Februari 2020Serba Serbi

Awal Mula Manusia Menggunakan Tanda Baca

Bisa dibayangkan seandainya beragam informasi yang ada dituliskan dalam rangkaian kata, tetapi tidak diberi tanda baca. Bisa jadi banyak orang akan bingung mengartikan ragam kalimat yang tertulis karena tidak adanya tanda baca. Penggunaan tanda baca menjadi sangat penting dalam bahasa tulisan sehingga memudahkan orang dapat memahami pesan yang disampaikan dengan mudah. Nah, kira-kira sejak kapan manusia tersadar akan pentingnya tanda baca dalam setiap tulisan yang dibuat?

Tulisan dari Keith Houston pada laman BBC, mungkin bisa menjadi salah satu rujukan untuk mengungkap sejarah penggunaan tanda baca oleh manusia. Menurut Keith, sosok yang memikirkan pentingnya tanda baca pada sebuah karya tulis adalah, Aristophanes, seorang kepala staf perpustakaan di Kota Iskandariyah, Mesir, pada abad ke-3 sebelum Masehi.

Terobosan yang dilakukan Aristophanes adalah menyarankan pembaca bisa memberi catatan pada dokumen mereka, menghentikan aliran teks yang tak berkesudahan dengan titik-titik di bagian tengah (·), bawah (.) atau atas (·) dari setiap baris. Bermacam titik terhubung dengan jeda pada kalimat yang pendek, menengah, dan makin panjang, dan pembaca bisa menyisipkan penanda dari apa yang disebut koma, titik dua, dan titik.

“Ini bukan tanda baca seperti yang kita kenal – Aristophanes memperlakukan tanda bacanya lebih untuk menunjukkan jeda sederhana dan bukan penanda tata bahasa – tapi benih awal telah ditanam,” tulis Keith.

Namun, seiring bergantinya penguasa pada masa itu, maka pundi-pundi dasar yang telah diletakan Aristophanes dihapuskan oleh Kekaisaran Romawi yang mengambil alih kekuasaan. ”Sayangnya, tidak semuanya teryakinkan akan nilai penting penemuan baru ini. Ketika Roma mengambil alih orang Yunani sebagai penguasa kekaisaran kuno, mereka meninggalkan sistem ‘titik-titik Aristophanes’ tanpa pikir panjang,” sebut Keith.

Kekuasaan Romawi mulai runtuh pada abad ke-5 masehi dan di sisi lain agama Kristen mulai berkembang di masyarakat. Seiring penyebarannya di Eropa, agama Kristen mendayagunakan penulisan, dan menghidupkan tanda baca.

“Di abad ke-6, para penulis Kristen mulai memberi tanda baca pada karya-karya mereka sendiri jauh sebelum pembaca membacanya, untuk melindungi makna aslinya. Kemudian, pada abad ke-7, Isidore of Seville, menjelaskan versi terbaru dari sistem Aristophanes -ia menata ulang sistem titik-titik berdasarkan ketinggian letaknya untuk menunjukkan jeda baca yang singkat (.), menengah (·) dan panjang (·),” terang Keith.

Ditambahkan oleh Keith, untuk pertama kalinya juga Isidore of Seville menghubungkan tanda baca dengan makna. Kemudian, menjelang akhir abad ke-8 Masehi, Raja Jerman Karl yang Agung memerintahkan kepada seorang biarawan untuk merumuskan susunan huruf-huruf yang harmonis.

“Seorang biarawan bernama Alcuin merancang alfabet terpadu dari huruf-huruf yang, kemudian kita kenal sekarang sebagai huruf kecil. Tulis menulis sudah beranjak dewasa dan tanda baca adalah bagian tak terpisahkan dari itu,” ungkap Keith.

Keith mengatakan, sebagian besar simbol tanda baca yang digunakan saat ini merupakan warisan sejak berabad-abad silam dan tidak mengalami perubahan. Keith mencontohkan beberapa tanda baca yang sudah dipakai sejak zaman sebelum Masehi. Garis miring dari Boncompagno da Signa turun derajatnya lalu menjadi koma modern, mewarisi nama Yunani lama seperti sebelumnya; titik koma dan tanda seru bergabung dengan titik dua dan tanda tanya; dan titik-titik Aristophanes mendapatkan kedudukan terakhir sebagai titik.

“Setelah itu evolusi tanda baca berhenti, mati, dihadang oleh standarisasi yang diberlakukan oleh percetakan,” timpal Keith.

Setelah kemunculan komputer maka geliat perkembangan tanda baca mulai muncul kembali. Tidak sekadar tergambar seperti simbol tanda baca di abad modern pun mengalami perubahan luar biasa.

“Para penulis abad ke-15 mungkin tak akan menemui kesulitan dalam mengidentifikasi tanda-tanda baca yang menghuni papan ketik komputer, tetapi mereka mungkin sedikit lebih terpana oleh emotikon dan emoji yang telah bergabung dengan tanda baca di layar kita,” lugas Keith.

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *