Juni 2019Profil

Kisah Para Penyintas Berdamai Dengan Kanker

Siapa yang hatinya tidak hancur ketika divonis menderita kanker? Bagaimana tidak, penyakit tidak menular ini merupakan penyebab kematian kedua terbanyak di seluruh dunia. Kanker sering menyebabkan kematian karena umumnya penyakit ini tidak menimbulkan gejala pada awal perkembangannya, sehingga terdeteksi dan diobati setelah mencapai stadium lanjut. Namun, dua penyintas kanker ini berhasil melewati keterpurukannya dan bangkit kembali untuk merajut asa yang sempat sirna. Siapakah mereka, simak kisahnya berikut ini!

Menulis, Terapi Hadapi Kanker

“Jangan abaikan deteksi dini, jangan abaikan periksa payudara kita sedini mungkin” itulah himbauan yang acap kali disampaikan Yesaya Fernindi Hohu seperti dikutip dari Jurnas.com. Himbauan tersebut diungkapkan oleh Yesa, panggilan akrabnya, karena ia harus berjuang melawan kanker payudara stadium 4.

Yesa mengetahui dirinya menderita kanker payudara pada tahun 2014. Awalnya ia merasakan ada benjolan di payudaranya. Ketika itu ia tidak berpikir macam-macam dan menganggap adanya benjolan saat sedang datang bulan adalah hal yang wajar. “Saat itu beberapa kali terasa benjolan saya abaikan, mikirnya masih wajar,” ungkapnya seperti dikutip dari Jurnas.com.

Hingga pada suatu ketika tiba-tiba Yesa mengalami kelumpuhan, tanpa pikir panjang kemudian dirinya memeriksakan diri ke dokter. Dari pemeriksaan itu ternyata hasil diagnosis dokter menunjukkan bahwa Yesa menderita kanker payudara stadium 4. Tidak hanya itu, ternyata kanker yang diderita Yesa sudah menyebar hingga ke tulang belakang, rahim, kelenjar getah bening, hepar bahkan pembekuan pada otak.

Divonis mengidap penyakit yang menjadi penyebab kematian nomor 1 pada wanita, membuat Yesa sempat mengalami keterpurukan. Kala itu dirinya mengaku banyak merenung, berdialog dengan Tuhan melalui shalat sambil meyakinkan diri bahwa ia mampu melalui meski sudah lumpuh. Yesa juga berusaha untuk tidak berpikir kalau kanker itu menakutkan dan sebaliknya ia mengubah fokus untuk melawan kanker yang dideritanya. Oleh karena itu, wanita kelahiran Lampung ini rutin menjalani pengobatan. Ia sudah menjalani kemoterapi, kemo untuk hepar, kemo untuk tulang, radiasi, sampai dengan operasi.

Walau harus bolak-balik ke meja operasi, perempuan kelahiran Lampung ini, tidak patah semangat. Ia kembali merajut asa dengan menjalani masa-masa pengobatan dengan menuliskan catatan pengalaman hidupnya di sosial media. Bagi Yesa menulis merupakan terapi untuk menghadapi ganasnya kanker. Dengan menulis, wanita asal Cilacap ini mengaku bisa terbebas dari stress. Sampai-sampai kumpulan tulisannya berhasil diterbitkan menjadi sebuah buku berjudul “It`s Me vs Cancer: Diary Kocak Survivor Kanker“. Melalui buku tersebut Yesa juga menyampaikan betapa pentingnya deteksi dini.

Dengan hadirnya buku tersebut dan juga dukungan dari keluarga dan teman, Yesa semakin bersemangat. Ia juga mengatakan kepada para warriors dan survivors kanker payudara agar terus berjuang dan memperbanyak stok semangat. “Kita semua punya hak untuk memperjuangkan hidup ini,” pungkasnya seperti dikutip pada laman Jurnas.com.

Pertarungan Kapten Softball Indonesia Melawan Kanker

Albert Charles Sompie merupakan kapten tim nasional softball Indonesia pada decade 1980-1990. Sebagai mantan atlet, pria yang akrab dipanggil Berthie ini, masih terus menggeluti olahraga yang membesarkan namanya meski telah pensiun.

Pada Desember 2005, Berthie yang ceria dan penuh canda ini didiagnosa menderita kanker paru-paru. Karena merasa dirinya adalah orang yang giat berolahraga diagnose dokter pun diabaikanya.

1 2Laman berikutnya

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *