Mei 2020Newsflash

Kesehatan Jadi Pertimbangan Penting Dalam Pelaksanaan “New Normal”

Kesehatan menjadi pertimbangan penting bagi pelaksanaan new normal di suatu daerah. Ada beberapa aspek yang harus dipertimbangkan, khususnya aspek epidemiologi kesehatan, sebab untuk menetapkan new normal suatu daerah, angka penurunan kasus positif Covid-19 setidaknya mencapai angka lebih dari 50 persen dari kasus puncak yang pernah dicapai daerah tersebut. Penurunan ini harus terjadi dalam waktu 3 minggu berturut-turut.

Selain itu, bila masih terdapat penambahan kasus, maka rata-rata penambahan kasus positifnya harus menurun di bawah 5% dari kasus yang diperiksa. Hal ini termasuk mempertimbangkan sistem penggunaan tempat tidur ICU dalam dua minggu terakhir dan sistem surveilans kesehatan yang telah diberlakukan.

Hal tersebut disampaikan Juru Bicara Pemerintah Indonesia untuk Covid-19 dr. Achmad Yurianto pada Konferensi Pers di Gedung BNPB, Jakarta, Minggu (31/5/2020).

Menurutnya, pemerintah telah melakukan kajian komprehensif di semua kabupaten/kota secara terus menerus bersama tim ahli, tim pakar, dan tim dari perguruan tinggi untuk memantau kondisi masing-masing kabupaten/kota. Berdasarkan penjelasan dari Tim Pakar Gugus Tugas Penanganan Covid-19 bahwa pelaksanaan new normal akan dilakukan secara bertahap. 

“Jadi new normal tidak mungkin dilaksanakan serempak di 514 kabupaten/kota, karena permasalahan masing-masing kabupaten/kota tidak sama,” jelas dr. Yurianto.

Ia menjelaskan, setelah new normal diputuskan, maka harus segera melakakukan sosialisasi kepada seluruh masyarakat di kabupaten/kota. Termasuk melakukan edukasi tentang apa yang harus dilakukan masyarakat dalam keadaan new normal.

“Apabila pelaksanaan new normal telah dipahami oleh masyarakat, maka perlu melakukan simulasi. Seperti pasar, terminal dan tempat umum lainnya, bagaimana  simulasi penerapan protokol kesehatannya,” tegas dr. Yurianto.

Ia menambahkan, apabila simulasi sudah dipahami dan diyakini masyarakat, maka new normal tinggal dilaksanakan. Oleh sebab itu, tidak boleh  menganggap new normal sebagai bendera start untuk lomba lari, kemudian semua bergerak bersama-sama.

“Oleh sebab itu, kebijakan new normal ini tidak dijadikan suatu euforia baru, bahwa kenormalan tersebut seakan-akan membebaskan masyarakat kembali beraktivitas secara bebas seperti sebelum pandemi Covid-19. Protokol kesehatan harus diterapkan pada semua tempat,” tegasnya.

 Data

Menurut dr. Yurianto, saat ini ada 102 kabupaten/kota yang tidak terdampak Covid-19, artinya di daerah tersebut tidak ditemukan kasus konfirmasi positif. Hal ini dapat dimaknai bahwa upaya untuk tetap menjaga diri jangan sampai terjadi penularan harus diutamakan.

Tidak ada jaminan bahwa daerah yang tidak terdampak akan aman dari Covid-19.

Ia menginformasikan, jumlah spesimen yang diperiksa sebanyak 323.376. Hasil positif bertambah 700, total 26.473 pasien positif Covid-19. Terdapat 5 provinsi yang masih tinggi kenaikan jumlah kasus positif antara lain Jawa Timur bertambah 244, DKI bertambah 42, NTB bertambah 42, Jawa Tengah bertambah 37, dan Sulawesi Selatan bertambah 31.

Sementara itu, provinsi yang tidak ada penambahan kasus antara lain Aceh, Jambi, Kalimantan Utara, dan Riau. Ada juga provinsi yang melaporkan penambahan satu orang antara lain Bangka Belitung, Kepulauan Riau, Lampung, dan NTT. Selanjutnya untuk pasien sembuh meningkat 239, total 7.308; dan pasien meninggal bertambah, 40 total 1.613. Orang dalam pemantauan (ODP) sebanyak 49.936, pasien dalam pengawasan (PDP) 12.913.

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button