Mei 2020Ruang Jiwa

Dr. dr. Fidiansjah, Sp.KJ, MPH : Mendidik Anak Dengan CERIA

Masa pandemi Covid-19 adalah momentum yang dapat digunakan para orang tua untuk mendekatkan diri dengan si buah hati, sehingga kelak menjadi generasi unggul pada masa mendatang. Hal ini mengingat hakikat utama sebuah keluarga adalah pendidik, pengajar, pemberi teladan, dan semua pembentuk pola asuh.

Situasi yang terjadi saat ini bisa dijadikan kontemplasi oleh para orang tua untuk memahami, bahwa setiap tumbuh kembang anak itu punya pendekatan berbeda. Orang tua yang kadang abai akan hal tersebut bisa megambil kesempatan saat ini untuk menata lagi, bahwa setiap anak punya kebutuhan yang berbeda sehingga pendekatannya pun berbeda.

Pada catatan kali ini, saya mencoba mengajak orang tua untuk mendidik anak dengan konsep CERIA (Cerdas intelektual, emosional dan spiritual; Empati dalam berkomunikasi efektif; Rajin beribadah sesuai agama dan keyakinan; Interaksi yang bermanfaat bagi kehidupan; Asah asih asuh tumbuh kembang dalam keluarga dan masyarakat).

Catatan Kritis

Uraian pertama dalam konsep CERIA adalah cerdas intelektual, emosional dan spiritual.

Situasi saat ini, anak-anak harus beajar dari rumah. Di sinilah orang tua harus berperan sebagai pendamping buah hati, mengajarkan anak untuk berbuat jujur, sekaligus memberikan rasa nyaman selama harus belajar dari rumah.

Catatan kritis saya, sering terjadi orang tua mengerjakan PR atau tugas anak supaya anak mendapat nilai yang bagus.

Itu keliru. Itu bukan pola asuh asih yang tepat, dan jelas tidak mengajarkan kecerdasan yang sesungguhnya. Boleh membantunya, tapi bukan berarti menyelesaikan tuntas.

Hal ini mirip dengan ilustrasi berikut ini. Ketika anak jatuh, seringkali orang tua tidak tega dan akhirnya mempercepat pertolongan. Padahal jatuhnya seorang anak dibutuhkan untuk tahu cara berdiri yang tegak. Nah, ini juga sama, hasil mengerjakan tugas yang tidak sempurna akan mengajarkan anak untuk berusaha, mencari solusi dan berkreasi lagi. Inilah yang disebut dengan emotional quotient.

Sementara itu, untuk kecerdasan spiritual bukan semata soal ritual keagamaan, tapi lebih kepada makna hidup. Makna orang tua dengan titipan amanah anak, yang diberikan tidak hanya sekadar hal biologis yang harus diberikan, anak-anak juga harus diberikan contoh-contoh yang disebut dengan apa makna yang harus kalian tangkap dari persoalan Covid ini?

Selama ini mungkin tidak ada kedekatan hati, tidak sempat sarapan bersama. Cobalah untuk meluangkan waktu. Ini masanya untuk saling berbagi, saling memahami. Dengan demikian kita tahu karakter anak  dengan seutuhnya, dan orang tua dapat memahami dan memberikan pengertian bahwa keluarga adalah sekolah utama, itu yang harus dibentuk. Ini pula yang disebut mencerdaskan intelektual emotional spiritual quotient.

Poin berikutnya adalah E, empati. Hal ini jelas tidak bisa tergantikan dengan teknologi. Kini kita memang bisa dengan mudah berkomunikasi via telepon, email, atau aplikasi berkirim pesan, tapi itu semua tidak bisa menggantikan nilai dari sebuah interaksi.

Kita bisa mengajak untuk menumbuhkan kebersamaan dengan menggunakan semua filosofi yang ada di dalam sistem tubuh kita.

Sebagai pembelajaran bersama anggota keluarga, kita bisa menyampaikan, “Mengapa telinga dua? Kenapa mulut satu?” Jawabannya, kita harus cermat dengan mata dua, mendengarkan dengan cermat, berkata betul-betul sudah terseleksi karena ditutup dengan gigi, ditutup lagi dengan mulut, jadi mengeluarkan kata-kata itu mengajarkan tentang suatu proses yang memang harus terselektif.

Selanjutnya R, rajin beribadah sesuai agamanya masing-masing. Momentum ini adalah kesempatan untuk beribadah bersama.

Demikian halnya dengan I, interaksi. Saat ini menjadi kesempatan untuk mengembangkan interaksi. Apalagi di tenga pandemi, mungkin saja suasana menjadi lebih individualistik, yang ini tentu perlu diperbaiki.

Interaksi harus solid, membangun kebersamaan, yang akhirnya masing-masing anggota keluarga tahu tentang karakter anggota keluarga yang lain. Kita memang dilahirkan dengan karakter yang berbeda, tapi perbedaan inilah yang sebenarnya akan menghasilkan suatu kebersamaan.

Berkait dengan hal tersebut, kita sampai pada poin terakhir, A. Ayo kembangkan Asah Asih Asuh di interaksi jadi lebih baik. Semua punya tanggung jawab yang sama dan sadar akan tanggung jawab tersebut. Keluarga adalah tim, maka selalu saya katakan yang dibutuhkan dalam konteks ini adalah superteam, bukan superhero.

Bayangkan kalau satu keluarga sudah terbentuk, adaptasi kebiasaan baru yang disebut new era, menjadi RT yang juga beradaptasi menjadi RW. Jadilah Program Indonesia Sehat melalui pendekatan keluarga seutuhnya.

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *