Agustus 2020Media Utama

Lelah yang Tak Berujung

“Ada sekitar 2 mingguan atau lebih (APD tidak standar) sampai hazmat datang, masker N95 yang banyak itu baru dua minggu kemudian,” sebut dr. Baskoro.

Selain kelengkapan APD yang belum tersedia, di awal menangani Covid-19 juga belum tersedia Viral Transport Media (VTM), suatu media yang diperlukan untuk menjaga virus tetap hidup setelah sampel swab diambil, agar nantinya dapat dilakukan pemeriksaan PCR.

Ketika mengirimkan sampel pertama kali, kisah dr. Baskoro, VTM yang dipakai merupakan hasil buatan rekan sejawatnya.

Kala itu, seorang teman sejawatnya merasa harus mulai menyiapkan VTM karena wabah Covid-19 sudah menyebar dari Wuhan ke Asia Tenggara. Akhirnya dibuatlah VTM sendiri, karena di rumah sakit tempat temannya bekerja ada fasilitas laboraorium khusus infeksi yang dapat juga digunakan untuk running PCR. Saat itu, dr. Baskoro memutuskan membeli 10 VTM dari kantong pribadi untuk persedian di rumah sakitnya, dan belum terpikirkan akan digunakan sehingga disimpan saja di kulkas rumah sakit.

“Hingga pada suatu saat ada pasien terduga Covid. Sudah mulai ketemu pasien Covid di Indonesia, kita melakukan swab menggunakan VTM apa adanya yang dibikin oleh rekan sejawat tadi, belum ada VTM komersil yang dijual secara bebas oleh lembaga penyedia,” paparnya.

Hingga akhir Agustus, mereka total telah mengambil sampel swab sebanyak 3.304 sampel. Sementara itu, untuk pemeriksaan antibodi, atau yang dikenal dengan rapid test, hingga 4.467 pemeriksaan.

Menurut dr. Baskoro, jumlah PCR yang positif lebih sedikit dari pada yang negatif. Begitu juga untuk yang reaktif antibodi lebih sedikit dari pada yang non-reaktif. Di sisi lain dr. Baskoro mengakui, pekerjaan yang sudah hampir 6 bulan yang dilakukannya untuk mengambil sampel Covid-19 cukup menguras tenaga dan membuat jenuh.

“Jujur saja untuk mengatasi kejenuhan, saya masih mencari cara untuk diri pribadi dan tim saya di laboratorium. Karena jenuhnya bukan sekedar jenuh, karena cemas juga suatu saat akan ketularan, mungkin membawa virus ini ke keluarga. Sampai saat ini masih dalam tahap exhausted, mereka yang benar-benar capek dan bosan dengan pandemi yang tidak berakhir ini,” ungkap dr. Baskoro.

Ia mengatakan, sampai saat ini masih mencari cara bagaimana mengurangi kejenuhan. Selama ini, salah satu cara yang dilakukannya adalah dengan menjalin hubungan baik dengan tim di laboratorium, mendengarkan keluh kesah sesama petugas, bahkan jika ada rekan yang marah dengan lapang hati diterimanya.

“Saya kasih penjelasan bahwa pada saat memilih jalan menjadi petugas medis, ya inilah risiko yang harus dijalani, risiko yang harus ditempuh. Jika saat ini menyesal menjadi petugas medis, ya sudah bukan waktunya lagi karena sudah harus menjalani konsekuensinya,” tuturnya.

Ditambahkannya, untuk melakukan pengambilan swab, karena sudah terbiasa maka dapat dilakukan dengan cepat, tidak sampai satu menit. Namun, yang berat bagi petugas adalah saat harus berpindah-pindah ruangan dan juga melepas dan menggunakan APD kembali.

Laman sebelumnya 1 2 3Laman berikutnya

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button