ProfilSeptember 2020
Popular

dr. Slamet, MHP Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Kementerian Kesehatan Mengawal Riset untuk Mendukung Program Nasional

dr. Slamet, MHP Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Kementerian Kesehatan Mengawal Riset untuk Mendukung Program Nasional.

24 September 2020 menjadi salah satu hari bersejarah bagi dr. Slamet, MHP. Saat itu, alumni FK UGM ini resmi dilantik oleh Menteri Kesehatan, Letjend (Purn) Dr. dr. Terawan Agus Putranto, Sp.Rad (K) RI menjadi Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Badan Litbangkes). dr. Slamet menggantikan pendahulunya, dr. Siswanto, MHP, DTM.

Sebagai orang nomor satu di Balitbangkes Kemenkes, alumni University of New South Wales, Sydney, Australia jurusan Magister Health Planning ini sudah memiliki beberapa program kerja. Hal tersebut dituangkannya dalam program kerja jangka pendek, program kerja jangka menengah dan jangka panjang.

Mengatasi pandemi COVID-19 di Indonesia menjadi prioritas program jangka pendek. Salah satu yang akan dilakukannya adalah memperkuat jejaring laboratorium.

“Setelah terbentuk jejaring laboratorium itu perlu capacity building, baik capacity building peralatan laboratorium itu sendiri maupun sumber daya manusia yang ada di situ. Oleh karena itu, tugas saya mempertahankan, meningkatkan, memperbaiki jejaring agar pemeriksaan-pemeriksaan itu cepat, valid, dan real-time. Surveilans itu menjadi pegangan kita dan tentu ini adalah bagian untuk bagaimana memutus rantai penularan,” terang dr. Slamet.

Ia juga memiliki keinginan agar program pembangunan kesehatan yang telah disusun Kemenkes tetap berjalan. Ia menargetkan untuk mempercepat proses penelitian-penelitian yang mendukung program nasional, seperti data stunting, survei status gizi masyarakat, dan riset-riset lain yang terkait kondisi kesehatan masyarakat di masa pandemi ini dengan tetap mengedepankan protokol kesehatan dalam pelaksanaannya.

Langkah ini dilakukan agar program-program yang termasuk dalam rencana strategis Kemenkes tidak terlupakan, baik oleh pelaksana maupun masyarakat sebagai penerima manfaat.

“Terlupakan ini bukan karena sekadar dari petugas kesehatan, tapi juga oleh masyarakat. Misalnya, takut ke puskesmas, takut ke fasilitas pelayanan kesehatan, takut bertemu untuk kegiatan-kegiatan di posyandu. Nah, ini bisa jadi mengakibatkan program yang sudah settle bisa turun,” ungkap pria yang berkarier di Bengkulu selama 14 tahun ini.

1 2 3Laman berikutnya

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button