Media UtamaMei 2020

Menelusuri Kemunculan Penyakit Lupus

Lupus merupakan salah satu bagian dari penyakit autoimun. Berdasarkan data WHO, lebih dari 5 juta orang terjangkit dan setiap tahunnya ada lebih dari 100 ribu kasus baru. Sebagai bentuk kepedulian terhadap penderita lupus, setiap tanggal 10 Mei seluruh negara memperingati Hari Lupus sedunia.

10 Mei diperingati sebagai  Hari Lupus Sedunia. Lupus adalah penyakit kronis serius yang mengubah hidup dan dapat berakibat fatal sehingga mengancam jiwa penyandangnya. Dibutuhkan pemahaman tentang lupus dan dukungan mendalam untuk orang yang terkena /ODAPUS (Orang dengan Lupus) dan keluarganya  yang terkena dampak penyakit ini. Demikian keterangan dari situs web Direktorat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular Kementerian Kesehatan.

Disebut juga sebagai penyakit seribu wajah, sampai saat ini lupus belum ditemukan obatnya. Padahal, jika ditelusuri, keberadaan penyakit ini sudah mulai dikenal sejak lama.

Laman lupus.org melansir, “Sejarah lupus dapat dibagi menjadi tiga periode: klasik, neoklasik, dan modern.”

Sejarah

Menelisik sejarah klasik, kata lupus yang berarti serigala diambil dari bahasa Latin yang pertama kali digunakan pada abad ke-13 oleh seorang dokter bernama Rogerius. Saat itu, sebagaimana ada dalam lupus.org, Rogerius menggunakan kata ‘lupus’ untuk menggambarkan lesi wajah erosif yang mengingatkan pada gigitan serigala.

“Lesi sekarang disebut sebagai discoid lupus, dijelaskan pada tahun 1833 oleh Cazenave di bawah istilah “erythema centrifugum,” sedangkan distribusi kupu-kupu dari ruam wajah dicatat oleh von Hebra pada tahun 1846,” sebut organisasi yang memang fokus pada kampanye peduli lupus ini.

Selanjutnya pada era neo-klasik, untuk pertama kali digambarkan lupus memiliki sifat gangguan sistemik yang dikenalkan oleh Kapopsi. Kemudian pada 1904, Osler di Baltimore dan Jadashon di Wina memperkuat keberadaan sistemik lupus.

“Selama tiga puluh tahun ke depan, studi patologis mendokumentasikan keberadaan endokarditis verukosa nonbakteri (penyakit Libman-Sacks) dan lesi kawat loop pada individu dengan glomerulonefritis,” sambung laman tersebut.

Pada era modern, perkembangan untuk mengungkap asal penyakit lupus mengalami kemajuan yang signifikan. Hal ini ditandai dengan penemuan sel Lupus Erythematosus (LE) oleh peneliti bernama Hargraves dan rekan-rekannya. Temuan ini juga mengantarkan pada kemungkinan untuk dapat melakukan diagnosa kepada seseorang, sehingga didapati bentuk penyakit yang lebih ringan. Pada fase tersebut juga ditemukan kortison sebagai pengobatan.

Pada sekitar tahun 1950-an dilakukan tes biologis-positif palsu untuk sifilis dan tes imunofluoresen untuk antibodi antinuklear.

Hasilnya menunjukkan bahwa lupus sistemik berkembang pada 7 persen dari 148 orang dengan tes positif palsu kronis untuk sifilis dan 30 persen lebih lanjut memiliki gejala yang konsisten dengan penyakit kolagen. Seorang peneliti bernama Friou kemudian menerapkan teknik imunofluoresensi tidak langsung untuk menunjukkan adanya antibodi antinuklear dalam darah individu dengan lupus sistemik.

“Selanjutnya, ada pengakuan antibodi terhadap asam deoksiribonukleat (DNA) dan deskripsi antibodi terhadap antigen nuklir yang dapat diekstraksi (ribonucleoprotein nuklir [nRNP], Sm, Ro, La), dan antibodi anticardiolipin; autoantibodi ini berguna dalam menggambarkan himpunan bagian klinis dan memahami etiopatogenesis lupus,” terang laman Lupus.org.

Sementara itu, Syamsi Dhuha Foundation menulis, pembuatan naskah proklamasi peduli lupus sedunia dilakukan pada tahun 2004 oleh perwakilan organisasi lupus dari 13 negara berbeda. Kemudian diproklamasikan hari lupus sedunia pada tanggal 20 Mei 2004 bersamaan dengan Kongres Lupus Internasional ke-7 di New York.

“Badan Kesehatan Sedunia (WHO) memperkenalkan dan memproklamasikan tanggal 10 Mei 2004 sebagai Hari Lupus Sedunia dan bersama dengan organisasi lupus dari seluruh dunia mengimbau masyarakat maupun individu untuk menggalang dana bagi penelitian lupus, dengan target program pendidikan untuk tenaga medis, pasien dan masyarakat umum serta memperkenalkan pada seluruh dunia bahwa lupus merupakan isu kesehatan masyarakat yang penting,” terang organisasi di Indonesia yang fokus pada isu mengenai lupus ini.

Pada 2019, hasil penelitian yang dilakukan dr. Simon Jiang mengenai penyebab penyakit lupus dituangkan dalam jurnal “Nature Communications”. Diketahui mutasi genetik langka merupakan penyebab utama seseorang dapat mengidap penyakit lupus.

Simon, sebagaimana dilansir Kompas.com mengatakan, “Untuk pertama kalinya kami menunjukkan bagaimana varian gen langka pada kurang dari 1 persen populasi manusia telah menyebabkan lupus. Sampai sekarang diperkirakan varian langka ini memainkan peran penting dalam penyakit terkait autoimun.”

Para pegiat peduli lupus berharap, kemajuan teknologi dan temuan baru mampu menjawab persoalan para penderita lupus selama ini, diagnosa yang cepat dan tepat serta ketersedian obat untuk kesembuhan para pasien penyakit ini.

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *