DaerahDesember 2019

‘PINTAR’ Menghapus Stigma Stunting Di Pasaman

Para pemangku adat Kabupaten Pasaman alias nini mamak tidak terima cap stunting dari Dinkes Provinsi Sumatera Barat disematkan bagi para balitanya. “Sepuluh nagari (desa) di enam kecamatan ditetapkan stunting, para nini mamak tidak terima dan menilainya tidak valid,” jelas Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Pasaman Amdarisman, SKM, S.H., M.Kes. saat ditemui Mediakom di sela Rakerkesnas 2019 lalu.

Stigma negatif tentang stunting yang lekat dengan kemiskinan membuat para tokoh masyarakat tersebut ‘malu’. Apalagi Pasaman hanya berjarak 12,2 kilometer dari Kota Padang atau hanya 30 menit jika berkendara dengan kendaraan roda empat

Angka dan Risiko Stunting

Hasil pendataan memperlihatkan, prevalensi anak-anak usia balita bertubuh pendek di Pasaman sebesar 55,2 persen dan di Pasaman Barat 51,54 persen. Nyatanya, memang jumlah anak yang terganggu pertumbuhan secara fisik atau bertubuh pendek ini menyebar di 10 nagari dan tercatat kasusnya mencapai 1.253 anak pada tahun 2017 lalu.

Berdasarkan data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) yang dilakukan setiap lima tahun, terdapat 15.025 balita berisiko stunting di Pasaman dan 23.435 balita di Pasaman Barat. Menurut survei yang dilakukan Dinas Kesehatan Sumbar tahun 2017, terdapat 21,5 persen balita di Pasaman yang berisiko tumbuh dengan tubuh pendek. Sementara di Pasaman Barat, angkanya 19,1 persen. Dari 100 bayi dan balita, ada 50 di antaranya tumbuh dengan risiko stunting

Amdarisman menyebutkan beberapa contoh, seperti Nagari Cubadak, Duokoto, jumlah balita stunting mencapai 415 orang anak. Disusul Nagari Ladang Panjang di Tigo Nagari 172 orang anak, Muaro Seilolo, Mapattunggul Selatan 164 orang anak, dan Ganggo Hilia, Bonjol 137 orang anak.

Berikutnya, Nagari Malampah, Tigonagari 102 orang anak. Binjai di Tigonagari 83 orang anak, Koto Kaciak, Bonjol 68 anak, Panti 52 orang anak, Kotorajo, Rao Utara 51 orang anak serta Nagari Simpang Tonang ada sembilan orang anak.

“Awalnya kami yakinkan stunting tidak perlu ditutup-tutupi, ekspose ke masyarakat justru memperluas informasi pencegahan dan penanganannya karena terkait pola hidup sehat masyarakat setempat,” jelas Amdarisman.

Rata-rata penyebab stunting di Pasaman muncul sejak bayi dalam kandungan. Akibatnya, setelah lahir tubuh bayi rentan terhadap penyakit. Pendekatan terhadap nini mamak pun langsung dilakukan oleh segenap pejabat daerah.

Canangkan PINTAR

Bupati Pasaman beserta 15 organisasi perangkat daerah turun mencanangkan sebuah program berbasis pengelolaan gizi dan sanitasi. “Bupati sudah mencanangkan Pasaman Bebas Balita Stunting dengan PINTAR,”ungkap Amdarisman.

Akronim PINTAR terdiri dari Periksa kehamilan secara rutin dan bersalin di fasilitas kesehatan, Ingat tablet tambah darah untuk ibu hamil dan remaja putri, Nutrizi yang cukup dengan gizi seimbang, Tuntaskan ASI eksklusif sampai bayi berusia enam bulan, Ayo imunisasi balita secara lengkap dan gunakan jamban sehat, Rutin ke posyandu untuk pantau pertumbuhan dan perkembangan balita.

Anggaran untuk mewujudkan PINTAR digelontor Rp 635 juta terutama bagi 10 lokus nagari pada tahun 2018. Dana ini hanya disalurkan untuk 16 kabupaten terpilih dari total 100 kabupaten/kota lokus stunting di Indonesia sebagai bentuk kemitraan Kemenkes dengan PKK kabupaten.

Tata kelola gizi, imbuh Amdarisman, diperkenalkan melalui cara membeli makanan di pasar hingga menu bergizi pada jam tertentu. Klastering para penerima makanan tambahan juga dilakukan bersamaan dengan penyuluhan per dua minggu.

Setelah dibantu Dinkes Pasaman, masyarakat setempat tinggal melanjutkan dengan berpedoman pada PINTAR.”Hasil kombinasi makanan bergizi sehat tadi dikelola  masyarakat dan PKK, sekaligus mereka juga dapat pekerjaan baru sebagai penyedia makanan di tiap lokus nagari,” urai Amdarisman.

Di nagari lainnya yang sangat terpencil, fokusnya menangani masalah jamban dan sumber air bersih. Pengembangan program PINTAR pada tahun 2019-2020 menggaet lembaga filantropi untuk mempercepat perbaikan masalah sanitasi yang masih mencapai 48 persen.

1 2Laman berikutnya

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button