LipsusMei 2020

Tetap Sehat Jiwa Saat Menghadapi Pandemi Covid-19

Pandemi Covid-19 tergolong sebagai bencana non-alam yang tidak hanya mengancam kesehatan fisik, tapi juga kesehatan mental setiap individu.

Menurut Badan Kesehatan Dunia (WHO), munculnya pandemi dapat menimbulkan stres pada berbagai lapisan masyarakat. Baik stres karena khawatir tertular Covid-19, stres karena terkonfirmasi Covid-19; hingga risau masalah finansial, pekerjaan, masa depan, dan kondisi setelah pandemi.

Walaupun sejauh ini belum terdapat ulasan sistematis tentang dampak Covid-19 terhadap kesehatan jiwa, tapi sejumlah penelitian terkait pandemi yang pernah terjadi (seperti flu burung dan SARS) menunjukkan adanya dampak negatif terhadap kesehatan mental penderitanya.

Penelitian yang dilakukan pada penyintas SARS menunjukkan bahwa dalam jangka menengah dan panjang, 41%—65% dari penyintas mengalami berbagai macam gangguan psikologis (Maunder, 2009).

Selain itu, sebuah penelitian di Hong Kong menunjukkan bahwa masalah psikologis pada penyintas SARS tidak berkurang dalam kurun waktu satu tahun setelah kejadian. Bahkan, diperkirakan 64% dari penyintas berpotensi mengalami gangguan psikiatrik (Lee, dkk., 2007).

Oleh karena itu, mengingat risiko peningkatan masalah kesehatan jiwa dan gangguan kejiwaan akibat Covid-19 di masyarakat, perlu dilakukan promosi kesehatan jiwa dan psikososial, pencegahan terjadinya masalah kesehatan jiwa dan psikososial, serta mendeteksi dan memulihkan masalah kesehatan jiwa dan psikososial melalui dukungan kesehatan jiwa dan psikososial (DKJPS) kepada masyarakat.

Secara global, istilah “Dukungan Kesehatan Jiwa dan Psikososial (DKJPS) atau Mental Health and Psychososcial Support (MHPSS) digunakan dalam Panduan Inter Agency Standing Committee (IASC) dalam situasi Kedaruratan, yang berarti dukungan jenis apa pun dari luar atau lokal yang bertujuan melindungi atau meningkatkan kesejahteraan psikologis dan atau mencegah serta menangani kondisi kesehatan jiwa dan psikososial. [*]

Boks

Bentuk DKJPS

Berikut ini bentuk Dukungan Kesehatan Jiwa dan Psikososial (DKJPS) bagi orang sehat, orang tanpa gejala (OTG), orang dalam pemantauan (ODP), pasien dengan pengawasan (PDP), dan penderita Covid-19, sebagaimana dirangkum dari “Buku Pedoman Dukungan Kesehatan Jiwa dan Psikososial pada Pandemi Covid-19”.DKJPS pada orang sehat

Peningkatan kesehatan jiwa dan psikososial kondisi kesehatan jiwa dan kondisi optimal dari psikososial dapat tingkatkan melalui Emosi positif (gembira, senang dengan cara melakukan kegiatan dan hobi yang disukai, baik sendiri maupun bersama keluarga atau teman; Pikiran positif (menjauhkan diri dari hoaks, mengenang pengalaman yang menyenangkan, positive self-talk, responsif terhadap kejadian, dan selalu yakin bahwa pandemi akan segera teratasi; Hubungan sosial yang positif (memberi pujian, memberi harapan antarsesama, saling mengingatkan cara-cara positif, meningkatkan ikatan emosi dalam keluarga dan kelompok, menghindari diskusi yang negatif, dan saling memberi kabar dengan rekan kerja, teman atau seprofesi; Secara rutin tetap beribadah di rumah atau secara daring.DKJPS pada OTG

Upaya promotif kesehatan jiwa dan psikososial OTG dapat dilakukan antara lain dengan cara sebagai berikut.Mengurangi stressor seperti mengurangi membuka media social, terutama tentang Covid-19 dan mendapatkan informasi yang benar tentang Covid-19.

Relaksasi fisik dengan menarik napas dalam, progressive muscle relaxation (relaksasi otot progresif), dan olahraga secara rutin.

Berpikir positif, yang dapat dilakukan dengan afirmasi/positive self talk, mengucapkan pernyataan-pernyataan positif tentang diri sendiri, keluarga, kehidupan, dan lain-lain. Dapat pula dilakukan dengan penghentian pikiran negatif yang mengganggu. Di samping itu bisa juga melakukan hipnotik 5 jari, menggunakan kelima jadi untuk memikirkan hal yang positif.

Mempertahankan dan meningkatkan hubungan Hal ini bisa dilakukan dengan saling menyapa, memberi pujian atau penghargaan dan harapan dengan memanfaatkan teknologi informasi, berbagi cerita positif melalui media sosial, serta berbagi perasaan dan pikiran pada orang yang dapat dipercaya.

DKJPS pada ODP

ODP yang isolasi diri di rumah

Penanganan yang diberikan untuk dukungan kesehatan jiwa dan psikososial pada orang sehat dan OTG dapat pula dilakukan oleh ODP. Jika gejala tidak teratasi, dapat menggunakan layanan online kesehatan jiwa yang tersedia di wilayah masing-masing.ODP diisolasi di Fasilitas Kesehatan Sekunder (RS tipe C dan D)

ODP yang diisolasi di Fasilitas Kesehatan Sekunder (RS tipe C dan D) mendapat layanan Kesehatan jiwa dan psikososial dari tim yang terlatih merawat di fasilitas kesehatan, seperti perawat yang merawat ODP menggunakan standar asuhan keperawatan kesehatan jiwa dan dokter yang merawat ODP menggunakan standar tatalaksana kesehatan jiwa.Dukungan keluarga untuk ODP

Dukungan keluarga juga dibutuhkan oleh ODP. Hal tersebut dapat dilakukan dengan mempertahankan komunikasi rutin dengan ODP melalui media social. Fasilitas kesehatan menyediakan media komunikasi antara ODP dan keluarga. Selain itu, memfasilitasi keluarga mengidentifikasi dan menghubungkan sumber-sumber di sekitar dalam memenuhi kebutuhan dan Komunikasi Informasi dan Edukasi (KIE) untuk keluarga, termasuk diberikan dukungan kesehatan jiwa dan psikososial OTG.Pelayanan Tim Kesehatan Jiwa

Pada pelayanan tim kesehatan jiwa dapat dilakukan oleh asuhan keperawatan, pelayanan medis, pelayanan psikologi, pelayanan pekerja sosial dan pelayanan kesehatan masyarakat.  DKJPS pada PDP

Pencegahan masalah kesehatan jiwa dan psikososial pada PDP dapat dilakukan dengan melaksanakan tindakan untuk orang sehat, OTG, dan ODP. Bila tidak ada perbaikan dapat berkonsultasi dengan tim kesehatan jiwa.

Untuk konseling psikiatri selama masa pandemi Covid-19 dilakukan secara daring baik melalui media sosial Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia (PDSKJI) Jaya atau melalui aplikasi SEHATPEDIA atau aplikasi sejenis.

Selain itu, layanan psikologi dalam masa tanggap darurat Covid-19 pada PDP dapat dilakukan oleh psikolog, psikolog klinis, sarjana psikologi, asisten psikolog, dan praktisi psikologi sesuai dengan kompetensi dan kewenangan masing-masing.

Seluruh informasi tentang layanan psikologi dapat mengakses link: https://bit.ly/bantuanpsikologi; serta https://bit.ly/relaksasipsikologis.DKJPS pada pasien konfirmasi Covid-19

Pasien Covid-19 yang telah dikonfirmasi biasanya akan memiliki gejala psikis seperti penyesalan dan kebencian, kesepian dan ketidakberdayaan, depresi, kecemasan, fobia, gelisah, dendam, dan kurang tidur. Oleh karena itu, mereka membutuhkan dukungan kesehatan jiwa dan psikososial.

Untuk pasien Covid-19 yang dirawat di rumah sakit dan menempati ruang isolasi,  pencegahan masalah kesehatan jiwa dan psikososial dapat dilakukan dengan melaksanakan tindakan untuk orang sehat, OTG, dan ODP. Bila tidak ada perbaikan dapat berkonsultasi dengan tim kesehatan jiwa. Kemudian untuk memberikan dukungan kepada pasien dapat dilakukan dengan mempertahankan komunikasi positif dengan pasien secara daring oleh anggota keluarga dan teman dekat.

Untuk pasien Covid-19 yang Dirawat di ICU, pencegahan masalah kesehatan jiwa dan psikososial dapat dilakukan dengan panggil nama pasien dan jelaskan tindakan yang akan dilakukan saat tenaga medis melakukan pemeriksaan, dan sedapat mungkin berikan pujian atas perkembangan kesehatan yang membaik.

Selain itu, bisa juga dilakukan dengan memperdengarkan musik yang lembut dan menenangkan dapat juga berupa ayat-ayat kitab suci, voice note yang positif dari anggota keluarga dan teman.

Tak hanya saat dirawat, tapi juga ketika pasien Covid-19 sudah sembuh dan pulang pun dukungan harus terus diberikan. Dukungan tersebut dapat dilakukan dalam bentuk perhatian dan tidak melakukan penolakan terhadap anggota keluarganya, tetapi lebih banyak menguatkan agar dapat melewati sakit dengan mudah, memberikan ruangan tersendiri agar dapat melakukan isolasi secara mandiri, menyiapkan berbagai fasilitas dan kebutuhan agar mampu menghadapi proses penyembuhan dengan baik.

Selanjutnya, keluarga  tetap harus mendapatkan informasi benar tentang status anggota keluarganya yang sembuh, dan memberikan nomor hotline untuk mendapatkan layanan psikologi secara daring.

Oleh karena itu, pasien dan keluarganya tidak dijauhkan dari interaksi sosial, tidak melakukan penolakan atau tetap memberikan kesempatan sebagai warga di lingkungannya, dan saling meyakinkan satu dengan yang lain tentang perlunya kehati-hatian, tapi tidak melakukan tindakan reaktif agresif pada pasien dan keluarganya, serta tetap mendukung lewat kelompok media sosial.

Kemudian apabila pasien Covid-19 meninggal dunia, untuk menghindari terjadinya stigma oleh masyarakat, maka diberikan KIE kepada tokoh agama dan masyarakat agar masyarakat dapat menerima dan mendukung keluarga yang ditinggalkan. [*]

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button