Maret 2020Resensi

Kisah Sang Pembuka Pintu Medali Olimpiade

Judul film : 3 Srikandi
Sutradara : Imam Brotoseno
Penulis : Swastika Nohara, Imam Brotoseno
Distributor : Multivision Plus
Tanggal rilis : 4 Agustus 2016 (Indonesia)
Negara : Indonesia
Genre : Biografi
Rating : PG-13
Durasi : 122 Menit
IMDb : 6,6/10

Film ini menceritakan perjalanan tiga orang perempuan yang berhasil meraih medali perak di cabang olahraga panahan beregu putri pada Olimpiade tahun 1998 di Seoul, Korea Selatan.

Mereka adalah Nurfitriyana Saiman, Kusuma Wardhani, dan Lilies Handayani. Ketiganya anggota tim panahan putri Indonesia yang mendapatkan julukan 3 Srikandi karena berhasil mempersembahkan medali pertama bagi Indonesia.

Kisah diawali dengan latar belakang pemboikotan Olimpiade Moskow 1980. Saat itu, atlet panahan Indonesia berprestasi, Donald Pandiangan (Reza Rahardian), yang terkenal dengan sebutan “Robin Hood Indonesia” gagal bertanding di Olimpiade. Padahal, saat itu Donald Pandiangan atau yang biasa dipanggil Bang Pandi adalah salah satu atlet panahan terbaik di dunia dan pemegang rekor dunia di sebuah kompetisi internasional.

Kecewa terhadap pemboikotan Indonesia di Olimpiade Moskow yang mengakibatkan dirinya gagal bertanding, Pandi mengundurkan diri dari dunia panahan.

Menjelang Olimpiade Seoul, Persatuan Pemanah Indonesia mencari kandidat pelatih untuk tim putri. Nama Pandi muncul sebagai kandidat kuat. Meski awalnya sempat menolak, Pandi akhirnya mau melatih tim panahan putri Indonesia dengan syarat, semua pelatihan harus mengikuti caranya.

Melalui seleksi, terpilihlah tiga orang atlet panahan putri yaitu Nurfitriyana Saiman (Bunga Citra Lestari) atau biasa dipanggil Yana, Kusuma Wardhani (Tara Basro) atau Suma, dan Lilies Handayani (Chelsea Islan) atau Lilies.

Yana, Suma, dan Lilies mulai berlatih di bawah didikan Pandi yang keras, disiplin, dan terkadang memakai cara-cara diluar kebiasaan, seperti berlatih memanah di atas tong besi, di pinggir pantai, di tengah hujan deras.

Film ini tidak hanya menceritakan perjuangan Yana, Suma, dan Lilies dalam berlatih, tapi juga sisi lain kehidupan pribadi mereka. Bahkan kalau di total secara keseluruhan, film ini 50 persennya membahas tentang cerita latar belakang keluarga dan emosi dalam setiap latihan yang dilakukan tokoh-tokoh utamanya.

Klimaks

Pada klimaksnya, film ini menampilkan adegan saat Yana, Suma, dan Lilies bertanding di babak final kejuaraan panahan di Olimpiade Seoul. Penonton disuguhkan visualisasi rakyat Indonesia di berbagai daerah yang sedang menonton televisi dengan penuh kecemasan, dan juga penonton di Seoul yang meneriakan kata-kata IN-DO-NE-SIA! berkali-kali. Adengan ini diperankan dengan sangat baik, sehingga mampu menimbulkan rasa haru dan nasionalisme yang tinggi.

Secara keseluruhan, film ini cukup keren dan menarik. Hubungan antara guru galak dan murid bandel dikemas dengan apik dan terlihat natural, didukung kemampuan akting para pemainnya yang memang sudah tidak diragukan lagi. Ada beberapa kelemahan yang terlihat, terutama dalam alur cerita, yang lebih banyak menceritakan kisah pribadi para tokoh utamanya.

Namun, film ini sangat layak untuk diapresiasi. Pemilihan pemain sangat pas dan melebur dalam karakter, dan film ini mampu membangkitkan rasa nasionalisme bagi siapapun yang menontonnya, serta menjadi cerita sejarah medali pertama yang Indonesia dapatkan di ajang Olimpiade.

Ferri Satriyani

Penyuka fotografi serta Penikmat film dan serial

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *