Februari 2020Ruang Jiwa

Menghadapi Situasi yang Tidak Diduga

“Manusia bisa mempersiapkan, akan tetapi Tuhan yang memutuskan”

Begitu lah kiranya pernyataan yang tepat mengingat di era yang modern ini dengan segala kemajuannya yang dielu-elukan, namun siapa sangka makhluk Tuhan yang sangat kecil yang disebut virus mampu membuat kedigdayaan manusia terasa memudar.

Wabah Covid-19 yang muncul di pengunjung tahun 2019 masih terus bergulir hingga saat ini. Berbagai aspek terdampak karena virus ini, salah satunya sebagaimana yang diberitakan bahkan sudah menyentuh aspek ibadah. Banyak jemaah umrah batal berangkat karena pemerintah Arab Saudi memutuskan untuk menutup “Kota Suci” Mekah dari kedatangan jamaah asal negara yang diduga terjangkit positif novel corona virus. Penutupan ini belum diketahui akan berakhir sampai kapan.

Dari peristiwa ini, disadari bahwa tidak semua calon jemaah umrah orang yang berekonomi mampu. Ada dari mereka yang harus menabung bertahun-tahun, mendaftar, dan mendapatkan kesempatan baru sekarang ini bukanlah suatu proses hal yang mudah. Paling menyedihkan pula dari peristiwa ini adalah banyak jemaah yang baru mengetahui tidak bisa berangkat umrah terjadi ketika sudah berada di bandara. Hal ini menunjukan bahwa semua orang tidak ada yang dapat menduganya bukan? Di saat ini lah manusia memunculkan sikap, yang dalam teori kedokteran dinamakan adversity quotion atau ketangguhan.

Mengenal ketangguhan

Dari teori ini bisa mengukur orang yang memiliki situasi yang diinginkan tetapi menemukan kenyataan yang berbeda, hal itu akan memunculkan berbagai macam reaksi. Reaksi yang timbul inilah yang kemudian akan menentukan adversity quotion seseorang. Apakah ia akan tangguh atau tidak dengan gempuran-gempuran situasi tidak terduga yang terjadi. Sebagaimana kiasan “nasi sudah menjadi bubur”, sejatinya kita dapat menyajikan “bubur” tersebut dengan menambahkan kacang, kerupuk, irisan daging ayam, dan sebagainya hingga menjadi bubur yang enak dimakan.

Pada situasi biasa tidak akan tampak, tetapi apabila terjadi situasi yang tidak diharapkan, maka keaslian karakter ketangguhan itu akan kelihatan. Pada saat inilah, karakter orang bisa digambarkan. Karakter tangguh ini tidak muncul tiba-tiba, bagaimana seseorang memiliki role model dan pola asuh sangat mempengaruhi.

Perlu digarisbawahi, ketangguhan tidak saja merupakan proses menyikapi sesuatu yang seseorang alami sejak tumbuh kembang, pola asuh serta dari kesadaran diri akan keterbatasan sebagai manusia. Tetapi yang penting adalah pernyataan diri untuk mengakui kebesaran yang Maha Kuasa.

Dokter sering mengatakan “kami hanya bisa mengobati, tetapi yang menyembuhkan Tuhan”. Itu adalah salah satu ungkapan ketidakberdayaan manusia, secanggih dan sehebat apapun. Artinya, ikhtiar itu suatu keharusan dan tidak dipungkiri ada keterbatasan manusia yang bermuara pada Tuhan. Ada keterbatasan yang harus dihadapi dengan tidak bisa memaki akal dan logika manusia. Pada titik itu memang tidak bisa menghindari adanya bentuk yang Maha Kuasa dan kedudukan itu kita tempatkan sebagai bentuk penghambaan.

Bagaimana unpredictable suatu kejadian dapat merespon ketahanan seseorang dalam menghadapi situasi. Unpredictable bukanlah sebuah kehancuran. Jika itu dimaknai ketidakberdayaan, maka orang akan berhenti sampai di situ. Ketidakberdayaan adalah proses introspeksi dengan semua variabel yang berkaitan dengan ketidaksesuaian. Ujungnya adalah, lagi-lagi, yang Maha Kuasa. Bukan semata-mata ikhtiarnya diabaikan, menyadari bahwa ada yang Maha Pemilik Kekuatan sebagai tempat bergantung, itu harus menjadi bagian proses kesadaran diri.

Bila hal ini terjadi, keseimbangan yang baru akan terlahir. Ikhtiar tetap harus dilakukan. Namun berserah diri, yang dalam bahasa agama adalah tawakal dan ikhlas merupakan solusi dalam menghadapi setiap situasi yang tidak diduga sebelumnya.

Manusia sering tidak belajar dalam mengambil tindakan. Jatuh dan bangun itu suatu keniscayaan. Yang menjadi persoalan bukan jatuhnya, melainkan bagaimana kembali bangun lagi. Kebiasaan ini yang kurang dipahami. Sadari lah semakin cepat dia bangun, maka semakin cepat dia bisa belajar untuk berdiri tegak setelah terjatuh.

dr. Fidiansjah, Sp.KJ, MPH

Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Masalah Kesehatan Jiwa dan NAPZA

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *