Desember 2020Lentera

Dirigen Lokal

Lukmanul Hakim, sering disapa Lukman, bersama anaknya menuntun keledai berjalan mengelilingi kota. Dalam perjalanannya, mereka banyak bertemu orang yang memberi komentar berbeda-beda.

Orang pertama berkomentar, “Alangkah ruginya berjalan bersama keledai jika tidak digunakan, keduanya berjalan hanya mengiringi keledai.”

Mendapat komentar tersebut, Lukman berinisiatif naik keledai bersama anaknya.

Saat keduanya berada di atas pungggung keledai, mereka bertemu orang kedua. Orang ini berkomentar, “Alangkah teganya kalian, dua orang naik keledai sekaligus. Seperti ingin membunuh keledaimu itu pelan-pelan.”

Mendengar komentar dari orang kedua, Lukman memutuskan turun  dan memerintahkan anaknya tetap di atas punggung keledai. Perjalanan berikutnya, mereka bertemu dengan orang ketiga. Melihat anaknya di atas punggung keledai, sementara orang tuanya membuntuti dari belakang keledai, orang ke tiga ini berkata, “Anak yang enggak tahu diri, membiarkan dirinya bersenang-senang di atas punggung keledai, sementara orang tua dibiarkan berjalan kelelahan.”

Tersinggung dengan komentar tersebut, anaknya turun dari atas punggung keledai dan meminta Lukman, ayahnya, naik ke atas punggung keledai menyelesaikan perjalanan mengelilingi kota.

Selanjutnya, anaknya yang menuntun keledai. Di ujung perjalanan, mereka bertemu orang keempat. Melihat kejadian ini, orang itu berkata, “Kasihanilah anakmu, jangan biarkan menuntun keledai, sementara ayahnya enak-enakan di atas punggung keledai.”

Terhadap komentar terakhir ini, anaknya bertanya, “Ayah, mengapa  orang berkomentar yang salah terhadap yang kita lakukan? Semua tidak ada yang benar? Mungkin kita enggak perlu membawa keledai saja.”

Mendengar pertanyaan itu, ayahnya menjawab, “Setiap orang berkomentar itu tergantung pada sudut pandang dan pemahamannya. Setiap orang punya sudut pandang dan pemahanan yang berbeda, sehingga berpotensi untuk beda pandangan dan komentarnya

Pelajaran

Dari kisah tersebut, ada beberapa pelajaran yang dapat kita ambil.

Pertamahendaknya selalu berkata benar. Bila tak dapat berkata benar, lebih baik diam. Berkata salah akan memberi dampak buruk kepada diri sendiri atau orang lain. Berkata benar saja, masih dapat berpotensi salah dan di-bully orang lain. Apalagi di media sosial, ketika berkata salah langsung menjadi sasaran “tembak” netizen yang tak mengenal ampun.

1 2Laman berikutnya

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button