Januari 2020Lentera

Orangtua dan Anak, Sama Hebatnya

Banjir akhir tahun 2019 menyisakan cerita unik, langka, dan inspiratif.

Tak ada yang menduga hujan deras akan terjadi sepanjang malam tahun baru hingga pagi hari. Malam itu tak seramai seperti malam tahun baru sebelumnya. Suasana sunyi, tenang, sesekali ada suara petasan tertelan iringan suara rintik hujan. Syahdu!

Banjir, banjir, banjir,” begitu info dari grup WA dan media sosial. Orang kaget karena sudah banyak air tergenang di mana-mana. Perabotan rumah tangga mengapung, tak sempat diselamatkan.

Jakarta, Bogor, Depok, Tanggerang, dan Bekasi terendam air. Begitu berita media masa melaporkan.

Rumah yang dihuni Slamet (84) dan Kasih (74) juga ikut terendam. Keduanya hanya pasrah menunggu pagi, setelah menyaksikan air terus beranjak naik masuk ke dalam rumahnya, hingga setinggi pinggang orang dewasa di daerah Pelita, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan.

Kasur, meja, kursi, lemari beserta isinya terendam. Keduanya memilih membiarkan, karena sudah tak bertenaga untuk membereskan. Mereka hanya milih menyelamatkan diri di atas tempat tidur yang paling tinggi dalam rumahnya hingga pagi. Tak ada makanan tersedia hari itu. Tetangga juga tidak peduli karena semua mengalami banjir, menyelamatkan diri masing-masing. Hanya anaknya yang jauh dari tempat tinggalnya bertanya kabar melalui sambungan telpon.

Menjelang sore baru ada anak muda masjid sekitar yang datang mengantar makanan dan membantu membersihkan rumah, seiring dengan surutnya genangan air dalam rumah. Seluruh anak dan saudara tak bisa bantu karena sulit mengakses tempat kejadian. Baru 1 hari berikutnya, anak dan saudara bisa berkunjung, setelah susah payah menyelusuri genangan air.

Tiga hari setelah banjir, Slamet harus memeriksa jantung di rumah sakit dr. Suyoto Bintaro. Ia tak mau merepotkan anak dan tetangga. Setelah subuh, ia berangkat seorang diri dengan naik ojek untuk mengambil karcis antrean.

Karena baru pukul 14.00 ia bisa bertemu dengan dokter, Slamet memutuskan pulang naik ojek yang dipesankan secara online oleh orang lain.

Karena sudah pikun, Slamet yang pensiunan guru SD kembali ke rumah sakit pukul 10.00. Kemudian menunggu antrean di ruang 8. Slamet menduga itu adalah antrean dokter jantung. Ketika hari mulai siang, antrean habis, Ia bertanya kepada suster kapan dirinya diperiksa. Betapa kagetnya, ternyata jadwal dokter jantung pukul 14.00 siang. Slamet salah mengantre.

Dalam kebingungan itu, suster bertanya, “Pak Slamet, apakah tidak ada anak, saudara atau orang lain yang mendampingi kontrol?”

“Ada, anak saya lagi ke depan,” kata Slamet. Padahal Ia datang sendiri. Slamet tak ingin orang lain tahu dan merendahkan diri dan keluarganya dalam peristiwa itu.

Singkat cerita, anaknya datang menyusul, kemudian semua proses pemeriksaan jantung Slamet berjalan lancar, meski baru menjelang magrib Slamet mendapat obat untuk satu minggu berikutnya. Sedangkan obat untuk 3 minggu berikutnya harus menggunakan surat rujuk balik untuk mengambil obat dari apotik yang sudah ditunjuk.

Kejadian ini mengubah kebiasaan Slamet dan anaknya. Sejak saat itu, anak Slamet akan mendampingi sejak awal setiap melakukan kunjungan ke rumah sakit untuk periksa atau ke mana pun orangtuanya bepergian.

Pelajaran

Berangkat dari kisah Kasih dan Slamet, ada pelajaran yang dapat diambil bagi siapa saja yang pernah menjadi anak atau sedang menjalani sebagai orangtua.

Pertama, orangtua selalu berusaha mandiri dalam segala hal, terutama dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Tak pernah meminta kepada anak dan saudara. Namun, kalau ada yang memberi dan membantu, maka mereka akan menerima dengan senang hati.

Kasih, sebagai ibu rumah tangga, sering mendapat kiriman makanan dari anak yang tinggal di Bogor. Ria begitu panggilannya, kebetulan janda. Suaminya meninggal 4 tahun lalu. Ekonominya pas-pasan untuk membiayai hidup tiga anaknya. Setiap ada kesempatan, Ria silaturahmi ke orangtuanya. Tapi setiap dating, Ria diberi uang oleh Kasih, lebih banyak dari yang Ria keluarkan untuk orangtuanya.

“Saya enggak enak menerimanya, karena ibu lebih membutuhkan. Tapi ibu selalu bilang, Ria uang ini tolong diterima, bukan untukmu. Titip untuk cucuku. Kalau sudah begini terpaksa dengan berat hati menerimanya,” kata Ria.

Kedua, sebagai anak harus mampu menyelami perasaan dan cara pikir orangtua, karena antara yang terucap dengan keinginan yang tersimpan dalam hati sangat berbeda. Orangtua tak mau membuat susah dan merepotkan anak-anaknya.

Ketiga, orangtua dan anak saling mengasihi, memberi dan mengutamakan. Tak ada yang menuntut lebih butuh perhatian dan bantuan, apalagi saling menuntutnya.

Orangtua hebat, anak hebat. Orangtua sayang, begitu juga anak akan menyayangi. Sikap dan perilaku anak biasanya tak jauh dari orangtua. Ibarat pepatah, buah jatuh tak jauh dari pohonnya.

Oleh karena itu, mari kita sadari: anak-anak suatu ketika akan jadi orangtua, orangtua juga pernah jadi anak. Lakukanlah kepada anak dan orangtua, seperti melakukan untuk diri sendiri.

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *