Desember 2019Info Sehat

Waspadai Peningkatan Kasus Hepatitis A

Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Dirjen P2P Kemenkes RI), Anung Sugihantono, pernah mengatakan 1 kasus sirosis atau kanker hati dapat menghabiskan biaya Rp 1 miliar-Rp 5 miliar. Terkait peningkatan kasus Hepatitis A tahun ini, Kemenkes telah mengirimkan imbauan kepada Dinas Kesehatan (Dinkes) seluruh Indonesia, khususnya DKI Jakarta, Jawa Barat (Jabar), Jawa Tengah (Jateng), dan Jawa Timur (Jatim) terkait Hepatitis A

“Imbauan untuk seluruh Indonesia, karena tahun ini kasusnya meningkat. Secara khusus di Jabar, DKI, Jatim, dan Jateng,” jelas Anung, dalam konferensi pers pada 5 Desember 2019, di Kemenkes. 

Untuk mengurangi penyebaran, Anung mengimbau Dinkes memastikan masyarakat memahami penyebab, penularan, dan berperilaku hidup bersih dan sehat. Anung juga meminta masing-masing Dinkes memastikan seluruh fasilitas pelayanan kesehatan mampu memberikan layanan kasus. Fasilitas pelayanan kesehatan juga harus melakukan pencegahan serta melaporkan kejadian dugaan Hepatitis dan penyakit menular lainnya dalam waktu 1×24 jam.

Berdasarkan laporan yang diterima Kemenkes, pada pertengahan hingga akhir 2019, terjadi peningkatan kasus Hepatitis A di Indonesia. Di mana tahun 2019, sebanyak 8 Provinsi dan 11 Kabupaten/Kota mencatat peningkatan kasus Hepatitis AS. Angka itu lebih tinggi dari tahun 2018 yang sebanyak 5 Provinsi dan 8 Kabupaten/Kota dan dari tahun 2017 sebanyak 1 Provinsi dan 2 Kabupaten/Kota.

Sementara, kejadian kasus Hepatitis A pada 2019 sampai 18 Desember 2019 sebanyak 2.447 kasus. Angka ini meningkat dari 2018 sebanyak 564 kasus dan 2017 sebanyak 318 kasus. Penyebaran kasus Hepatitis A tahun 2019 tergolong cepat, dengan kejadian pertama diketahui pada Bulan Mei.

Hepatitis A mudah menular di tengah masyarakat yang tidak menerapkan gaya hidup sehat dan bersih. Sebenarnya berdasarkan hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2007, 2013, dan 2018 untuk proporsi penduduk yang buang air besar dengan benar mengalami peningkatan dari 71,1% ke 82.6 % dan ke 88.2%. 

Namun proporsi penduduk yang cuci tangan dengan benar, masih rendah, yaitu 23,2% (2007), 47% (2013), dan 49,8% (2018). Sedangkan proporsi penduduk dengan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat/PHBS menurun dari 38,7% di 2007 menjadi 32,3% di 2013. 

Data tersebut berkontribusi terhadap kondisi sanitasi lingkungan, kebersihan perorangan, sanitasi makanan, serta PHBS yang belum optimal. Kondisi tersebut juga menjadikan masyarakat Indonesia menjadi kelompok berisiko untuk tertular Hepatitis A.

Perhatikan Gejala 

Dari infografis yang diterbitkan oleh Subdit Hepatitis dan Penyakit Infeksi Saluran Pencernaan (HPISP), Direktorat P2PML, Ditjen P2P Kemenkes tahun 2019 menyebutkan, Hepatitis A adalah suatu penyakit infeksi pada organ hati yang disebabkan oleh Virus Hepatitis A (HAV). Hepatitis A bukanlah penyakit mematikan tapi mudah menular dan menyebar

HAV dapat ditemukan pada darah atau alat yang digunakan oleh penderita. Infeksi berlangsung ketika virus masuk dalam tubuh melalui beberapa kondisi. Antara lain, melalui fecal-oral atau virus dari kotoran terinfeksi masuk mulut lewat makanan/minuman /sex oral; makanan dan minuman dikonsumsi tanpa dimasak; tangan yang kotor; serta kebersihan perorangan dan sanitasi yang buruk.

Gejala Hepatitis A tidak selalu muncul pada orang yang terinfeksi HAV, kendati infeksi telah berlangsung selama beberapa minggu. Masa inkubasi virus tersebut memang dapat berlangsung selama 14-28 hari. Gejala biasanya mulai muncul 4 minggu setelah pajanan, tetapi dapat terjadi lebih cepat sekitar 2 minggu dan paling lama 7 minggu setelah pajanan. 

Gejala biasanya berkembang selama beberapa hari dan biasanya berlangsung kurang dari 2 bulan. Mskipun pada sekitar 10%-15% orang dengan Hepatitis A dapat memiliki gejala selama 6 bulan. Gejala yang ditimbulkan dapat bersifat ringan hingga parah. Tanda dan gejala yang diperlihatkan meliputi, demam, kelelahan, mual dan kehilangan selera makan, muntah dan urin bewarna gelap seperti teh; diare, kotoran bewarna tanah liat, nyeri sendi, dan penyakit kuning (mata dan pangkal kuku menguning).

1 2Laman berikutnya

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *