Juni 2019Ruang Jiwa

Dahysatnya Kekuatan Mental Dalam Proses Pemulihan Penyakit Kronis

Sehat merupakan salah satu hal yang menjadi dambaan setiap manusia. Namun hal tersebut tidak bisa serta-merta dan sepenuhnya terwujud, karena penyakit bisa datang menghampiri seseorang secara tiba-tiba, meski sebelumnya tampak sehat dan bugar.

Penerimaan diri terhadap penyakit yang diberikan Tuhan sangatlah penting. Apalagi jika penyakit tersebut tergolong penyakit kronis, sehingga tidak membuat mental pasien jatuh. Kekuatan mental pasien sangat penting, agar sisi pencegahan dapat dilakukan dan membantu proses pemulihan berjalan dengan optimal. 

Pada pasien yang divonis menderita penyakit kanker, jelas ada kondisi fisik yang dirasakan, diketahui, dan memberikan efek pada penderita. Namun catatan ini ingin mengingatkan bahwa tidak hanya pada kasus pasien kanker, keterlibatan aspek mental harus ada pada semua jenis penyakit penting. Hanya prioritasnya bisa di tengah, di depan atau di belakang, tergantung kondisi individu masing-masing apakah segera memerlukan tindakan darurat atau tidak.

Bagi pasien yang mendapat vonis penyakit berat seperti kanker, mereka akan mengalami fase-fase penolakan (denial), kemarahan (anger), hingga depresi. Di mana periode ini sangat individual. Namun pada akhirnya para pasien tersebut setelah melalui berbagai proses itu, akan masuk pada fase penerimaan hingga akhirnya mampu bangkit melawan penyakitnya. Akan muncul kesadaran dari dalam diri mereka untuk mencari hikmah dalam suatu musibah atau penyakit yang mereka derita.

Menemukan hikmah atas musibah penyakit yang dialami tentu tidak bisa secepat kilat dan semudah membalik telapak tangan. Selain memerlukan dukungan dari lingkungan keluarga, tidak bisa dipungkiri bahwa pasien penyakit kronis juga membutuhkan bantuan seorang profesional yakni psikiater yang akan memberikan gambaran penyakit dari aspek medis dan aspek mental.

Banyak Fase

Seorang penderita penyakit kronis pada awalnya akan memasuki fase denial atau fase menyanggah, di mana dalam dirinya akan berusaha menyanggah informasi yang baru saja disampaikan dokter seperti, “Nggak mungkin,” “Salah kali dokter,” “Apa benar dok?”. Ini adalah fase denial.

Kemudian ketika seluruh sanggahan dirinya justru terbuktikan dengan semua perangkat yang ada, baik hasil pemeriksaan dan tanda-tandanya, maka dia akan lanjut ke fase berikutnya, fase marah. Dia marah dengan dirinya, marah dengan lingkunganya yang mungkin dianggap tidak peduli, bisa juga marah kepada dokternya. Dia akan melampiaskan kemarahannya sehingga akhirnya tidak bisa marah lagi karena energinya telah habis. 

Ketika hendak menuju fase menerima, banyak proses yang harus dilalui dan itu kadang menyebabkan kondisi depresi.  Saat energinya telah banyak terbuang pada fase marah, maka depresi yang dapat timbul seperti, “Berarti Saya sudah nggak bermanfaat lagi nih”, “Penyakit Saya berat, Saya nggak produktif lagi”, “Percuma Saya lakukan pengobatan, toh dokter juga sudah mengatakan ini stadium terminal, sudahlah mendingan Saya mati aja”.  Itu memang reaksi-reaksi yang bisa menimbulkan derajat marah turun menjadi depresi, cemas, panik, dan sebagainya. 

Sampai pada fase terakhir dia memang menerima. Setelah itu baru bisa masuk kedalam fase yang memperkuat, seperti “Ya sudah, mari kita mencari hikmah dalam suatu musibah,”.

1 2Laman berikutnya

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button