Mei 2019Profil

Prof. DR.Dr.Nila Djuwita F.Moeloek, Sp.M (K) Semangat Tanpa Jeda Membangun Kebersamaan Mewujudkan Indonesia Sehat

Sesosok wanita anggun dengan rambut yang dibiarkan tergerai maju ke depan setelah Presiden Indonesia terpiih, Joko Widodo, memanggil namanya. Minggu 26 Oktober 2014, untuk pertama kalinya Prof. DR.dr.Nila Djuwita F.Moeloek, Sp.M (K), dikenalkan kepada masyarakat sebagai Menteri Kesehatan pada Kabinet Kerja.

Dan pada Senin 27 Oktober 2014, sosok perempuan berdarah Minangkabau ini mengucap sumpah jabatan sebagai Menteri Kesehatan mengikuti jejak sang suami Prof.DR. dr. H. Faried Anfasa Moeoek, Sp.OG yang pernah mengemban jabatan serupa saat zaman Presiden Habibie.

Sepak terjang Nila di dunia kesehatan sangat diakui, tidak hanya secara keilmuan namun juga di level manajerial, dimana berbagai jabatan di organisasi level nasional pernah diembannya. 

Terakhir, sebelum diangkat sebagai Menkes, Nila bertugas sebagai Utusan Khusus Presiden RI untuk Millenium Development Goals (MDGs) tahun 2009-2014. Berbagai pengalaman tersebut menjadi salah satu alasan Presiden Jokowi mengangkat ibu 3 orang anak ini sebagai Menkes di kabinetnya.”Ia adalah senior yang sangat berpengalaman,” ujar Presiden Jokowi di halaman Istana Negara, Minggu (26/10/14), seperti dikutip dari Tribunnews.

Cita-cita Menjadi Dokter 

Nila lahir di Jakarta, 11 April 1949 dari ayah yang juga berprofesi sebagai dokter sehingga sejak kecil sudah memiliki ketertarikan dengan dunia kedokteran, bahkan salah satu kegemarannya saat kecil adalah bermain dokter-dokteran. 

“Dari kecil juga senang aja main jadi dokter-dokteran dengan boneka dan sebagainya, akhirnya ternyata bisa mencapai (jadi dokter),” kisah Nila kepada Mediakom.

Menginjak masa puber, ketika pergaulan mulai bertambah luas orientasi Nila untuk menjadi dokter mulai goyah. Saat dibangku SMA Nila mengaku memiliki ketertarikan dengan dunia arsitek sehingga memiliki rencana untuk melanjutkan kuliah jurusan arsitek di Kampus ITB Bandung namun hal itu akhirnya tidak dapat terwujud.

“Ayah saya menginginkan saya tidak keluar dari kota Jakarta dan yang terbaik adalah saya harus ambil kedokteran, jadi tidak bisa ke ITB,” kenang Nila sambil tertawa.

Setelah menempuh pendidikan di Fakultas Kedokteran, Nila merasakan kebahagian menjadi dokter. Karena, kata Nila, dengan menjadi dokter maka dirinya bisa menolong banyak orang yang dapat memberikan kepuasan. bagi dirinya.

“Kalau kita menolong sampai dia sembuh itu suatu hal yang luar biasa, kalau menurut saya kepuasan batin kita,” sebutnya.

Pada tahun 1972, Nila dipersunting oleh Farid Anfasa Moeloek yang merupakan seniornya di Fakultas Kedokteran Univesitas Indonesia (FK UI). Dari pernikahan dengan Farid, Nila memiliki 3 orang anak yakni Muhammad Reiza Moeloek, Puti Alifa Moeloek dan Puti Anisa Moeloek. 

Memilih Menjadi Dokter Spesialis Mata

Ketika sang suami memutuskan untuk mengambil dokter spesialis kandungan, Nila yang tidak ingin berpisah dengan suami akhirnya memutuskan untuk menempuh pendidikan dokter spesialis mata. Keputusannya untuk menjadi dokter spesialis mata membuatnya berkenalan dengan organisasi dan terlibat aktif di dalamnya.

“Saat suami saya ambil spesialis kebidanan karena kita tidak mungkin pisah maka saya ambil spesialis mata. Saat saya ambil spesialis mata saya juga mencoba untuk aktif di dalam organisasi. Pada saat itu saya mulai sebagai sekretaris 2 pada perhimpunan dokter spesialis mata Indonesia cabang Jakarta,”jelas Nila.

Kegemaran Nila menolong orang lain semakin tersalurkan ketika menjadi dokter spesialis mata dan aktif di Perhimpunan Dokter Spesialis Mata Indonesia. Salah satu program yang rutin diikuti Nila adalah operasi katarak massal yang dilakukan di berbagai wilayah di Indonesia secara gratis. Hingga akhirnya Nila semakin aktif dan menjadi pimpinan organisasi tertinggi bagi para dokter spesialis mata. 

“Saya semakin senang, saya melihat organisasi juga perlu karena pengetahuan lebih luas dan pergaulan juga lebih luas karena ada persoalan-persoalan yang secara organisasi juga harus kita selesaikan secara nasional. Akhirnya saya sampai jadi ketua perhimpunan dokter spesialis mata Indonesia, banyak yang bisa kita benahi,”terang Nila.

1 2Laman berikutnya

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Juga
Close
Back to top button