Maret 2020Media Utama

Menghentikan Penyebaran Covid-19 dengan “Rapid Test”

Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo, pada Kamis (19/3/2020) menyampaikan agar dilakukan rapid diagnostic test (RDT) atau yang lebih dikenal dengan rapid test (RT) secara massal di daerah yang berdasarkan hasil pemetaan rawan terinfeksi Covid-19.

Menindaklanjuti arahan tersebut, Juru bicara pemerintah untuk penanganan Covid-19, dr. Achamd Yurianto, mengatakan rapid test akan segerta dilaksanakan.

“Beberapa negara sudah melakukan hal ini dan kita pun juga akan melaksanakannya. Tujuannya adalah untuk secepatnya bisa mengetahui tentang kasus positif Covid-19 yang berada di masyarakat,” ujar Yuri.

Sebagaimana dilansir CNN Indonesia, WHO menjelaskan bahwa rapid test merupakan alat yang didesain untuk skrining awal saat sumber daya terbatas, memiliki kualitas tinggi, dan mudah digunakan. Kemudian, dilansir Katadata, rapid test dinilai lebih efisien dibandingkan swab test karena untuk mengetahui hasilnya tidak memerlukan waktu yang lama, sekitar 15 menit – 3 jam. Sedangkan swab test membutuhkan waktu 1 x 24 jam.

Peneliti dari Badan Litbankes Kementerian Kesehatan, Kambang Setiadji, dalam laman theconversation menulis, RDT dilakukan dengan mengambil sampel darah di ujung dari seseorang untuk kemudian mendeteksi timbulnya antibodi orang tersebut terhadap virus SARS-CoV-2 berupa antibodi IgM dan Antibodi IgG . Adanya antibodi IgM menunjukan respons tubuh pada tahap awal (respons akut) infeksi virus Covid-19, sementara antibodi IgG menunjukan tubuh pernah terinfeksi Covid-19.

“Hasilnya dapat dibaca secara visual pada alat RDT, seperti yang terjadi pada alat tes kehamilan. Pada alat RDT yang dipakai di Indonesia saat ini, jika hasil tes menunjukkan positif akan muncul dua garis pita warna merah (di garis C dan T) di garis kontrol, sementara jika hanya muncul satu pita merah (hanya di garis C) maka menunjukkan negatif. Hasil dapat diketahui sekitar 10-15 menit,” sebut Kambang.

Dikutip dari detikhealth, virus corona tidak hidup di darah, tetapi seseorang yang terinfeksi akan membentuk antibodi yang disebut immunoglobulin yang dapat dideteksi di darah. Melalui rapid test ini, orang yang sudah terinfeksi Covid-19 selama 7-14 hari atau lebih dapat terdeteksi.

Principal Investigator dari Stem-cell and Cancer Research Institute, Ahmad Rusdan Handoyo Utomo PhD, menyoroti kelemahan rapid test yang bisa memberikam hasil ‘false negatif,’ yakni muncul negative padahal sebenarnya positif. Hal tersebut dapat terjadi lantaran orang menjalani rapid test pada saat antibodi belum terbentuk.

“Dalam jurnal berjudul ‘Antibody Responses to SARS-CoV-2 in Patients of Novel Coronavirus Diseases 2019’, sensitivitas tes serologi itu sekitar 36 persen kalau tidak salah. Jadi, dari 100 kasus yang terkonfirmasi Covid-19, dia bisa mendeteksi sekitar 30. Jadi itu harus hati-hati,” sebut Ahmad sebagaimana tercantum dalam detikhealth.

Menyikapi kemungkinan “false negatif” dari hasil rapid test, Yuri menjelaskan bahwa untuk membentuk antibodi memang diperlukan waktu sekitar 7 hari. Sehingga apabila pada pemeriksaan pertama menunjukan negative, maka akan dilakukan pemeriksaan kedua yang diharapkan sudah terbentuk antibodi.

1 2Laman berikutnya

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *