LenteraOktober 2020

Mengarungi Kehidupan

“Kehidupan merupakan suatu kisah yang penuh liku. Kelangsungannya senantiasa berputar pada ruang lingkup yang serupa. Dari satu generasi, sejak mula manusia diciptakan hingga menjejak sampai waktu yang paling akhir. Kisahnya selalu berulang,” kata Suhairi Awang.

Kisah yang berulang itu berupa rasa sedih dan senang, lapang dan sempit, sehat dan sakit, berkumpul dan berpisah. Keduanya selalu berpasangan, secara bergantian mengiringi perjalanan hidup manusia.

Tak terkecuali untuk kaya atau miskin, pengusaha atau pekerja. Semua sama, yang membedakan adalah bagaimana menyikapi pasang surut perjalanan hidup tersebut.

Sayap

Hidup manusia bagaikan seekor burung yang mengepakkan kedua sayapnya saat terbang. Seekor burung akan dapat terbang bila kedua sayapnya berfungsi dengan benar. Tubuhnya seimbang sehingga dapat melayang di udara.

Bayangkan kalau salah satu sayap tidak berfungsi, maka burung tersebut tak akan mampu terbang dengan benar.

Demikian halnya dengan manusia. Untuk mengarungi kehidupan, yang selalu ada rasa sedih dan senang, sehat dan sakit, lapang dan sempit, berkumpul dan berpisah. Semuanya harus dihadapi dengan “dua sayap kehidupan” yakni syukur dan sabar.

Ketika manusia mendapat kelapangan, kesehatan, kesenangan, dan kesempatan berkumpul bersama keluarga, maka mereka bersyukur. Rasa syukur ini yang kemudian membuat manusia menemukan kebahagiaan, ketenangan dan kedaimaian.

Sebalikya, bila tidak mampu bersyukur—atau kufur—dengan mengingkari nikmat sehat, nikmat lapang, nikmat kesempatan, dan nikmat bersama keluarga, maka yang akan terjadi adalah kesedihan dan penderitaan hidup.

Sebagai contoh, sebut saja Kiki (27), anak ke 4 dari 6 bersaudara. Ia sebelumnya bekerja sebagai sales mobil salah satu showroom mobil di Kota Tangerang.

1 2Laman berikutnya

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button