DaerahDesember 2019

‘PINTAR’ Menghapus Stigma Stunting Di Pasaman

“Bupati komitmen dua tahun masalah stunting tuntas bersama komitmen ninik mamak nagari untuk membangun secara fisik sistem sanitasi atau jamban terlebih dahulu,” cetus Amdarisman.

Untuk penanganan stunting di 10 nagari, bakal dibangun jamban sebanyak lima per nagari. Hal tersebut disertai pembangunan sarana air bersih dan pemberian gizi dan makanan tambahan bagi ibu hamil dan balita.

Masalah Multidimensi Penyebab Stunting

Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Barat, dr. Merry Yuliesday, MARS, mengakui bahwa beberapa faktor mendorong kondisi anak bertubuh pendek di daerahnya. Semuanya berhulu dari minimnya fasilitas jamban di Pasaman dan Pasaman Barat.

Masyarakat, lanjut Merry, masih banyak yang buang hajat di sungai atau fasilitas MCK (Mandi, Cuci, Kakus) dengan kebersihan yang minim. Higienitas fasilitas MCK yang tidak terjamin juga memicu munculnya penyakit diare. “Anak-anak banyak yang mengalami diare, mempengaruhi asupan gizi makanan yang dikonsumsi. Dan berimbas pada tumbuh kembang yang tak maksimal,” jelas Merry.

Menurutnya, risiko stunting memang tidak lepas dari kondisi budaya masyarakat. Meski secara ekonomi orang tua memiliki kemampuan untuk memenuhi kebutuhan gizi anak, faktor lingkungan dan higienitas fasilitas MCK yang minim tetap bermuara pada ancaman penyakit diare. “Mungkin (orang tua) ada duit untuk beli telur mencukupi gizi, namun kebersihan yang kurang ini tetap mengarah ke risiko stunting tadi,” ujar Merry.

Penyebab stunting lainnya karena ibu hamil kekurangan makanan tambahan dan asupan gizi, sanitasi yang buruk, minimnya akses air bersih serta perilaku hidup tidak sehat.

Merry justru lega, Kabupaten Pasaman masuk dalam target prioritas penanganan stunting dari 1.000 desa di 100 Kabupaten oleh pemerintah pusat pada tahun 2018.

“Ibu hamil dan balita ini merupakan kelompok yang sangat rawan mengalami kekurangan gizi. Untuk itu, pemberian gizi dan makanan bagi ibu hamil dan balita harus diprioritaskan. Ini upaya pemerintah menanggulangi stunting,” katanya.

Jumlah balita stunting di Sumbar, sepanjang tahun 2015-2018 selalu di atas 20 persen akibat faktor multidimensi seperti praktik pengasuhan tidak baik maupun terbatasnya layanan kesehatan (antenatal care, post natal, dan pembelajaran dini berkualitas).

Editor  : Prima Restri

Laman sebelumnya 1 2

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *