Januari 2021Profil

Strategi Diplomasi Kesehatan Menuju Indonesia Sehat

Andreano Erwin menjadi Kepala Biro Kerja Sama Luar Negeri Kementerian (KSLN) di Kementerian Kesehatan (Kemkes) sejak November 2020. Sebelumnya, Nino, begitu dia biasa disapa, berkarir di Kementerian Luar Negeri yang menangani banyak isu penting, dari kesehatan hingga hak asasi manusia. “Isu kesehatan bukan lagi isu nomor dua, sudah terbukti. Kondisi pandemi di mana-mana, semua orang berusaha untuk menyehatkan negaranya karena kondisinya yang sakit,” kata Nino kepada Mediakom di Jakarta, Jumat, 22 Januari lalu.

Nino mengedepankan sinergi antar-sesama rekan kerja. Dia berprinsip bahwa staf bukanlah bekerja untuk atasan melainkan bekerja bersama dalam melancarkan program Kementerian Kesehatan. “Saya suka berdiskusi untuk mencari keputusan kolektif. Saya berpikir bahwa ke sini bukan untuk mengubah, melainkan bekerja sama,” kata dia.

Keluarga Diplomat

Berlatar belakang orang tua yang bekerja di Kemlu, Nino sebenarnya nyaris tidak punya pilihan lain karirnya selain menjadi diplomat. Sejak kecil ia sudah sering berpindah tempat tinggal dari negara satu ke negara lain. Termasuk ketika menjalani masa-masa sekolah, mulai di Cekoslowakia, lalu pindah ke Rusia, dan Belanda. Namun demikian, Nino lebih memilih untuk berkuliah di Indonesia. Beruntung kala itu orangtuanya sedang bertugas di Indonesia. Program sarjana jurusan Hukum Internasional berhasil dituntaskannya di Universitas Trisakti. 

“Tidak ada terbesit untuk menjadi diplomat di kemudian hari,” kata Nino.

Tidak mudah bagi Nino menjalani kehidupan dengan berpindah-pindah dari satu negara ke negara lain pada saat itu. Nino harus menyesuaikan diri dari satu lingkungan ke lingkungan lain dalam waktu yang singkat. Namun, dari sosok sang Ayah, Nino banyak belajar untuk bisa menyesuaikan diri dengan banyak orang dari latar belakang negara dan budaya yang berbeda. 

“Hidup berpindah-pindah dari negara satu ke negara yang lain bagi seorang anak itu tidak menyenangkan. Berbeda rasanya dengan orang tua sebagai orang yang menjalani pekerjaan, di mana pun tugasnya sama saja,” ujarnya. 

Perjalanan Karir 

Nino muda sempat menjajaki wirausaha bersama teman-temannya. Perusahaan general trading miliknya bahkan sudah berhasil menjadi pemasok perusahaan besar. Akan tetapi takdir berkata lain, pada awal tahun 1996 terjadi krisis. Sejak itu, perusahaan mulai mengalami penurunan hingga akhirnya kritis dan meruntuhkan semua usaha yang sudah dirintisnya dari nol. 

Kemelut suasana tidak menentu setelah perusahaan tidak lagi menghasilkan. Orang tua pun sempat menyarankan Nino untuk mengikuti tes seleksi penerimaan kepegawaian di Kemlu. Tahun 1996, Nino ikut tes dan diterima di Kemlu. Setelah masuk Kemlu, ada tawaran untuk melanjutkan kuliah pasca sarjana, beberapa di antaranya adalah berkuliah di universitas luar.  Melihat kondisi dan situasi saat itu, akhirnya Nino memilih program Strata 2 (S2) jurusan Hubungan Internasional di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Indonesia.

Awal di Kemlu, Nino lebih sering berkecimpung dalam penanganan isu-isu ASEAN di Direktorat Kerjasama Ekonomi, ASEAN. Setelah lulus S2 di tahun 2000, Nino ditugaskan ke Malaysia. Setelah bertugas selama 3,5 tahun, ia kembali ke Indonesia tahun 2004 dan ditempatkan di Direktorat Perjanjian Politik Wilayah.

Mulai dari sini, Nino ditempatkan di beberapa subdit di bagian penanganan perjanjian maritim dan border diplomacy dengan negara tetangga. Perjalanan karir Nino terus meningkat. Nino pernah menjadi perwakilan tetap RI di PBB New York, Amerika Serikat selama 4 tahun. Pernah menjabat sebagai kasubdit di Direktorat Perjanjian Ekonomi dan Sosial Budaya, yang di dalamnya menangani kerjasama bidang kesehatan. Hingga di tahun 2017, Nino bertugas di Malaysia sebagai wakil duta besar selama 2 tahun. 

Strategi dan Kerjasama Tim

Sebagai pimpinan baru di Kemkes, Nino menyiapkan program kerja dan upaya strategi dalam melancarkan tugasnya. Dalam konteks diplomasi kesehatan, Menurut Nino, banyak negosiasi atau pendekatan diplomasi yang berkaitan dengan keberadaan vaksin harus dijalankan. Biro KSLN mengoordinasikan dan mengolah hubungan kerjasama itu dengan berbagai negara. Kemenkes juga berkoordinasi dengan beberapa pihak yang ada di dalam negeri seperti Kemlu, BPOM, Kemenko Perekonomian dan instansi lain. 

“Komunikasi awal ada di Biro KSLN. Apabila sudah ada respons dan berlanjut, untuk proses pengadaan diserahkan kepada unit teknis terkait. Ibaratnya kita di depan mengetuk pintu dulu, bila sudah terbuka ada saling sapa selanjutnya kita serahkan,” terang Nino. 

Demikian halnya dengan konteks multilateral, lanjut Nino, Biro KSLN memastikan agar kebutuhan akan vaksin terpenuhi. Hubungan kerjasama yang baik dengan negara-negara lain dan organisasi internasional memang harus dilakukan.

“Bilateral dengan negara tertentu seperti Tiongkok dengan Sinovac, Amerika dengan Pfizer, Jerman dengan BioNTech, Kemenkes ikut dalam menentukan persyaratan kerja sama agar berlangsung seimbang,” jelas Nino. 

“Untuk jumlah vaksin yang bisa digunakan, sudah ada peraturan menteri kesehatan yang mengatur. Sedangkan proses pengadaan mengikuti aturan yang telah digariskan oleh Peraturan Presiden,” tambahnya.

Nino berharap di masa pandemi ini semua orang harus menjaga diri karena kesehatan saat ini mahal harganya. “Sehat itu mahal dan apabila sakit, semua orang pasti akan mengeluarkan biaya sebesar apapun agar kembali sehat. Saat ini adalah masa-masanya semua orang harus menjaga diri sendiri, sehat adalah suatu keharusan. Dan semua ini dilakukan dengan disiplin melaksanakan protokol kesehatan,” tutupnya. 

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button