ResensiSeptember 2020

Sepenggal Kisah dalam “Jejak Langkah”

Judul : Jejak Langkah
Penulis : Pramoedya Ananta Toer
No. ISBN : 979979110268-1
Penerbit : Lentera Dipantara
Tanggal terbit : 1985
Jumlah Halaman : 555 halaman

“Jejak Langkah” merupakan novel ketiga dari Pramoedya Ananta Toer. Novel ini menceritakan tentang awal munculnya gerakan sosial modern di Hindia. “Jejak Langkah” merupakan novel ketiga dari Tetralogi Buru yang diterbitkan pada 1985 dan sudah dicetak sebanyak sembilan kali dan diterbitkan oleh Lentera Dipantara.

Tiba saatnya kaki Minke berpijak di alam Betawi di abad dua puluh, zaman modern yang dikutuk untuk membebaskan diri dari segala ikatan adat, darah, bahkan bumi. Bebas sepenuhnya, bebas karena hanya kepentingan pribadi yang akan melekat.

Pemandangan yang tak pernah dilihat Minke di Surabaya kini terhampar di depannya, kendaraan yang berjalan di atas rel besi dengan lonceng kuningan pengusir kantuk terhenti di depan menunggu penumpang menghampirinya.

Dengan berbagai barang bawaannya, koper tua, tas, dan sebuah lukisan wanita dalam sampul beledu merah anggur, membawa Minke menuju halte terakhir Weltevreden atau Gambir, kata orang Betawi.

Pemuda lulusan Hoogere Burgerschool (HBS)atau Pendidikan Mengengah Umum yang bercita-cita mencari jati diri dan melanjutkan studi di sekolah dokter pribumi STOVIA (School tot Opleiding van Inlandische Artsen – sekolah pendidikan dokter untuk pribumi) ini harus menahan pedihnya hidup di asrama karena karakternya yang cenderung mengagungkan kebebasan.

Meski hidupnya terjamin karena mendapatkan pesangon dari gubermen setiap pekan, tapi ia sangat terkekang karena berbagai peraturan yang diterapkan oleh sekolah. Selain itu, Minke harus selalu menggunakan pakaian adat tradisional jawa selama mengikuti kegiatan sekolah seperti memakai destar, baju tutup, kain batik, dan cakar ayam (tidak boleh beralas kaki).

Setelah Annelies Mallema, anaknya Nyai Ontosoroh meninggalkannya untuk selama-lamanya, kini putra bupati Bojonegoro itu mengenal seorang putri Tionghoa berkat wasiat yang diberikan Khouw Ah soe, seorang pejuang untuk negerinya, Tiongkok, tapi harus terbunuh di bumi Hindia.

1 2 3Laman berikutnya

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button