Februari 2020Media Utama

Ragam Terapi Untuk Perkembangan Anak

Seiring berjalannya waktu, bayi baru lahir akan berkembang menjadi balita yang mulai memiliki keahlian-keahlian baru seperti,merangkak, duduk, berjalan dan berbicara. Perkembangan tersebut akan terjadi sesuai dengan tahapan usianya.

Orang tua dapat memantau tahapan perkembangan anak melalui buku Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) yang didapatkan di posyandu atau di fasilitas pelayanan kesehatan, seperti puskesmas. Sehingga, apabila orangtua menemukan adanya gangguan perkembangan, seperti gangguan perkembangan motorik, gangguan perkembangan sensorik hingga gangguan perilaku, dapat segera mencari bantuan profesional.

Dengan bantuan profesional, menurut terapis klinik tumbuh kembang Rumah Sakit Anak dan Bunda Harapan Kita, Supriyanto, S.ST, anak dengan gangguan perkembangan bisa diberikan stimulasi, sehingga mampu mengejar keterlambatannya.

“Dokter akan menstimulasi, ‘O.. ini anaknya umur 3 tahun, misalnya kemampuannya di umur 2 setengah tahun, berarti keterlambatannya setengah tahun’, makanya kita kejar. Selama belum ada yang mengarah ke diagnose permanen itu masih bisa distimulasi,” terang pria yang akrab disapa Supri ini.

Supri menambahkan, semakin cepat stimulasi diberikan, semakin cepat pula bagi seorang anak untuk mengejar keterlambatannya. “Kalau hanya keterlambatan itu nggak lama sih paling 6 bulan, 9 bulan juga udah lulus,” imbuhnya.

Lebih lanjut Supri menjelaskan, jika keterlambatan perkembangan pada anak tidak segera diatasi akan semakin sulit untuk mengejarnya. Ia mengatakan, golden period perkembangan anak usia 0 sampai 3 tahun akan memperoleh proses yang lebih bagus dibandingkan anak dengan usia lebih dari 3 sampai 5 tahun.

“(usia 0 sampai 3 tahun) masih baguslah. Ini masih 100% bisa normal, kalau di sini (usia lebih dari 3 sampai 5 tahun) itu mungkin sudah 90%, kalau sudah di atas 6 sampai 10 tahun juga hasilnya akan lain,” katanya.

Berdasarkan penjelasan Supri hal ini terjadi karena prinsip terapi stiumulasi mengacu pada plastisitas otak. “Jadi kan plastisitas otak dimana, sinap, sinap itu lembar memori itu kan setiap hari ada pada anak, kalau tidak diterapi sejak dini itu mengejar keterlambatannya semakin jauh, semakin susah dan efeknya itu nanti, lembar memori yang tidak diisi ini akan gugur seperti daun,” terangnya.

Selain itu, apabila gangguan perkembangan pada anak tidak segera diatasi akan berdampak pada kemampuan intelegensinya.

“Kalau sehari anak tuh harusnya terima input yang masuk ke otaknya itu satu cangkir Cuma karena ada masalah mungkin takut, nggak berani, takut ke sentuh, takut ketinggian, takut keseimbangan karena ada problem di motorik kasarnya, motorik halusnya itu input yang masuk ke otak dia kan mungkin Cuma setengah cangkir. Lha sehari, seminggu, sebulan, setahun otomatis kan intelegensinya nanti berkurang. Dampaknya kepada perkembangan otaknya, ya kognitifnya,” urai Supri.

1 2Laman berikutnya

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *