Media UtamaOktober 2020

Gangguan Penglihatan di Indonesia

Gangguan Penglihatan di Indonesia

Gangguan penglihatan di Indonesia sangat bervariasi, mulai dari kelainan refraksi (hipermetropia, miopia, astigmatisma), mata merah, mata kering (dry eye), infeksi, autoimun, katarak, glaukoma, tumor mata, kanker, hingga defisiensi vitamin A.

Setiap Kamis kedua bulan Oktober, kita memperingati Hari Penglihatan Sedunia. Tahun 2020, peringatan tersebut jatuh pada 8 Oktober 2020 dengan mengangkat tema “Hope in Sight”.

Dalam situs WHO dinyatakan bahwa 1 miliar orang di seluruh dunia memiliki gangguan penglihatan yang dapat dicegah atau salah satu yang masih harus ditangani. Penglihatan yang berkurang atau tidak ada (buta), dapat berdampak besar pada semua aspek kehidupan, termasuk aktivitas pribadi sehari-hari, interaksi dengan komunitas, sekolah dan peluang kerja, serta kemampuan untuk mengakses layanan publik.

Dr. dr. Lukmas Edwar, Sp.M(K) dari RSCM menyatakan bahwa saat ini tingkat kebutaan di Indonesia masih tinggi, hal ini dapat dilihat dari beberapa kajian.

“Survei Kesehatan Indera Penglihatan tahun 1993- 1996 menunjukkan prevalensi kebutaan di Indonesia adalah 1,5%, Surkesnas SKRT didapatkan prevalensi kebutaan 1,2% dan hasil Riskesdas tahun 2013 didapatkan angka 0.4% (validasi PERDAMI 0,6%),” jelas dr. Lukman dalam wawancara tertulis dengan Mediakom.

Menurut dr. Lukman, penyebab kebutaan tertinggi adalah katarak (0,78%), diikuti oleh glaukoma (0,20%), kelainan refraksi (0,14%), dan penyakit mata lain yang berhubungan dengan usia lanjut (0,38%). Pada tahun 2007, hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) yang diselenggarakan Kementerian Kesehatan RI menyatakan bahwa prevalensi kebutaan di Indonesia adalah 0,9% dengan penyebab terbanyak katarak.

Penyakit mata dan penyebabnya

Penyebab setiap penyakit mata, menurut dr. Lukman, unik dan berbeda-beda. Untuk mata merah misalnya, bisa diakibatkan infeksi, autoimun, trauma (mata terbentur), mata kering, dan masih banyak lagi. Begitu juga dengan kelainan refraksi, bisa diakibatkan oleh faktor keturunan, tapi bisa juga karena faktor lingkungan seperti kebiasaan menonton gawai dalam jarak dekat atau kurangnya aktivitas luar.

“Pada masa pandemi COVID-19 ini, banyak dari kita yang diharuskan work from home (WFH), sehingga lebih sering menatap layar gawai dalam waktu lama. Hal ini bisa mengakibatkan computer vision syndrome (CVS), yang meliputi penglihatan ganda, mata menjadi buram, nyeri kepala, iritasi mata, lalu mata merah dan kering,” terang dr. Lukman.

Ditambahkannya, katarak mengakibatkan pandangan buram akibat kekeruhan lensa karena proses penuaan. Penyakit seperti diabetes mellitus serta pemakaian obat-obatan khusus yang mengandung steroid juga banyak berhubungan dengan percepatan timbulnya katarak. Hal lain yang berkontribusi pada katarak meliputi kebiasaan merokok, pajanan ultraviolet, trauma, atau peradangan di bagian dalam mata.

1 2Laman berikutnya

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button