Mei 2020Profil

Drg. Saraswati, MPH : Belajar Dari Pengalaman Mengawal Program “Primary Prevention”

Ramah. Itu kesan pertama saat berjumpa dengan Direktur Pelayanan Kesehatan Primer (PKP), drg. Saraswati, MPH. Saras, begitu ia akrab disapa, lahir dari orang tua yang berprofesi sebagai dokter. Ayahnya dokter spesialis mata dan ibunya dokter umum. Diakui Saras, pengaruh orang tuanya sangat besar dalam menentukan pilihan profesinya sebagai seorang dokter gigi.  

Lulus tahun 1992 dari Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Prof. Dr. Moestopo Jakarta, setahun kemudian ia terjun mengabdikan diri melalui program Dokter Inpres. Dokter inpres merupakan istilah bagi dokter fresh graduate yang ikut wajib tugas.

Saras menjalani program tersebut Provinsi Sulawesi Selatan, daerah yang asing baginya karena sebelumnya Saras mengaku hanya akrab dengan Jakarta dan kota-kota di Pulau Jawa. Puskesmas Jumpandang dan Puskesmas Kaluku Bodoa menjadi lokasi Saras bertugas selama empat tahun.

Berbagai pengalaman, seperti bergaul dengan berbagai macam karakter dan kalangan serta belajar bahasa daerah setempat, menjadi seni tersendiri bagi Saras.

Karier

Tahun 1997 tugas wajib kerja telah berakhir, Saras pun kembali ke Jakarta. Ia kemudian  melamar kerja di Departemen Kesehatan. Setelah melalui proses seleksi, Saras diterima sebagai staf di Direktorat RS Khusus dan Swasta. Ia mulai bekerja pada tahun berikutnya. Namun, karena terjadi kerusuhan 1998, ia terpaksa hanya berkantor selama 2 minggu saja.

Setelah berkarier selama 2 tahun di Direktorat RS Khsusus dan Swasta, pada tahun 2000 Saras diberi amanah untuk mengemban tugas sebagai Kepala Sub Bagian Organisasi di Sekretariat Direktorat Jenderal Pelayanan Medik.

“Saya ingat benar saat itu, pas sekali saya sedang hamil besar dan sedang menunggu hari kelahiran anak pertama,” ujar Saras.

Tiga tahun kemudian Saras melanjutkan studi di luar negeri. Tahun 2003 ia berangkat ke Sydney untuk menempuh pendidikan program studi Magister Public Health di Universitas New South Wales. Saras lulus tepat waktu, tahun 2005 ia berhasil menyelesaikan studinya.

Tidak lama berselang, tahun 2006 Saras kembali aktif di Direktorat Jenderal Pelayanan Medik tepatnya di Sub Direktorat Pelayanan Medik dan Gigi Dasar.

Empat bulan kemudian ia bergeser posisi menjadi Kepala Seksi (Kasi) monitoring dan evaluasi. Sejak saat itu, ia beberapa kali pindah menempati jabatan yang menangani monitoring dan evaluasi. Di antaranya di Sub Direktorat Kesehatan Komplementer, Sub Direktorat Kesehatan Gigi, dan di Sub Direktorat Kedokteran Keluarga.

Hingga pada tahun 2016 ibu dua orang anak ini diangkat menjadi Kepala Subdit Pusat Kesehatan Masyarakat.

Saras tak mengira, hanya berselang satu tahun ia dipercaya menjadi Direktur Pelayanan Kesehatan Primer. Melalui proses lelang, ia berhasil menyisihkan beberapa pesaing yang juga rekan sejawatnya, menggantikan pendahulunya yang memasuki masa purnabakti, dr. Gita Maya Koemara Sakti, MHA.

Mengembalikan peran promotif preventif

Saras menjelaskan, salah satu fungsi Direktorat PKP adalah meningkatkan jumlah puskesmas dalam memberikan pelayanan sesuai dengan standar. Merujuk pada negara-negara maju yang memiliki indeks kesehatan primer yang baik, dengan kondisi masyarakat yang juga cenderung baik, menunjukkan upaya penguatan program promotif dan preventifnya pun baik.

Masyarakat di sana memeriksakan kondisinya tak hanya saat sedang sakit, saat sehat pun mereka tak segan mencari informasi kesehatan di sarana kesehatan primer, di klinik dan dokter keluarga. Mereka sadar bahwa kesehatan adalah aset. Direktorat PKP mengupayakan bagaimana masyarakat bisa memahami prinsip dalam hal menjaga kesehatan dan mengobati.

“Masyarakat harus memiliki mindset sehat, yakni mencegah lebih baik dari pada mengobati, dengan penguatan promotif preventif itu,” jelas Saras.

1 2Laman berikutnya

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *