Desember 2019Lipsus

Kolaborasi Kunci Penting Atasi Stunting

Era kolaborasi menjadi kunci keberhasilan penanggulangan stunting. Beberapa kepala daerah membuktikan temuan data anak yang mengalami stunting tak perlu ditutupi. Sikap terbuka kepada publik tersebut mendorong masyarakat bersedia bergerak bersama.

“Solusinya rembuk stunting, strategi konvergensi desa diperkuat Peraturan Bupati tentang konvergensi melalui aturan aksi pencegahan stunting terintegrasi. Berkat kepedulian masyarakat dan pemda, Sulawesi Tenggara menjadi daerah dengan angka stunting terendah pada 2017,” urai Kepala Dinas Kesehatan Banggai, Sulteng Dr. dr. Anang S. Otoluwa, MPPM ketika memaparkan keberhasilan daerahnya di hadapan ratusan peserta Rakerkesnas 2019 beberapa waktu lalu.

Kerja bersama lintas sektor bangkit karena data Riskesdas 2013 lalu, menurutnya memang menohok para pengambil keputusan di daerahnya. Saat itu, imbuhnya, Sulteng dinyatakan provinsi dengan jumlah anak stunting tertinggi. Untuk memperkuat temuan tersebut, pemda mengukur ulang melalui bantuan 13 orang peneliti profesional. Hasilnya memang stunting terkonsentrasi di 10 desa dengan sumber masalah utama saat fase prakonsepsi.

Lain lagi dengan temuan stunting di Pasaman, Sumatra Barat yang sebagian besar terjadi akibat masalah sanitasi. Bupati beserta ninik mamak di 10 nagari berkomitmen dua tahun tuntas menyelesaikan pembangunan fisik jamban. Walhasil, anak stunting berhasil turun dari 29,6 persen menjadi 5,4 persen pada tahun 2018 lalu.

Penanganan stunting pun menjadi salah satu gerakan dan program prioritas nasional. Maka, pemerintah pusat dan pemda perlu terus mengedukasi pentingnya perbaikan gizi dan pola hidup sehat, penguatan layanan kesehatan dasar berkualitas, dan pembangunan infrastruktur sanitasi dan air bersih di wilayah-wilayah yang rawan gizi buruk.

Beranjak dari upaya maksimal para kepala daerah tadi, Direktur Jenderal Kesehatan Masyarakat, Kementrian Kesehatan RI, Kirana Pritasari mengakui, penting untuk mengajak mereka agar paham cara mengatasi stunting dengan menelusuri penyebab terbesar di daerah masing-masing.

Pasalnya, pemda adalah organ pemerintah yang paling mengetahui kondisi ekonomi, sosial, dan kesehatan masyarakat hingga ke lingkup terkecil. Dengan demikian, inisiatif intervensi diharapkan datang dari pemda.

“Ini kerja bersama untuk menjamin kecukupan gizi untuk balita dan ibu hamil dengan menggalakkan program imunisasi dan pemberian makanan sehat dan bergizi,” papar Prita di tengah side event Rakerkesnas 2019.

Stunting Bisa Jadi Ancaman Bonus Demografi

Solusinya, imbuh Prita, semua pihak bisa berkoordinasi lebih baik dalam melaksanakan program penanggulangan stunting. Lantaran jika tidak segera diatasi secara bersama di beberapa bidang terkait, stunting bisa menjadi ancaman terhadap bonus demografi.

“Bonus demografi akan menjadi peluang berharga jika diisi sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas. Sebaliknya jika diisi oleh SDM yang tidak berkualitas, antara lain akibat stunting akan menjadi ancaman terhadap pembangunan sosial ekonomi,” jelasnya.

Anak-anak yang lahir dan tumbuh dengan kondisi stunting, juga akan mengancam hilangnya potensi pendapatan negara. Di level inovasi pun, urai Prita, ketika dibandingkan negara lain akan terlambat. Padahal inovasi ini merupakan cerminan dari hadirnya manusia dengan penguasaan Iptek dan berdaya saing tinggi.

Pemerintahan tingkat desa juga harus didorong untuk membantu mengatasi stunting. Dana desa yang dikucurkan pemerintah pusat meningkat setiap tahun hingga kini mencapai Rp 60 triliun. Alokasinya diharapkan meningkatkan status gizi masyarakat, khususnya ibu hamil dan bayi yang baru lahir, meningkatkan edukasi kesehatan sejak dini, meningkatkan akses layanan kesehatan di desa, serta perbaikan sanitasi.

Dalam program 1.000 hari pertama kehidupan, misalnya, pemerintah menempatkan pentingnya perbaikan gizi. Oleh karena itu, dia menegaskan, di level daerah program tersebut pun harus sesuai kearifan lokal. Begitu pula optimalisasi layanan di posyandu, pelayanan bidan, edukasi terhadap ibu hamil dioptimalkan agar memiliki pertambahan berat badan antara 8-12 kilogram. 

Editor  : Prima Restri

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *