Media UtamaMei 2020

Sulitnya Mendata Pasien Lupus Di Indonesia

Menurut Pusat Data dan Informasi Kementerian Kesehatan (PusdatinKemenkes), mengutip WHO, diketahui penderita lupus di seluruh dunia mencapai 5 juta orang. Sementara itu, di Indonesia, jumlah penderita secara tepat belum diketahui. Salah satu penyebabnya adalah sulitnya menegakan diagnose bagi pasien.

“Kekeliruan dalam pengenalan penyakit lupus ini masih sering terjadi sehingga seringkali terlambat dalam diagnosis dan penatalaksanaannya,” demikian keterangan dari Subdit Penanggulangan Penyakit Paru Kronis dan Gangguan Imunologi (PKGI) Direktorat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular (Dit PTM) Kemenkes.

Penelitian terkait situasi lupus di Indonesia pernah dilakukan pada 2016 oleh Prof. Handono Kalim, dkk di Malang. Hasilnya, diperoleh prevalensi Systemic Lupus Erythematosus (SLE) di masyarakat sebesar 0,5% dari total populasi.

Pusdatin Kemenkes mencatat, “Dari sekitar 1.250.000 orang Indonesia yang terkena penyakit lupus (asumsi prevelansi 0,5% berdasarkan penelitian Kalim, dkk), sangat sedikit yang menyadari bahwa dirinya menderita penyakit lupus. Hal ini terjadi karena gejala penyakit lupus pada setiap penderita berbeda-beda, tergantung dari manifestasi klinis yang muncul.”

Berdasarkan data perhimpunan SLE Indonesia (PESLI) yang dikutip Pusdatin Kemenkes, didapati rata-rata insiden kasus baru dari 8 rumah sakit mencapai 10,5%, di mana  kebanyakan menyerang perempuan usia 15-50 tahun. Namun, juga dapat menyerang anak-anak dan pria.

Sementara itu, berdasarkan data Sistem Informasi Rumah Sakit (SIRS) Online yang dikelola Direktorat Jenderal Pelayanan Kesehatan Kemenkes pada tahun 2016, diperoleh data pasien rawat inap lupus di rumahsakit di Indonesia tahun 2016 berjenis kelamin laki-laki 54,3%, lebih banyak dibandingkan pasien perempuan (45,7%).

Pada tahun 2014, proporsi pasien perempuan lebih banyak dibandingkan laki-laki. Namun, proporsi pasien laki-laki menjadi lebih banyak dibandingkan pasien perempuan pada tahun 2015 dan meningkat pada tahun 2016.

Perhatian khusus

Laman FK UGM juga menyoroti peningkatan jumlah pasien rawat inap dalam kurun waktu 2014 dan 2016, yang mengalami peningkatan mencapai 2 kali lipat, yakni dari 1.169 kasus menjadi 2.166 kasus.

Pada kurun waktu yang sama, jumlah kematian juga mengalami peningkatan.

Dalam laman tersebut dikatakan, “Tingginya kematian akibat lupus ini perlu mendapat perhatian khusus karena sekitar 25% dari pasien rawat inap di rumah sakit di Indonesia pada 2016 berujung pada kematian.”

Sementara itu, Subdit PKGI Direktorat P2PTM Kemenkes mengonfirmasi sejumlah data yang berasal dari 2 rumah sakit. Data dari Poliklinik Reumatologi Departemen Ilmu Penyakit Dalam RSCM tahun 2009-2012 menunjukkan, terdapat 2.618 kunjungan pasien SLE baru maupun lama dari total 16.967 kunjungan, atau mencakup sekitar 15,4% (Data Divisi Reumatologi Dept Ilmu Penyakit Dalam RSCM).

Kemudian di Rumah Sakit Hasan Sadikin Bandung terdapat 291 pasien SLE atau 10,5% dari total pasien yang berobat ke poliklinik reumatologi selama 2010. Sedangkan data pada tingkat pelayanan kesehatan dasar terkati pasien lupus belum ada.

Upaya Kemenkes

Selain persoalan data penderita lupus yang belum tercatat dengan baik, kesadaran masyarakat akan bahaya penyakit ini juga masih kurang. Padahal, menurut Subdit PKGI, meski penyakit lupus tidak menular, tetapi masyarakat tetap harus mewaspadai.

Penyakit SLE yang tidak ditangani dengan baik, bila sampai berkelanjutan, bisa mempengaruhi kehidupan dan produktivitas penderitanya, maka diharapkan masyarakat harus waspada.

Sejumlah upaya dilakukan oleh Kemenkes untuk menggugah kesadaran masyarakat terkait penyakit lupus, di antaranya dengan menyebarluaskan informasi ke seluruh provinsi.

Selain itu, masyarakat diimbau untuk melakukan pemeriksaan lupus sendiri atau melaui fasilitas pelayanan kesehatan yang tersedia.

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *