Januari 2021Media Utama

Jaminan Aman Dan Halal

Sebagian besar masyarakat Indonesia bersedia menerima vaksin Coronavirus Disease 2019 (COVID-19). Demikian hasil survei nasional tentang penerimaan vaksin tersebut yang digelar Kementerian Kesehatan bersama Indonesian Technical Advisory Group on Immunization (ITAGI) dengan dukungan UNICEF dan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

Survei yang dilakukan pada 19-30 September 2020 itu merekam tanggapan lebih dari 115.000 orang dari 34 provinsi. Hasilnya, tiga perempat responden (74 persen) menyatakan telah mendengar tentang vaksin COVID-19 dan dua pertiga responden (sekitar 65 persen) menyatakan bersedia menerima vaksin itu. Hal ini menunjukkan bahwa informasi yang akurat tentang vaksin sangatlah penting.

Namun, masih ada kelompok yang ragu dan sebagian kecil responden yang menolak vaksin. Tujuh persen responden yang menolak menyatakan faktor keamanan, efektivitas, dan kehalalan vaksin menjadi pertimbangan mereka. Untuk itu, “Sangat penting bagi kami untuk terus memastikan bahwa vaksin tersebut aman,” kata Sekretaris Jenderal Kementerian Kesehatan Oscar Primadi dalam rilis WHO pada 17 November 2020.

Salah satu alasan munculnya keraguan itu adalah karena vaksin ini baru dikembangkan.  Dalam webinar Forum Nila Moeloek pada Minggu, 17 Januari lalu, Tjandra Yoga menjelaskan bahwa vaksin di dunia umumnya dikembangkan dalam waktu belasan hingga puluhan tahun. Bahkan, kata pakar kesehatan dan mantan Direktur Kantor Regional Asia Tenggara (SEARO) WHO itu, vaksin polio baru berhasil dikembangkan 45 tahun setelah virusnya pertama kali ditemukan pada 1909.

Pengembangan vaksin COVID-19 bisa lebih cepat karena ada kerja sama lintas negara dan antar-lembaga penelitian. Pengujian vaksin juga dilakukan bersama-bersama. Hingga kini, menurut WHO, sudah ada 64 kandidat vaksin yang sudah memasuki uji klinis tahap ketiga. Pengujian dilakukan di di 34 negara dan melibatkan lebih dari 280 ribu peserta.

Keamanan Vaksin

Kekhawatiran masyarakat pada sisi keamanan vaksin terjawab ketika Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) menerbitkan ijin penggunaan darurat (EUA) untuk vaksin CoronaVac buatan Sinovac Biotech dari Cina pada 11 Januari lalau. Dalamrilis badan tersebut, Kepala BPOM Penny K. Lukito mengatakan bahwa mereka telah mengevaluasi data yang didapatkan dari hasil uji klinis yang dilakukan di Indonesia, Turki dan Brasil selama tiga bulan setelah penyuntikan dosis kedua. Hasilnya memperlihatkan bahwa vaksin itu aman dan mampu membentuk antibodi dalam tubuh. Badan itu juga memastikan bahwa bahan baku dan proses pembuatan vaksin sesuai dengan ketentuan cara pembuatan obat yang baik (CPOB).

Namun, efikasi CoronaVac yang rendah masih menjadi sorotan masyarakat. BPOM menyatakan bahwa vaksin yang diuji klinis tahap ketiga di Bandung itu memiliki efikasi 65 persen. Angka ini lebih rendah ketimbang pengujian di Turki, yang 91,25 persen.

Ketua Tim Riset Uji Klinis Vaksin Sinovac Kusnandi Rusmil yakin akan faktor keamanan dari vaksin ini. Ia percaya bahwa pemerintah tidak akan sembarangan mengizinkan vaksin-vaksin yang tidak diketahui pasti keamanannya untuk masuk dan digunakan di Indonesia.

“Vaksin di Indonesia ini adalah kerja sama antara Biofarma, Universitas Padjadjaran dan Sinovac. Sinovac sudah sejak awal melakukan uji klinis, mulai dari praklinis di Wuhan. Dari situlah Universitas Padjadjaran berani melakukan uji klinis tahap ketiga di Bandung kepada 1.620 relawan,” ujar Kusnandi kepada Mediakom pada Senin, 4 Januari lalu.

1 2Laman berikutnya

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *