Juli 2020Resensi

Hos Tjokroaminoto, Sang Raja Tanpa Mahkota

“Evolusi Dan Revolusi Itu Hanya R Yang Membedakan, Dan R Itu Adalah Rakyat”.  Begitulah sepenggal kalimat yang ada didalam film Guru Bangsa, yang di ucapkan oleh HOS Tjokroaminoto saat berbicara dengan KH Agus Salim yang saat itu masih sangat muda. 

Film ini mengangkat kisah kehidupan Pahlawan Nasional HOS Tjokroaminoto (Reza Rahardian) dari muda sampai menjadi tokoh penting bagi bangsa Indonesia. 

Kisah dimulai dengan Tjokro kecil yang melihat penderitaan pekerja-pekerja perkebunan kapas yang dianiaya oleh mandormandor Belanda. Kegelisahan Tjokro terhadap keadaan juga diperlihatkannya di sekolah, dimana dia berani berdebat dengan gurunya yang asli orang Belanda, mengenai penjajahan Belanda di Indonesia.

Tjokro muda dibekali oleh ilmu agama islam yang kuat melalui seorang Kiai yang menjadi guru mengajinya. Petuah-petuah sang Kiayi menjadi patokan Tjokro dalam mencari jati dirinya, terutama mengenai konsep “Hijrah”. Saat beranjak dewasa, Tjokro dinikahkan dengan Soeharsikin (Putri Ayudya), dan memulai perjalanan hijrahnya, Tjokro pindah ke Semarang, lalu pindah lagi ke Surabaya, dan mendirikan Syarikat Islam. Rumah Tjokro yang merupakan kos-kosan, dihuni oleh pemuda-pemuda yang kelak menjadi tokoh besar pendiri bangsa, sebut saja Agus Salim, Soekarno, Musso, Semaoen, dan Kartosuwiryo.

Berlatar belakang tahun 1900-an dan dengan nuansa jaman dahulu mulai dari busana, transportasi, dan pengaturan tempat, mampu membuat penonton terbawa suasana klasik dan menimbulkan kesan gambaran kejadian pada masa itu. Dari sisi teknikal dan artistik, “Guru Bangsa” juga sangat memanjakan mata dan telinga. Penggunaan tone kecoklatan yang hangat serta pengambilan sudut yang tepat menjadikan film ini memiliki visual cinematik yang sangat indah. Tidak cukup lewat visual, musik latar juga hadir dengan cukup megah namun terdengar wajar.

Dari sisi makna film, dalam film ini kita dapat mengetahui sosok Tjokroaminoto sebagai seorang pemimpin yang memiliki karakter yang tenang, tegas, berintegritas dan cerdas. Kepada sesamanya ia rendah hati, menginspirasi dan membesarkan hati mereka. Saking idealisnya tokoh Tjokro, ia bahkan terkadang harus mengorbankan keperluan dan kepentingan pribadinya. Dalam filmnya ini juga menunjukkan bahwa seorang pemimpin pun juga tetaplah seorang manusia yang tidak sempurna dan tidak bisa memuaskan semua pihak. 

Dari sisi kemampuan akting, tidak perlu dipertanyakan lagi. Jejeran aktor dan aktris papan atas bergabung dalam fim ini, di antaranya Reza Rahardian, Christine Hakim, Sudjiwo Tedjo, Maia Estianty, (Alm) Alex Komang, Egi Fedly, Ibnu Jamil, Christoffer Nelwan, Putri Ayudya, Deva Mahenra, dan Chelsea Islan, yang kesemuanya mampu memberikan sinergi yang baik dan menonjol, namun terasa sangat pas dalam membentuk karakter tokoh utama. Film ini sangat layak untuk di konsumsi oleh pelajar dan mahasiswa, karena selain ceritanya dapat menambah semangat untuk mencintai sejarah bangsa Indonesia, juga dapat memberikan wawasan tersendiri terhadap apa yang jarang diketahui dari kisah perjuangan Hos Tjokroaminoto, serta dapat memotivasi untuk menjadi seorang pemimpin guna mengubah bangsa ke arah yang lebih baik. *

Judul Film:
Guru Bangsa: Tjokroaminoto
Sutradara: Garin Nugroho
Penulis: Christine Hakim,
Dewi Umaya Rachman,
Sabrang Mowo Damar
Panuluh, Didi Petet,
Nayaka Untara, Ari Syar
Produser: Pic[k] lock
Production
Tanggal Rilis: 9 April 2015
(Indonesia)
Negara: Indonesia
Genre: Biografi
Rating: PG-13
Durasi: 161Menit
IMDb: 7,3/10

Ferri Satriyani

Penyuka fotografi serta Penikmat film dan serial

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button