tenaga psikiatrinya,” papar Widy.

1 2Laman berikutnya

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *