Januari 2021Peristiwa

Kemenkes – Kemenristek Teken MoU Deteksi Genom Virus SARS-COV-2

Beberapa waktu lalu, publik diramaikan dengan pemberitaan terkait munculnya strain baru penyebab virus COVID-19 yang terjadi di Inggris dan Afrika Selatan. Untuk mencegah dan mengantisipasi virus SARS-CoV-2 di Indonesia terus meningkat, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) dan Kementerian Riset dan Teknologi (Kemenristek)/ Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menandatangani nota kesepahaman (MoU).

Penandatanganan kesepakatan kerjasama ini dilakukan secara daring melalui telekonferensi oleh Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin dan Menteri Riset dan Teknologi/Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional Bambang Permadi Soemantri Brodjonegoro pada Jumat (8/1/2021) di Jakarta. MoU ini sebagai bentuk percepatan penyelenggaraan surveilans genom virus SARS CoV-2, melalui kemitraan yang sinergis, kolaboratif, suportif, dan berkesinambungan.

“Proses tanda tangan ini adalah awal dan harus ditindaklanjuti. Kita harus menjalin semua laboratorium yang bisa melakukan genome sequencing process, yang mampu melaksanakan deteksi dini terhadap virus baik itu laboratorium yang ada di Kemenkes atau laboratorium yang ada di Kemenristek yang tersebar di seluruh perguruan tinggi,” kata Menkes sebagaimana dikutip dari rilis Kemenkes. Adapun ruang lingkup kerja sama ini meliputi penyelenggaraan surveilans genom virus SARS CoV-2, antara lain:
a. Pemeriksaan dan analisis sekuen genom virus SARS-CoV-2
b. Verifikasi hasil sekuensing
c. Monitoring dan evaluasi
d. Pengelolaan dan pemanfaatan big data
e. Peningkatan kapasitas sumber daya manusia
f. Pemanfaatan bersama sumber daya
g. Pelaporan hasil
h. Rekomendasi kebijakan.

Dengan adanya kerja sama ini akan terwujud sistem surveilans genom virus SARS-CoV-2 di Indonesia yang sangat dibutuhkan dalam pencegahan dan
mempercepat penanggulangan COVID-19 di Indonesia. Hingga saat ini, Indonesia telah berhasil melakukan sekuensing/pengurutan sebanyak 190 virus SARS-CoV-2 dan belum ditemukan strain baru yang disebut varian B117 tersebut.

Sementara itu, Menristek/Kepala BRIN Bambang P.S Brodjonegoro, menuturkan virus merupakan musuh tidak terlihat. Kerja sama ini sangat penting dilakukan mengingat perlu upaya lebih dalam memahami karakteristik virus termasuk SARS-CoV-2 yang dalam ilmu kedokteran disebut ilmu genomik.

“Untuk bisa lebih memahami tidak hanya karakter virus COVID-19 tapi juga mutasi yang rupanya mulai banyak terjadi maka Kementerian Kesehatan dan Kemenristek/BRIN sepakat untuk melakukan genomik surveilans,” ucap Bambang.

Sebagai pelaksana kegiatan surveilans genom virus SARS-COV-2, Kementerian Riset dan Teknologi/ Badan Riset dan Inovasi Nasional (Kemristek/BRIN) menugaskan Lembaga Biologi Molekuler Eijkman yang nantinya juga akan melibatkan laboratorium yang ada di perguruan tinggi maupun (Lembaga Pemerinah Non Kementerian) LPNK di bawah koordinasi Kemristek/BRIN.

Nantinya hasil surveilans genom SARS-CoV-2 yang diperoleh secara berkala atau mendekati “real time” akan memungkinkan Indonesia melakukan prediksi dan mengambil tindakan pencegahan, penanganan, serta pelaporan yang cepat dan tepat, yang sangat diperlukan dalam upaya pengendalian pandemi ini.

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *