September 2020Serba Serbi

Masker Transparan, Solusi Komunikasi Difabel Rungu Saat Pandemi COVID-19

Masker Transparan, Solusi Komunikasi Difabel Rungu Saat Pandemi COVID-19

Dalam rangka mencegah penularan COVID-19, Indonesia melalui Surat Edaran Direktur Jenderal Kesehatan Masyarakat Kementerian Kesehatan Nomor: HK.02.02/I/385/2020 tentang Penggunaan Masker dan Penyediaan Sarana Cuci Tangan Pakai Sabun (CTPS) Untuk Mencegah Penularan Coronavirus Disease 19 (COVID-19) tanggal 9 April 2020 mewajibkan semua orang untuk menggunakan masker ketika di luar rumah.

Peraturan tersebut berdampak, khususnya bagi difabel rungu dalam berkomunikasi.

Hal ini yang mendorong masyarakat, khususnya difabel rungu di Indonesia, mencari solusi untuk memudahkan komunikasi. Seperti yang dilakukan Dwi Rahayu Februarti, seorang difabel rungu di Yogyakarta yang membuat masker transparan bagi sesama difabel rungu.

Dwi, sebagaimana mengutip bbc.com tanggal 22 April 2020 mengatakan, penggunaan masker membuat komunikasi menjadi sulit karena harus menggunakan tulisan. Sementara itu, tidak semua tulisan dapat dibaca. Karenanya, Dwi bersama dengan suaminya, yang juga difabel wicara dan rungu, membuat masker transparan untuk memudahkan komunikasi.

Proses pembuatan masker transparan hampir sama dengan masker pada umumnya. Masker transparan yang dibuat oleh Dwi bersama suaminya menggunakan bahan utama kain yang pada bagian mulutnya dipasang mika transparan.

Mika transparan tersebut dapat memperlihatkan gerak mulut lawan bicara, hal inilah yang membedakan masker transparan dengan masker pada umumnya.

Saat membuat masker transparan, suami Dwi menggunting dan membuat pola. Sementara itu, Dwi yang menjahit menggunakan mesin jahit.

Dalam sehari Dwi dan suaminya dapat memproduksi 5 sampai 10 masker. Saat ini, Dwi hanya dapat memproduksi masker transparan dalam skala kecil, tapi Dwi berharap ke pada masa mendatang dapat memproduksi secara massal.

“Utamanya bagi petugas medis yang melayani tak hanya pasien non-difabel, tapi juga pasien tuli dan bisu serta difabel lain, supaya mereka bisa tetap mendapat informasi dan berkomunikasi dengan baik,” ucap Dwi.

1 2Laman berikutnya

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button