Januari 2021Media Utama

Menuju Kekebalan Bersama

Vaksinasi Coronavirus Disease 2019 (COVID-19) secara massal telah dimulai pada Rabu, 13 Januari lalu. Presiden Joko Widodo menjadi orang pertama yang menerima suntikan CoronaVac, vaksin produksi perusahaan biofarmasi Cina Sinovac Biotech. Program vaksinasi ini menyasar 181,5 juta penduduk dalam kurun waktu satu tahun.

Juru Bicara Vaksinasi COVID-19 Kementerian Kesehatan dr. Siti Nadia Tarmidzi, M. Epid menjelaskan bahwa ada tiga keuntungan yang diperoleh dengan dilakukannya vaksinasi secara massal kepada populasi tertentu dalam kurun waktu tertentu. Pertama, timbulnya kekebalan atau proteksi yang spesifik terhadap individu yang disuntik secara langsung. Kedua, cakupan vaksinasi yang luas akan menimbulkan kekebalan kelompok. Ketiga, kekebalan kelompok ini akanmenciptakan perlindungan bagi lintas kelompok lainnya. “Artinya, kekebalan bersama yang muncul itu yang kita harapkan untuk menanggulangi pandemi COVID-19,” kata dia.

Fungsi dari vaksinasi adalah bentuk perlindungan sebelum virus itu menginfeksi. Ketika virusnya datang, masyarakat memiliki pertahanan yang lebih baik dan tentunya diharapkan bisa melawan virus dan tubuh tidak sakit. Kalau pun jatuh sakit, kondisinya tidak akan berat.

Namun, tidak dapat dimungkiri bahwa masih ada orang-orang yang ragu dan bahkan menolak vaksinasi COVID-19. Hal ini tentu dapat berpengaruh terhadap target capaian vaksinasi 100 persen penduduk. Untuk itu, upaya edukasi dan persuasi perlu terus dilakukan untuk menepis keraguan masyarakat. Nadia menegaskan bahwa vaksinasi COVID-19 ini bersifat wajib untuk diikuti sebagai bentuk tanggung jawab menjadi bagian dari negara Indonesia yang sedang besama-sama berupaya mengatasi pandemi.

“Kami tidak mengedepankan sanksi. Yang akan kami kedepankan adalah bagaimana mengedukasi dan mengajak masyarakat secara persuasif,” kata Nadia. “Kami memahami bahwa masyarakat juga mungkin kurang tahu, kurang informasi, atau mendapatkan informasi yang tidak betul atau hoaks. Inilah yang menyebabkan keragu-raguan masyarakat.”

Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Langsung Kementerian Kesehatan ini menyatakan bahwa vaksinasi merupakan investasi yang paling menguntungkan dan bahkan memberikan return of investment 16 kali lebih besar dibandingkan dengan investasi lain, seperti pengobatan maupun upaya lain dalam penanggulangan pandemi. Apalagi Indonesia sudah selama 10 bulan menghadapi pandemi ini dan anggaran yang sudah dikucurkan juga cukup besar sehingga adanya vaksin memberikan harapan baru tidak hanya bagi Indonesia, tetapi juga bagi seluruh negara di dunia.

“Nah, terkait situasi pandemi COVID-19 ini, kami juga sudah menghitung bersama dengan para ahli epidemiologi bahwa vaksinasi adalah salah satu tambahan intervensi dalam upaya pengendalian pandemi yang tentunya akan memberikan saving cukup besar dalam hal pembiayaan,”  kata Nadia.

Tidak Cukup Hanya Vaksin

Vaksinasi memang menjadi salah satu upaya intervensi pemerintah dalam mengatasi pandemi. Namun, terdapat dua hal yang harus dipahami sebagai yindakan pencegahan terhadap penyakit menular, yaitu bagaimana kita tidak tertular dan apabila tertular tidak kemudian menjadi sakit.

Orang yang sudah mendapat vaksin COVID-19 pun bukan berarti tidak perlu melakukan protokol kesehatan 3M, yaitu memakai masker, mencuci tangan serta menjaga jarak dan menghindari kerumunan. Setelah diimunisasi, tubuh memang diharapkan akan menjadi kebal, tapi bukan berarti virus tidak bisa masuk ke dalam tubuh. Mungkin orang yang divaksin tidak sakit tapi ia tetap bisa menularkannya ke orang lain.

“Apalagi kita tahu bahwa efektivitas vaksin itu kan tidak 100 persen. Tak ada yang 100 persen,” kara pakar imunisasi Jane Soepardi.  “Katakanlah efektivitasnya 65 persen. Yang 35 persen (sisanya) itu siapa kita tidak tahu. Mungkin saya, mungkin orang terdekat saya.”

Nadia juga mengingatkan hal yang sama. “(3M) itu betul-betul cara satu-satunya saat ini agar kita dapat menghindari tertular COVID-19,” kata dia.

Upaya selanjutnya adalah dengan 3T, yaitu tracing (pelacakan), testing (pengetesan) dan treatment (pengobatan). Upaya 3T ini penting agar kasus dapat cepat ditemukan dan cepat ditangani sehingga kemungkinan terburuk dapat dihindari.

“Biasanya orang yang menderita COVID-19 berat atau berakhir dengan kematian itu karena mereka terlambat. Kita semua sudah tahu kan kalau orang terlambat tahu sakitnya pasti penyakitnya makin berat. Jadi 3T pentingnya di situ,” kata Nadia.

Menurut Nadia, dengan adanya vaksinasi bukan berarti kita bebas merdeka dari kewajiban menjalankan protokol kesehatan. Selain tetap harus menjaga diri sendiri, masih dibutuhkan waktu untuk bersama-sama seluruh masyarakat untuk mencapai kekebalan kelompok. Dalam hal ini, upaya 3M, 3T, dan vaksinasi harus tetap dijalankan.

“Di dalam masa pandemi ini, baik sebelum kita mendapat vaksinasi atau sesudah mendapatkan vaksinasi, 3M, 3T dan vaksin itu harus tetap dikerjakan,” kata Nadia.

Jane juga mengingatkan masyarakat agar selalu menjaga imunitas dengan makan makanan yang bergizi, mengkonsumsi vitamin seperti vitamin C dan D, rajin berolahraga, serta istirahat yang cukup. “Banyak penelitian yang menunjukkan, misalnya, bahwa ada hubungan antara kurang tidur dengan terkena COVID-19,” kata dia.

Orang yang hendak divaksi, kata Jane, juga harus mempersiapkan diri. “Kalau kita diimunisasi dan tubuh kita tidak prima atau tidak sehat, maka antibodinya tidak terbentuk,” kata dia. “Jadi badan kita harus dalam keadaan sehat supaya imunisasinya efektif.” 

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *