April 2020Media Utama

Tetap Produktif Selama Di Rumah Saja

Pertengahan Maret 2020, sejumlah pelayaran dan penerbangan internasional dan domestik dibatalkan. Perguruan tinggi dan universitas mengirimkan siswanya ke rumah untuk menyaksikan kuliah daring. Sekolah umum melakukan pembelajaran jarak jauh melalui perangkat elektronik maupun stasiun TV. Kantor meminta karyawannya untuk kerja dari rumah (work from home). Tokoh agama meminta jemaah untuk beribadah di rumah. Konser, parade, festival, dan acara olahraga ditunda.

Seserius inikah pemerintah melakukan hal tersebut untuk menekan penyebaran COVID-19. Apakah pemerintah bereaksi berlebihan?

 Jawabnya, tidak. 

Pemerintah ingin melandaikan kurva COVID-19. Dengan melandaikan kurva, berarti sudah membantu sesama dan semestinya dapat menekan angka kematian.

Banyak penjelasan yang beredar di media sosial tentang pentingnya tinggal di rumah saja untuk melandaikan kurva. Penjelasannya hampir mirip satu sama lain, yaitu jika warga masyarakat mengambil langkah-langkah untuk memperlambat penyebaran virus, itu berarti jumlah kasus COVID-19 akan merentang dalam jangka waktu yang lebih lama. Dengan demikian, kapasitas sistem perawatan kesehatan negara kita untuk membantu semua orang yang sakit parah, akan lebih siap.

Peneliti Kara Gavin, dalam tulisannya di Michigan Health, mengatakan, “Jika Anda tidak memiliki banyak kasus yang datang ke rumah sakit dan klinik sekaligus, itu sebenarnya dapat menurunkan jumlah total kematian akibat virus dan dari penyebab lain. Dan, yang penting, itu memberi waktu bagi para akademisi, pakar dan pemerintah, serta industri, untuk menciptakan terapi baru, obat-obatan dan berpotensi vaksin.” 

Kerja dari rumah

Pemberlakuan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di sejumlah wilayah semakin menguatkan masyarakat untuk bekerja dari rumah (work from home – WFH). Namun, bagi kita yang tidak biasa bekerja dari rumah, ini dapat menimbulkan rasa tidak nyaman, menjengkelkan, dan mengecewakan.

Perubahan pola kerja yang mendadak dan tanpa persiapan bisa membuat stres. Dirjen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Achmad Yurianto mengimbau masyarakau untuk mengelola stres sebagai upaya menjaga daya tahan tubuh.

“Masyarakat untuk tetap menjaga imunitas tubuh dengan kelola stres, makan makanan bergizi seimbang, olahraga, istirahat cukup, dan jaga jarak dengan orang lain,” katanya pada jumpa pers jarak jauh di Gedung BNPB, Jakarta (17/4/2020).

 Sementara itu, psikolog, Deasy Amrin memberikan tips agar kita bisa menjalani WFH dengan lebih baik. Menurut Deasy perlu dibuat pola rutin agar tetap merasa punya kendali. Bangun tidur tepat waktu, berolahraga rutin. “Lakukan rangkaian aktivitas dengan teratur.”

Tips lainnya adalah dengan membuat batasan jelas dan berdisiplin antara waktu kerja dan waktu istirahat; jangan hanya mengandalkan email, pastikan efektivitas koordinasi misalnya lewat video conference; beristirahatlah sejenak, beranjak dari meja dan laptop; buat suasana kerja menyenangkan dan tetap memungkinkan untuk leluasa bergerak, cari sudut ruangan yang terang.

“Tambahkan bunga segar atau hidupkan suasana dengan musik,” tambah Deasy.

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *