Maret 2021Media Utama

Dalam Bayang-Bayang Kematian

Satu tahun sudah sudah seluruh penduduk dunia harus hidup melawan pandemi COVID-19 yang sampai detik ini belum juga berakhir. Jumlah kasus terkonfirmasi positif sempat mencapai puncaknya dengan angka 14.518 kasus pada 31 Januari lalu tapi kemudian cenderung turun dan mencapai 4.345 kasus pada 3 April lalu. Angka kematian juga demikian. Jumlah orang yang meninggal sempat mencapai puncaknya pada 28 Januari dengan 476 orang tapi cenderung turun menjadi 97 orang pada 2 April lalu. Kementerian Kesehatan per 31 Maret lalu mencatat total 40.858 orang meninggal karena terinfeksi virus SARS CoV-2 ini.

Beratnya perjuangan melawan COVID-19 tidak hanya dirasakan oleh para pasien dan tenaga kesehatan yang berada di garda depan serta keluarga yang harus kehilangan orang yang dicintai karena terjangkit virus SARS CoV-2 . Hal serupa juga dirasakan oleh petugas penunjang di fasilitas pelayanan kesehatan, sebagaimana dikisahkan Endang, pria yang sudah sejak tahun 1990 bertugas di instalasi pemulasaran jenazah Rumah Sakit Penyakit Infeksi (RSPI) Sulianti Saroso (RSPI SS).

“Paling berat saat penanganan di COVID-19 ini. Kalau flu burung kan wabahnya sebentar. Tetapi kalau COVID-19 ini sejak 2020 (rumah sakit) sudah menerima pasien dan sampai Maret 2021 masih terus berjalan,” kata Endang pada Mediakom pada 30 Maret lalu.

Sejak bulan Maret tahun lalu, menurut Endang, dia bersama rekannya di instalasi pemulasaran jenazah setidaknya sudah menangani 230 pemulasaran. Mereka yang meninggal, kata Endang, mayoritas sudah berusia lanjut. “Usia paling muda berumur 40 tahun dan yang paling tua 78 tahun pada tahun ini. Di tahun lalu, ada yang umur 30 tahun sampai 39 tahun dan paling tua di atas 70 tahun,” ucapnya.

Berdasarkan data Kementerian Kesehatan pada 26 Februari 2021, total ada 33,7 persen pasien COVID-19 yang meninggal di atas usia 65 tahun dan 28,4 persen berusia 55-64 tahun. Sebaran kelompok usia lain adalah usia 45-54 tahun sebanyak 19,8 persen, 35-44 tahun 9 persen, 25-34 tahun 5,3 persen, 15-24 tahun 2,3 persen, 5-14 tahun 0,8 persen, dan di bawah lima tahun 0,7 persen.

Menurut Direktur Pelayanan Kesehatan Rujukan Kementerian Kesehatan dr. Rita Rogayah, Sp.P., pasien yang meninggal umumnya disertai dengan penyakit penyerta  atau komorbid. Data kasus konfirmasi dengan penyakit komorbid yang dikeluarkan Kementerian pada tanggal 26 Februari lalu menunjukan bahwa beberapa penyakit penyerta yang menyebabkan kematian adalah hipertensi, diabetes, jantung, ginjal, penyakit paru obstruksi kronis, penyakit pernapasan lainnya, keganasan, gangguan imunologi, tuberkulosis, gangguan hati, dan asma.

Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Kementerian Kesehatan dr. Siti Nadia Tarmizi, M.Epid. menyatakan, persentase penyebab kematian terbesar adalah pasien yang disertai penyakit tidak menular. Namun, pasien COVID-19 yang menderita penyakit infeksi juga ada yang meninggal. “Orang yang positif COVID-19 dengan kematian paling banyak adalah hipertensi dan diabetes melitus. Penyakit lain juga ada, seperti HIV, tuberkulosis, dan kanker, tapi angkanya masih sangat kecil,” kata Nadia.

Menurut Nadia, penyakit menular biasanya disebabkan oleh infeksi dari luar tubuh. Jika sumber penularannya dibuang, maka akan hilang penyakit yang ada di dalam tubuh. Adapun penderita penyakit tidak menular mengalami gangguan fungsi tubuh yang berdampak pada cara kerja sistem tubuh sehingga harus ditangani dengan melakukan perubahan gaya hidup dan pengendalian faktor risiko.

Penyakit tidak menular, kata Nadia, tidak ada sumber penularannya, tidak ada bakteri atau virus, tetapi ada di dalam tubuh dan dalam sistem peredaran darah. “Itu yang membedakan penyakit tidak menular dengan penyakit infeksi,” kata dia kepada Mediakom pada Kamis, 1 April lalu.

Kematian tanpa disertai penyakit komorbid juga ditemui di Indonesia. “Kajian yang telah dilakukan oleh Direktorat Pelayanan Kesehatan Rujukan terhadap 137 pasien COVID-19 dari tenaga kesehatan menemukan 20 pasien  atau 14,5 persen meninggal tanpa penyakit penyerta,” kata Rita melalui keterangan tertulis kepada Mediakom pada Kamis, 1 April lalu.

1 2Laman berikutnya

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button