Juni 2019LenteraUncategorized

Menata Hati

Irfan (43), pengemudi taksi online bercerita, bahwa dirinya sebelumnya sebagai karyawan perusahaan swasta dan harus berhenti bekerja karenakarena terjadi pengurangan karyawan di kantornya. Karena faktor umur yang lebih setengah tua, sudah puluhan lamaran pekerjaan dilayangkan, tapi belum mendatangkan hasil. 

Untuk mengisi kekosongan waktu, kemudian menggunakan mobil temannya untuk usaha bersama angkutan online. Tak terasa sudah 3 tahun berjalan menekuni angkutan online ini.

Irfan menuturkan, bahwa dirinya menjalani pekerjaan bukan untuk mengejar target setoran, sebab kalau untuk mengejar target, akan mudah kecewa, bila target tak tercapai. Bila target tak tercapai beberapa hari secara beruntun, maka akan bertambah besar rasa kecewanya. Kecewa, capek, marah akan terbawa hingga ke rumah. Sering anak dan istri terkena dampaknya, kasihan juga. Mereka nggak tahu persoalan, tapi terkena wajah masam dan omelan, akibat target kerja tak tercapai.

Ia merenung, kalau demikian terus suasana hatinya, maka akan membahayakan diri dan keluarga. Akhirnya, Irfan merubah cara berpikir dan menyikapi hasil pekerjaan atau capaian target setoran. Setiap kali memulai menjalankan mobilnya, ia hanya berkata dalam hatinya, bismillahirrahmanirrohim, saya niat bekerja mencari nafkah untuk keluarga seperti yang Engkau perintahkan, seberapapun hasilnya aku serahkan kepadaMu, semoga Engkau rida.

Apa hasilnya? Perjalanan terasa nyaman. Ketemu penumpang yang aneh-aneh, tetap tenang. Seberapapun hasil rupiah diakhir waktu pekerjaan tetap bahagia. Tak ada keluh kesah dan kecewa, apalagi marah. “Saya sudah 3 tahun bekerja di atas roda jalanan, tak terasa, waktu berputar begitu cepat”, ujarnya.

Robert (54), sebelumnya sebagai pengemudi bus lintas Sumatera, kemudian beralih ke taksi online. Dalam perjalanannya selama 3 tahun banyak suka duka menjadi pengemudi online ini. Pernah satu kali, ada penumpang yang mengaku ketinggalan berlian. Setelah dicek di jok belakang memang ada seperti berlian, tapi ia tak paham asli atau palsu. Akhirnya, ia harus mengantar berlian itu ke rumahnya di Tangerang, padahal posisinya saat itu sedang di Bekasi, tanpa ganti ongkos kirim. “Ya…begitulah dukanya jadi pengemudi online”, ujar dia.

Pernah, suatu kali kurang lebih pukul 22.00 WIB, Robert mendapat order dari salah satu perkantoran di daerah Casablanka, Jakarta Selatan. Penumpang itu memperkenalkan diri bernama Rina (35), gadis, tinggal di salah satu apartemen di bilangan Jakarta Barat. Ia menjadi penumpang yang baik, hanya saja awalnya duduk di belakang, kemudian minta duduk di depan samping pengemudi. 

Beberapa saat setelah ngobrol kesana kemari, kemudia Rina mengajak nikah Robert dan meminta untuk tinggal bersama di apartemenya. Mendengar ajakan itu, Robert menjawab, mbak Rina, saya ini sudah 54 tahun, orang miskin, juga sudah punya keluarga istri dan anak. Kini, saya mengontrak rumah di Bekasi. Dengan memberi jawaban apa adanya ini, harapan Robert agar wanita tersebut mengurungkan niatnya mengajak nikah dengan dirinya. Ternyata, Rina memberi jawaban di luar dugaannya.

“Ngak papa bapak sudah berkeluarga, ngak masalah. Kan bisa seminggu sekali pulang ke bekasi, nginap di apartemen, siang bisa tetap narik online. Selain itu, setiap pekan saya kasih 2 juta rupiah”, rayu Rina.

Mendengar jawaban Rina, Robert tetap dengan pendirian semula, tak mau menerima tawaran Rina untuk menikahinya. Ia menyarankan agar Rina Menikah dengan pria lain yang lebih muda dan lebih baik secara ekonomi dan penampilannya. “Saya doakan semoga mbak Rina segera menemukan jodohnya”, ujar Robert mengakhiri permbincangan perjalanan malam itu.

Dari dua kisah di atas, ada satu pelajaran yang dapat diperoleh yakni kemampuan menata hati. Sebuah upaya merenung, mempertimbangkan dan bertanya kepada dhomir (hati kecil) kita agar sikap, keputusan dan perilaku yang diambil tidak salah. Bukan hanya sekedar mengikuti hawa nafsu, keinginan, kenikmatan dan kemudahan yang terlihat nyata di depan mata. Tapi juga mampu melihat, memperkirakan kemungkinan dampak buruk dan negatif yang akan timbul berikutnya.

Irfan dan Robert, keduanya memiliki kemampuan menata hati yang baik, dengan bertanya kepada hati kecilnya, sehingga dapat melampaui tantangan yang sedang di hadapi dengan mulus. Terhindar dari cara buruk yang dapat menambah buruk keadaan dalam jangka panjang. Ia mampu menghindar dari pikiran instan, prakmatis dan aji mumpung. Mereka kuat menghadapi kesulitan dan tangguh menepis rayuan kenikmatan yang terasa nyata.

Nah, apa hati kecil itu. Yakni, perasaan paling dalam yang ada pada hati setiap manusia. Hati kecil akan memberi pertimbangan tersendiri dan berbeda dengan fakta umum yang kasat mata. Ia lebih dekat dengan doa seseorang kepada TuhanNya untuk mendapatkan yang terbaik menurutNya, bukan menurut manusia. Sekalipun manusia menyadari diberi akal pikiran untuk berpikir. Tapi sangatlah lemah dan terbatas, maka mereka melibatkan Yang Maha Kuasa dalam porsi besar dari setiap urusannya. Seharusnya kita selalu menata hati dengan bertanya kepada  dhomir (hati kecil) dan melibatkan Yang Maha Kuasa dalam setiap urusan. Sudahkah kita melakukannya ?

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *