Maret 2020Ruang Jiwa

Mencegah Kepanikan di Tengah Wabah Covid-19

Saat Presiden Republik Indonesia Joko Widodo mengumumkan tentang dua orang warga Negara Indonesia (WNI) diketahui positif Covid-19 di Istana Negara, Jakarta (2/3), informasi ini dapat dilihat dari berbagai sudut pandang. Salah satunya adalah jawaban atas keraguan terhadap kemampuan Indonesia untuk mendeteksi penyakit yang juga termasuk dalam golongan corona virus ini.

Belum sampai 24 jam Presiden mengumumkan hal tersebut, Walikota Depok Mohammad Idris di hadapan wartawan menyampaikan bahwa kedua orang WNI yang positif Covid-19 itu merupakan warga Depok. Berita tersebut memunculkan kekhawatiran dari masyarakat, khususnya warga Depok.

Sayangnya, kekhawatiran yang timbul itu tidak diimbangi dengan informasi yang cukup untuk menghadapinya. Hal ini dikarenakan protokol penanganan Covid-19 belum tersosialisasikan dengan baik ke masyarakat sehingga yang muncul di permukaan adalah kepanikan.

Mengenal kepanikan dan dampaknya

Kepanikan merupakan respon kombinasi dari emosi, pikiran, dan perilaku terhadap ketidakpastian. Respon ini dapat ditunjukan secara fisiologis, dengan bentuk jantung berdebar-debar, berkeringat, dan kadang pada orang tertentu bisa sampai pingsan.

Beberapa contoh respon kepanikan juga dapat berwujud perilaku ekonomi atau istilah yang saat ini muncul di masyarakat panic buying, yaitu membeli barang-barang di luar batas kebutuhan dengan kuantiti yang melebihi kapasitas. Di sisi lain, ada juga orang yang memanfaatkan situasi ini untuk kepentingan pribadi menjadikan situasi sebagai ajang bisnis dan peluang-peluang yang tidak sehat, seperti menjual masker atau hand sanitizer dengan harga yang jauh lebih tinggi dari biasanya.

Kepanikan juga ditimbulkan dari miskomunikasi. Apa yang terjadi di Natuna di Februari lalu misalnya, ketika terjadinya penolakan masyarakat Natuna terhadap kedatangan 283 WNI dari China untuk menjalankan observasi selama 14 hari sesuai standar karantina kesehatan di sana.

Tergambar dari berbagai media massa dan media sosial bagaimana respon yang dihasilkan dari sebuah kebijakan. Di saat virusnya belum datang, tetapi berita-berita menakutkan sudah banyak beredar. Apa yang terjadi? Fokus permasalahan menjadi bukan pada virusnya melainkan pada aspek sosial. Bentuk perilaku sosial, ketika emosi dan perasaan sudah mendahului dengan wujud berupa aksi demo penolakan kehadiran orang yang diyakini pembawa virus.

Respon perilaku tersebut akan dapat teratasi dengan memberikan informasi beserta data-data dengan cara komunikasi efektif dan efesien. Proses peredaman menjadi lebih mudah bila dibandingkan dengan melawan virusnya itu sendiri. Tetapi, apabila terjadi kesalahan dalam pengelolaan informasi itu, mungkin hal-hal yang lebih menakutkan dapat terjadi.

1 2Laman berikutnya

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button