Info SehatNovember 2019

Ayo, Jangan Sampai Lupa Sarapan

Tidak sedikit orang yang sering mengabaikan pentingnya sarapan sebelum memulai aktifitas pada hari tersebut. Anggapan bahwa sarapan untuk sekedar menghilangkan rasa lapar merupakan salah satu alasan yang sering dikemukan oleh orang yang enggan mengawali harinya dengan sarapan.

Hal tersebut juga diperkuat oleh  beberapa hasil penelitian di dunia bahwa sebagian besar anak dan remaja di dunia enggan untuk sarapan. “Banyak penelitian di dunia yang menyatakan sekitar 10-30% anak dan remaja tidak pernah secara rutin melakukan sarapan. Kalaupun mempunyai kebiasaan sarapan, tetapi kuantitas dan kualitas makanan yang dikonsumsi tidak memadai untuk dapat disebut sebagai energi awal bagi hari itu,”demikian informasi yang ditulis oleh Staf Divisi Nutrisi dan Penyakit Metabolik Departemen Ilmu Kesehatan Anak FK Univ. Indonesia – RS Cipto Mangunkusumo, Jakarta, Titis Prawitasari, dalam artikel yang tersedia pada aplikasi Primaku.

Menurut Titis, sarapan merupakan kebutuhan tubuh yang seharusnya dipenuhi mengingat dalam waktu sekitar 6 jam telah “berpuasa”dari berbagai asupan karena istirahat tidur. Selain itu, pada anak, dengan mengonsumsi sarapan yang adekuat akan dapat meningkatkan kemampuan daya ingat, konsentrasi, kemampuan memecahkan masalah, serta menganalisis sesuatu. Peningkatan kemampuan ini tidak saja berlangsung setelah kegiatan sarapan dilakukan, tetapi juga memengaruhi kinerja dan kemampuan di hari tersebut.

“Sarapan mempengaruhi kerja otak lewat dua mekanisme, yaitu: meningkatkan efisiensi proses berpikir serta menyediakan zat gizi yang esensial bagi sistim saraf pusat. Sarapan yang dilakukan dengan rutin juga terbukti membawa pengaruh positif terhadap metabolisme tubuh. Insulin akan menjadi lebih sensitif sehingga gula darah relatif terkontrol. Kadar kolesterol bebas dan trigliserida terjaga, sehingga dalam jangka panjang akan memberi efek yang baik bagi kesehatan jantung.,”terang Titis.

Lebih lanjut Titis mengatakan, sarapan yang dilakukan secara rutin terbukti dimiliki oleh individu dengan indeks massa tubuh yang lebih rendah, artinya anak yang secara regular melakukan kegiatan sarapan memiliki risiko lebih kecil untuk mengalami kegemukan. Terbukti pula, rutinitas sarapan juga menjamin terpenuhinya kebutuhan vitamin dan mineral yang dibutuhkan dalam tubuh.   

Menu Sarapan Yang Tepat

Lantas, menu atau makanan apa yang tepat untuk dijadikan santapan pagi sebelum memulai aktifitas? Dijelaskan oleh Titis, sebetulnya tidak perlu menu khusus, namun sebaiknya  merupakan bagian dari menu diet seimbang. 

Untuk itu bisa terdiri dari gabungan antara karbohidrat yang simpleks yang cepat memberi energi dan karbohidrat kompleks yang dapat mempertahankan gula darah stabil lebih alam (indeks glikemik yang rendah). Tetapi tetap juga diperlukan protein dan lemak dalam komposisi sarapan untuk memberikan rasa kenyang dan berkontribusi dalam pemenuhan kebutuhan sehari-hari.

“Idealnya 50% dari energi yang didapat dari sarapan berasal dari karbohidrat. Oleh karenanya sereal dan produk susu sering menjadi pilihan,”jelas Titis.

Namun Titis tidak ingin menu sarapan sebatas seperti contoh yang telah disebutkan di atas saja. Menurutnya menu sarapan bisa menyesuaikan dengan kebiasaan, sosial budaya dan ketersediaan bahan yang ada di rumah. “Dan jangan lupa, orangtua harus menjadi panutan dalam menanamkan kebiasaan yang baik ini,” pungkasnya.

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *