Maret 2020Media Utama

Cara Efektif agar Tidak Tertular Covid-19

Pasca diumumkannya kasus positif COVID-19 pertama di Indonesia pada 2 Maret 2020, informasi seputar cara melindungi diri agar tidak terinfeksi virus ini banyak beredar. Namun, tidak semua informasi tersebut benar.

Oleh karena itu, mengetahu cara penularan virus ke manusia perlu diketahui untuk mencegah COVID-19.

Menurut WHO, COVID-19 dapat menyebar dari orang ke orang melalui percikan dari hidung atau mulut orang yang terjangkit COVID-19 saat batuk atau mengeluarkan napas.

Percikan tersebut kemudian jatuh ke benda-benda di sekitar, hingga orang yang tadinya belum terjangkit menyentuh benda tersebut. Selanjutnya tanpa sadar, tangan orang yang belum terjangkit itu menyentuh mata, hidung, atau mulutnya sehingga dapat terjangkit COVID-19.

Berikut ini adalah beberapa cara yang dapat dilakukan oleh masyarakat agar tidak tertular virus corona COVID-19.

Cuci tangan

WHO merekomendasikan untuk sering cuci tangan menggunakan air bersih mengalir dan sabun cair. Jika sedang beraktivitas di luar rumah dan tidak menemukan air mengalir, dapat menggunakan cairan antiseptic berbahan dasar alkohol karena ini diyakini dapat membunuh virus yang menempel di tangan.

Agar cuci tangan yang dilakukan efektif, harus diperhatikan cara mencuci tangan yang benar. Laman COVID-19.go.id menyebutkan langkah-langkah yang tepat untuk melakukan cuci tangan sebagai berikut: basahi tangan dengan air mengalir; sabuni tangan; gosok semua permukaan tangan, termasuk telapak dan punggung tangan, sela-sela jari dan kuku, selama minimal 20 detik; bilas sampai bersih dengan air mengalir; keringkan tangan dengan kain bersih atau tisu pengering tangan yang harus dibuang ke tempat sampah segera setelah digunakan.

Masker

Penggunaan masker direkomendasikan untuk orang yang memiliki gejala batuk dan pilek, tenaga kesehatan, dan orang yang merawat orang sakit. Penggunaan masker bedah atau masker N95 jelas tidak disarankan bagi orang yang tidak sakit atau mengalami gejala COVID-19 seperti demam, batuk, dan kesulitan bernapas.

Menurut Guru Besar Departemen Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Prof. dr. Ari Fahrial Syam, masker bedah tidak efektif digunakan oleh tenaga medis yang melakukan kontak dekat dengan pasien positif COVID-19. Dengan demikian saat dokter memberikan tindakan terhadap pasien positif COVID-19 maka akan mengunakan masker N95, bahkan ditambahkan dengan kacama goggle.

“Bagi dokter praktik yang sekadar berkomunikasi dengan pasien asimptomatik atau tindakan bukan untuk pasien COVID-19, masker bedah dirasa sudah cukup. Bisa pula memakainya saat berada di jalan guna menghindari kerumunan yang dicurigai positif,” kata Ari sebagaimana dikutip dari Republika.

1 2 3Laman berikutnya

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *