Februari 2021Resensi

Saksi Mata Dari Wuhan

Tepat tanggal 25 Januari 2020, Kota Wuhan, Provinsi Hubei, Cina ditutup total sejak dini hari. Tak ada orang yang bisa masuk atau keluar kota itu. Saat Fang Fang, warga kota itu, keluar apartemen untuk membeli masker dan bahan pangan, yang dia lihat adalah kesunyian dan jalanan yang kosong.

“Seingat saya, tak pernah saya melihat jalan-jalan Wuhan membentang lebar sekosong dan seterbengkalai itu… rasanya hati saya merasa hampa seperti jalan-jalan lengang tersebut,” tulis perempuan sastrawan itu dalam Wuhan Diary. “Belum pernah saya merasa seperti itu seumur hidup—mempertanyakan nasib kota yang serba-tidak pasti, mempertanyakan apakah saya dan keluarga sudah terinfeksi, dan mempertanyakan masa depan yang tak tahu seperti apa nanti.”

Fang Fang, nama pena Wang Fang, adalah sastrawan kenamaan dari Wuhan. Dia mengambil studi Cina di Wuhan University pada 1978 dan sejak 1975 mulai menulis puisi. Dia sudah menerbitkan beberapa novel dan kumpulan esai. Novelnya, Feng Jing, meraih Hadiah Lu Xun untuk Sastra pada 2010.

Perempuan 65 tahun itu tinggal bersama seekor anjingnya di sebuah apartemen yang terletak tak jauh dari pasar basah, yang menjual makanan laut dan daging hewan liar yang diduga menjadi sumber penyebaran COVID-19 pertama. Ketika pemerintah melakukan karantina wilayah di Wuhan untuk mencegah penyebaran wabah COVID-19, Fang Fang memutuskan untuk menulis catatan harian yang merekam perasaannya dan situasi selama masa karantina di mikroblog Weibo, media sosial terpopuler di Negeri Panda yang mengijinkan orang menulis maksimal 2.000 karakter.

Dia menulis berbagai hal tentang kecemasan masyarakat, ketakutan akan terinfeksi COVID-19, kelangkaan masker, kekhawatiran terhadap kehidupan putrinya yang tinggal terpisah di apartemen lain, pandangan para dokter, ulah pejabat pemerintah, taman yang sunyi, jalanan kosong, hoaks, dan sebagainya. Banyak hal yang dituturkannya dialami juga oleh orang-orang di negara lain yang dilanda pandemi, termasuk kita di Indonesia.

Fang Fang, misalnya, bercerita tentang rencananya untuk membeli masker di sebuah toko. Harga masker meroket tapi dia terpaksa harus membelinya karena saat itu dokter menyatakan hanya masker medis yang dapat menangkal virus korona. Rencananya batal ketika melihat pedagang mengambil masker di kotak dengan tangan telanjang. Dia pindah ke toko lain dan akhirnya membeli masker yang dijual ketengan dan dibungkus.

Peristiwa kecil itu menggambarkan sekaligus dua hal: ketakutan terhadap virus dan dampak ekonomi yang menekan. Hal ini terutama terjadi secara tak terkendali di masa awal pandemi, ketika panduan dalam menghadapi virus masih simpang siur. Wuhan mengalami hal yang sama dan diceritakan Fang Fang dalam catatannya. Tapi, keadaan lebih buruk karena pejabat pemerintah Wuhan terlambat menanggapinya. Pemerintah pusat akhirnya memecat sejumlah pejabat, termasuk Sekretaris Partai Komunis Cina Provinsi Hubei Jiang Chaoliang; Ma Guoqiang, pemimpin partai cabang Wuhan;  Zhang Jin, sekretaris komisi kesehatan partai di Hubei; dan Liu Yingzi, direktur komisi kesehatannya.

Catatan hariannya ternyata disambut masyarakat luas. Akunnya di Weibo diikuti 3,8 juta pengguna lebih. Namun, popularitasnya juga setara dengan serangan terhadapnya. Sejumlah akun, bahkan dari orang-orang yang sepatutnya berpikir lebih jernih, seperti dosen universitas, mengecam tulisannya dan menuduhnya sebagai agen negara Barat atau menyebar kabar bohong. Kadangkala dia juga difitnah, misalnya dituduh mengatakan sesuatu padahal tak pernah menyebut hal tersebut.

Fang Fang juga merekam berbagai peristiwa penting yang sekaligus mengkonfirmasi berita yang beredar. Misalnya dia mencatat tentang reaksi masyarakat atas meninggalnya Li Wenliang, dokter mata di Rumah Sakit Pusat Wuhan. Li adalah orang pertama memperingatkan soal penyebaran virus “seperti sindrom pernapasan akut (SARS)” di kota itu. Tapi, polisi menuduhnya menyebarkan kabar bohong dan dipaksa meneken surat berisi perjanjian tak akan menyebarkan lagi informasi semacam itu. Li akhirnya meninggal pada 7 Februari 2020 setelah merawat seorang pasien yang belakangan diketahui terinfeksi COVID-19.

Fang Fang menulis betapa dia “luluh lantak” mendengar kabar kematian itu. Dia lalu mengirim pesan ke teman-temannya: “Malam ini seisi Kota Wuhan menangisi Lin Wenliang. Saya tak pernah membayangkan seisi negeri juga akan menangisinya. Air mata yang orang-orang tumpahkan untuknya ibarat gelombang pasang yang melanda Internet. Malam ini Lin Wenliang berlayar ke dunia lain sambil dilepas oleh gelombang air mata.”

1 2Laman berikutnya

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button