Juni 2020Resensi

“Eliana”

Judul : Eliana, recover dan retitle menjadi “Si Anak Pemberani”
Penulis : Tere Liye
No. ISBN : 978-602-8987-04-2
Penerbit : Republika
Tanggal terbit : Cetakan I, Januari 2011
Jumlah Halaman : 519 halaman

Buku ini bercerita tentang Eliana, si anak pemberani yang membela tanah, sungai, hutan, dan lembah kampungnya. Saat kerakusan dunia datang, Eliana bersama teman karibnya bahu-membahu melakukan perlawanan.

Latar novel menceritakan tentang sebuah desa yang sarat akan kekayaan alamnya, bahkan masih jauh dari sentuhan lampu-lampu neon. Desa yang masih memprioritaskan warisan leluhur.

“Aku Eliana, si anak pemberani, anak sulung bapak dan mamak yang akan menjadi pembela kebenaran dan keadilan. Berdiri paling gagah, paling depan.”

Eliana, sulung yang memiliki tiga adik kandung: Pukat, Burlian, dan Amelia. Sebagai anak sulung ia sangat diharapkan oleh mamak sebagai kakak yang bisa menjadi teladan yang baik bagi adik-adiknya.

Pernah suatu waktu, Eliana benci menjadi anak sulung karena ia yang selalu dimarahi oleh mamak setiap kali Amelia, Burlian, atau Pukat melakukan kesalahan. Hingga suatu saat ia menyadari bahwa: “Jika kau tahu sedikit saja apa yang telah seorang ibu lakukan unutukmu, maka yang kau tahu itu sejatinya bahkan belum sepersepuluh dari pengorbanan rasa, rasa cita, serta rasa sayangnya kepada kalian.”

Bertindak demi kebaikan

Eliana selalu menunjukkan bahwa ia adalah anak yang pemberani. Ia tidak pernah menangis untuk masalah yang sepele. Ia pertama kali menangis ketika ia merasa sakit hati Ketika bapak dihina sebagai keluarga miskin. Ia berteriak marah kepada orang yang menghina bapak, “Walau sederhana, sungguh keluarga kami tidak hina. Bapak tidak pernah mengambil yang bukan haknya, apalai menghidangkan nafkah busuk itu ke meja makan.”

Atas kemarahan Eli tersebut, bapak memberikan nasihat, “Jangan pernah bersedih ketika orang-orang menilai hidup kita rendah. Jangan pernah bersedih, karena sejatinya kemuliaan tidak pernah tertukar. Boleh jadi orang-orang yang menghina itulah yang lebih hina. Sebaliknya orang-orang yang dihinalah yang lebih mulia. Kalian tidak harus selalu membalas penghinaan dengan penghinaan. Bahkan, cara terbaik menanggapi olok-olok adalah dengan biasa-biasa saja. Tidak perlu marah. Tidak perlu membalas.”

1 2Laman berikutnya

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *