Agustus 2019Lentera

Akhir Dari Baik

Bagito (57) salah satu ASN di Kementerian Kesehatan, mengatakan dulu ketika bekerja di bagian keuangan, setiap saat yang terpikir dalam benaknya selalu uang dan uang. Setiap hari hampir pasti mendapatkan sejumlah rupiah, besaranya bervariasi. Secara nyata rupiah itu mengalir, sehingga tak pernah sampai kosong tak punya uang. Waktu itu, kerja luar biasa sibuk hingga larut malam baru pulang kerja, karena mengejar berbagai target yang telah ditetapkan pimpinan.

Saat itu, waktu hanya untuk bekerja, istiarahat dan makan banyak terabaikan, terkadang kerja keluar kota, sehingga urusan makan dan istirahat hanya sekenanya, selagi sempat. Demikian pula berkumpul bersama keluarga, juga tak ada waktu khusus, hanya waktu yang tersisa, sebab sabtu-minggu terkadang lembur di kantor dan kerja luar kota. Pokoknya, ‘kerja, kerja, kerja’ dan output-nya ‘uang, uang dan uang’.

Memang saat itu, rekening lebih gendut, beberapa nomor rekening pribadi terisi, bukan sekedar rekening gaji semata. Tapi ada rekening lain yang dipergunakan untuk menampung penghasilan di luar gaji. Anehnya, penghasilan di luar gaji lebih besar,bahkan bisa 3 atau 4 kali lipat gaji yang diterima setiap bulannya. Sehingga banyak keperluan dan kebutuhan hidup keluarga dengan mudah dipenuhi, termasuk kebutuhan sekundernya.

“Sekalipun banyak uang, saya sering merasa ada kegalauan yang luar biasa, sehingga ketika malam hari dalam keadaan lelah dan ngantuk, kesulitan untuk bisa segera tidur. Terkadang sampai larut malam, bahkan menjelang pagi, baru tertidur, menjelang subuh sudah terbangun lagi, karena tuntutan harus segera sampai kantor untuk bekerja kembali. Akhirnya, di kantor terasa lelah dan lemas”, ujar Bagito mengenang masa lalunya.

Menjelang pensiun, beberapa tahun terakhir ini saya mendapat tempat kerja  dengan tugas pokok dan fungsi teknis, tak terkait langsung dengan keuangan dan dinas luar kota. Setiap hari seluruh pekerjaan diselesaikan dalam kantor, bahkan satu tahun hanya 2 kali ke luar kota. Jadi tak ada tambahan lumpsum dan transport perjalanan luar kota. 

Sebab itu, Bagito dapat menyelesaikan pekerjaan tepat waktu jam kantor, tak ada lembur atau membawa pekerjaan ke rumah. Sampai kantor lebih pagi, karena pulang kantornya juga tepat waktu. Sampai rumah masih sore, jadi sempat ketemu keluarga, warga dan shalat berjamaah di Masjid lingkungan rumah.

Secara finansial, memang ada penurunan pendapatan, rekening yang dulu gendut, kini sudah ramping dan langsing, bahkan beberapa rekening sudah tutup karena tak berisi lagi. Sekalipun demikian, alhamdulillah seluruh kebutuhan hidup, termasuk biaya sekolah dan kuliah anak-anak tetap tercukupi dan tak ada yang berkekurangan. Semua anak-anak lulus sekolah dan kuliah dengan nilai yang baik.

“Hanya saja, saat ini saya merasakan ada ketenangan jiwa, rasa syukur yang mendalam kepada YME atas nikmat dan karuniaNya, serta adanya rasa aman, nyaman dan terima kasih yang banyak kepada semua pihak khususnya orang tua, keluarga dan sahabat handaitolan”, kata Bagito

Bagitopun merasakan kelegaan hati, kepasrahan total atas hidup dan mati kepadaNya. Susah-senang, lapang-sempit, kaya-miskin, sehat-sakit dan kondisi apapun, semua kuserahkan kepadaNya dengan rasa tulus ikhlas, bahkan tak ada rasa kecewa dan duka atas kehendakNya. “Semoga rasa lega dan bahagia ini terus berlangsung hingga Tuhan menjemputnya”, ujar Bagito mengakhiri ceritanya.

Banyak contoh dan pelajaran yang bisa kita ambil dalam hidup ini, baik dari kisah diri sendiri maupun orang lain, sehingga kita dapat mengambil hikmah dari setiap peristiwa. Bila hal itu positif, bagaimana belajar cara mencapainya. Begitu juga sebaliknya, bila hal itu negatif, maka berusahalah untuk menghindarinya. Nah, pelajaran apa yang dapat kita petik dari kisah Bagito di atas ?

Pertama; manusia tidak pernah tahu takdirnya. Siapa jodoh, rezeki, tempat tinggal dan azalnya. Ada seorang yang bercita-cita menjadi dokter, tapi takdirnya menjadi pengusaha mebel. Ada juga yang tidak ingin jadi ASN, tapi takdirnya malah menjadi ASN. Sebaliknya, ada yang sangat ingin jadi ASN, tapi sampai akhir hayat tak pernah kesampaian cita-cita ASN itu. Jadi manusia hanya bisa berikhtiar dan berdoa, tapi takdir akhir menjadi kewenangan Yang Maha Kuasa. Sebab itu, jangan pernah ada dalam diri kita berkata dan bersikap mendahului takdir.

1 2Laman berikutnya

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button