Desember 2020Media Utama

Kaleidoskop Juni

Adaptasi Kebiasan Baru (AKB) pada Kenormalan Baru

Pada 31 Maret 2020 pemerintah menetapkan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) yang dinilai mampu meredam penyebaran virus corona di berbagai daerah di Indonesia. Selama tiga bulan berikutnya, masyarakat Indonesia dipaksa untuk membatasi aktivitasnya di luar rumah, yang secara langsung berdampak pada melemahnya sendi-sendi kehidupan masyarakat, khususnya sektor perekonomian.

Jika melihat dari status penyebaran COVID-19 di berbagai belahan dunia, pandemi ini juga belum diperkirakan akan berakhir dalam waktu dekat. Pada sisi lain, hingga saat ini juga belum ditemukan vaksin dan obat yang terbukti efektif untuk menanggulangi COVID-19.

Selama tiga bulan itu juga kita hidup penuh dengan berita tentang COVID-19. Televisi, radio, media sosial, obrolan di rumah, di kantor, hingga di telepon, semua orang memperbincangkan COVID-19. Tentunya hal tersebut melahirkan berbagai respons masyarakat. Ada yang sedih, cemas, takut, gemas, khawatir, marah-marah, tetapi ada juga yang tenang atau tetap percaya diri.

Pandemi ini juga berhasil mengubah kebiasaan yang kita lakukan sehari-hari, baik di rumah, di sekolah, di tempat kerja, di jalan, dan di mana pun. Kita dibuat seakan tak berdaya, karena gerak langkah dibatasi, sehingga membuat kita tidak produktif yang secara tidak langsung berdampak pada masalah ekonomi keluarga, masyarakat, daerah, bahkan negara.

Untuk itu pemerintah mulai memperkenalkan istilah Adaptasi Kebiasaan Baru (AKB).

“Pada intinya (AKB) adalah langkah-langkah penyesuaian yang harus dilakukan masyarakat dengan kebiasaan baru, di mana masyarakat memiliki kesadaran untuk hidup dengan cara yang lebih sehat, beraktivitas, dan bekerja lebih produktif. Namun, tetap aman dari penularan COVID-19,” ujar Sekretaris Jenderal Kemenkes, drg. Oscar Primadi, MPH di kantor Kemenkes, Rabu (24/6/2020).

Bertempat di kantor Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 di Gedung BNPB Jakarta, Rabu (10/6/2020), Presiden Joko Widodo dalam kunjungannya menyampaikan lima arahan terkait kebijakan AKB agar masyarakat tetap produktif dan aman dari penularan COVID-19.

Pertama, Presiden mengingatkan pentingnya prakondisi yang ketat. Kedua, presiden juga menegaskan pentingnya perhitungan yang cermat dalam mengambil kebijakan yang harus didasarkan data dan fakta di lapangan. Selanjutnya, soal penentuan prioritas yang harus disiapkan secara matang mengenai sektor dan aktivitas mana saja yang bisa dimulai dan dibuka secara bertahap. Keempat, agar konsolidasi dan koordinasi antara pemerintah pusat dengan daerah, mulai dari provinsi hingga tingkat RT, terus diperkuat. Terakhir, Presiden meminta agar penerapannya dilakukan evaluasi secara rutin.

1 2Laman berikutnya

KG Astarengga

Biasanya ada dibelakang komputer kantor

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *